Langsung ke konten utama

Setahun Lalu


Sumber foto: slowbuddy.com


Setahun lalu, aku selalu terbangun oleh kerinduan yang mengusik dada agar berdebar kencang. Pada pagi yang tak pernah bosan mengirimkan kisah sederhana.

Setahun lalu, aku sering tersenyum bahkan tergelak setiap kali menatap layar ponsel dan menemukan namamu di sana. Juga berbaris canda konyolmu.

Setahun lalu, aku kadang lupa pada waktu. Hingga tak terasa obrolan kita telah membunuhnya lebih cepat. Kembali malam merisaukanku. Takut betul jika pagi esok tak lagi menyuguhkan kisah kita yang sama.

Ya, setahun lalu, aku kadang tak rela jika mataku menuntut untuk terpejam. Terlampau aku ingin canda kita tak lekas putus.

Setahun lalu, tak ingat berapa kali kita ribut untuk hal sepele. Membuatku tak nyaman dan terjaga hingga dini hari. Dan tak jarang aku dibuat kau menangis berjam-jam. 

Setahun lalu, seingatku kau pernah mendiami satu tempat penting dalam pikiranku.

Setahun lalu, kita pernah mengandaikan apa yang akan terjadi setelah enam tahun kemudian. Kuminta kau menikahiku. Tentu saja itu hanya candaan. Begitu untukmu, lain lagi denganku. Aku tak sekadar mengganggapnya sebuah candaan. Melainkan doa yang kubiarkan mengawang, menguntai anak tangga hingga sampai ke singgasana Sang Maha Cinta. 

Setahun lalu, aku tak pernah memikirkan apa yang kemudian terjadi setahun berikutnya. Kukira kita akan baik-baik saja.

Karena setahun lalu, aku tak pernah membayangkan bahwa pada hari ini kita terasa seperti orang asing. Kita yang kehilangan kenangan.

Kita yang kehilangan rasa. 
Kita yang kehilangan canda. 

Hari ini, setahun lalu, aku merasakan hati yang menghangat tiap kali kau hadir.
Ya. Hari ini, setahun lalu, kita pernah terasa dekat. 
Terasa sama. 
Terasa sederhana.


Komentar

  1. Duh, jadi ini nyeritain tentang betapa indahnya masa-masa dulu pas masih sama seseorang. Dan seiring waktu, orang itu.. Menghilaaang.

    BalasHapus
  2. Ngga benar-benar menghilang, orangnya masih ada, cuma jadi agak berjarak aja :))
    hehehe...
    Makasih udah mampir :)

    BalasHapus
  3. Mungkin jenuh, Ti. Apalagi kalau ketemunya tiap hari. Ya dinikmati sajalah jarak untuk saat ini. *apasih gue* Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak ketemu tiap hari juga, kan. paling sering ya sebulan dua kali ketemu. berat diongkos euy. *kita lagi ngomongin yang mana, sih ini?*

      Hapus
  4. sesuai permintan, ini aku komentari ya

    gini ada sesuatu yang missed mungkin ketika titi tulis



    bait

    aku selalu terbangun oleh kerinduan yang mengusik dada agar berdebar kencang

    terbangun menandakan sebuah ketidak sengajaan, sedangkan agar berdebar menandakan sesuatu yang dicari, semacam disengaja

    diperhatikan lagi pemilihan diksinya, ti, ada beberapa yang membuat puisinya menjadi kurang kuat, bukan berarti kamu harus pilih diksi yang jarang dipakai atau lebih kuat, no, sesuaikan dengan puisinya, ibarat kata when you speak in english, tiba-tiba ada bahasa indonesia nyempil sedangkan orang yang kamu ajak ngomong enggak ngerti, gitu

    udah ya sesuai dengan permintaan aja ini mah, bisi disangka sotoy wkwkw

    -tengs, sorry shift error-

    BalasHapus
    Balasan
    1. okeh, nuhun teteh.. dih sotoy kenapa coba? hahaha. iya sih kadang aku kurang merhatiin pemilihan katanya, cuma ngandelin enak dipasangkan dan keliatannya pas, seketemunya aja teh di kepala, hahaha :D
      abis ini, berlatih lagi deh ;)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Pagi Masih Menyapa

Sumber foto: pinterest.com Selamat datang kembali, Pagi! Apa kabarmu hari ini? Kau tampak tak secerah biasanya. Saat membuka gorden dan jendela kamarku tadi, sinarmu tampak redup kulihat. Apa karena awan mendung yang sudah mendahuluimu terjaga dari tidur lelapmu? Hingga kau terlambat menyapa bumi? Kuharap kau baik-baik saja dan lekas hadir bersama kami, para manusia bumi, yang menanti kisah baru yang kau suguhkan. Ya, kami, para penanti untuk kau ajak dan juga kau percayakan untuk merasakan hidup sehari lagi.  Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis surat ini untukmu. Namun aku tak pernah tahu harus kutitipkan kepada siapa agar sampai kepadamu. Kepada angin? Aku tak begitu percaya padanya. Ia sering kali mengacau. Pokoknya ribut sekalilah dia itu. Takut-takut jika kutitipkan surat ini pada angin, ia tak langsung menyampaikannya padamu. Ia pasti akan berkeliling dahulu ke belahan bumi lain dan bisa saja suratku malah jatuh entah di belahan bumi mana. Kepada petang? ...