Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #puisi

Di antara Gesa

Photo by Pablo Heimplatz on Unsplash Ini terasa mudah, dan cepat. Tapi, semoga tak terburu-buru. Ini terasa mudah, karena kamu membuatnya jadi begitu. Tak banyak usaha untuk membuatku suka. Semoga tak tergesa. Ini terasa mudah, karena rasa kita jatuh di tempat yang sama. Semoga kita tak lagi diburu. Ini terasa mudah. Harap tak lekas membuat kita berubah, lalu rasa itu ikut punah. Semoga kita tak lagi ada di antara gesa.  Jakarta, 28 Juli 2018 23:54

Nyanyian-nyanyian

Image credit: somebeatifulsonglyrics.Tumblr.com Kita senang berdendang. Bersahutan hingga serak parau suara-suara kita. Kita gemar bersenandung. Melantunkan lirik penuh hentak, atau yang bernada lirih duka. Kita menyanyikan banyak lagu-lagu, tanpa malu-malu. Tapi bila bersama, apalah jadinya nyanyian kan terdengar. Kau bernyanyi lagu penuh suka cita, dan cinta. Sedang aku, melulu hanya tahu lagu sendu, mengharu biru. Bogor, 30 Mei 2016

Perbuatan Tuhan

Image credit: littleprincessbubble.blogspot.com Apa yang ingin kau benci? Jika niat-Nya hanyalah untuk mempertemukan, bukan untuk mempersatukan. Sungguh Ia tahu apa yang berderu dalam hatimu. Juga apa yang bergemuruh dalam kepalamu. Hadir-Nya sangatlah dekat. Sangat dekat hingga Ia hapal untuk apa derai air matamu. Hingga Ia tahu untuk siapa sesak rindu di dadamu. Ia ada saat kau jatuh cinta, bahkan kini patah hati kau rasa. Ia ada di setiap degup jantung, setiap kau menatapnya. Atau kala diam-diam kau terisak jika ia tak ada. Apalah yang sampai membuatmu benci? Jika Ia Maha Tahu kepada siapa kelak bahagia hatimu kan bermuara. Apalah yang sampai membuatmu benci? Jika Ia mendekapmu setiap sesak hingga tangis itu tumpah ruah. Apalah yang membuatmu benci? Jika saat kau tak pernah dipersatukan olehnya, tapi Ia tengah merencanakan menyatukanmu dengan sosok yang lain. Yang lebih baik, yang lebih indah, yang lebih mencintai. Bogor, 29 Mei 2016 ...

Hujan Turun, Sayang

Image credit: lovethispic.com Jangan keluar, di rumah saja. Hujan mulai turun, aku tidak sedang bersamamu. Tak ada aku yang memayungimu, atau mendekap hangat lenganmu. Kecuali dia mau, menemanimu melewati rintik, tak menghiraukan dingin menusuk kulit. Tapi aku tidak yakin. Jangan ke mana-mana, di luar hujan mulai berderai. Kita seduh saja kopi, duduk di teras, dan bertukar cerita. Menyaksikan malam menjadi larut, dan mata kita kian mengantuk. Bogor, 28 Mei 2016

Seperti Ini Caraku

Image credit:  pexels.com Aku mungkin banyak meminta Terkadang juga menuntut Tapi, Jangan lantas biarkan adanya aku buatmu berhenti bermimpi,  berlari, atau mencintai Cinta itu perlu jujur, kalau memang tidak merasa,  bukan berarti kau bersalah. Jika memang tidak ada cinta yang benar-benar membebaskan,  bantu aku menjadi salah satu yang melakukannya. Aku bukanlah jerat akar yang membuatmu tersandung lalu jatuh. Aku bukanlah dinding tinggi yang menghalangimu melihat dunia luar. Bukan pula kunci kamar yang mengurungmu lama di dalam hingga sesak dan penat. Kau punya kaki yang bebas melangkah  Juga mata untuk menatap,  serta hati untuk memilih jatuh di hati yang lain. Dan, bolehkah aku menjadi terang saat gelapmu datang menghalangi langkah? Bolehkan aku menjadi angin yang mampu menerbangkan setiap mimpimu, juga hasrat di hatimu? Dengan cara ini kuharap cinta tak menjadikanku seorang yang patah dan membenci.

Kuberi Tahu

Image credit:  pexels.com Sayang, kuberi tahu Saat nanti senja datang, mungkin ku kan merupa hujan Tuk membasuh lara yang menggantung di wajahmu Kalau bukan hujan, mungkin ku kan menjelma angin Menerbangkan semua rasa sakit di hatimu Atau, cukupkah aku menjadi diriku sendiri saja? Agar dapat kau genggam tangan ini, tuk membimbingmu pulang Ya, rasanya cukup jadi diriku saja Rumah untuk hatimu kembali

Dengan atau Tanpa Dirimu

Sumber foto: pinterest.com Menghabiskan waktu bersamamu, kusebut sebagai sebuah perjalanan. Meski pada akhirnya langkah kaki kita berujung di kedai kopi atau kedai mi pinggir jalan. Kalau dengan adanya dirimu adalah sebuah perjalanan, apakah ketidakhadiranmu- tanpa adanya dirimu-masih dapat kusebut sebagai perjalanan? Perjalanan tetaplah perjalanan, dengan ada atau tidaknya dirimu. Denganmu atau tanpa dirimu. Jika kulakukan seorang diri, itu tandanya aku tengah memberikan ruang, memberi sedikit jeda untuk kita. Juga memberimu kebebasan melakukan hal-hal yang kau sukai. Karena bagaimana pun, kau memiliki duniamu sendiri. Kalaupun aku harus melakukannya seorang diri, perjalanan itu, itu juga tandanya aku tengah belajar dan mempersiapkan diri sekaligus, jika esok kita harus benar-benar berjalan masing-masing.

Setahun Lalu

Sumber foto: slowbuddy.com Setahun lalu, aku selalu terbangun oleh kerinduan yang mengusik dada agar berdebar kencang. Pada pagi yang tak pernah bosan mengirimkan kisah sederhana. Setahun lalu, aku sering tersenyum bahkan tergelak setiap kali menatap layar ponsel dan menemukan namamu di sana. Juga berbaris canda konyolmu. Setahun lalu, aku kadang lupa pada waktu. Hingga tak terasa obrolan kita telah membunuhnya lebih cepat. Kembali malam merisaukanku. Takut betul jika pagi esok tak lagi menyuguhkan kisah kita yang sama. Ya, setahun lalu, aku kadang tak rela jika mataku menuntut untuk terpejam. Terlampau aku ingin canda kita tak lekas putus. Setahun lalu, tak ingat berapa kali kita ribut untuk hal sepele. Membuatku tak nyaman dan terjaga hingga dini hari. Dan tak jarang aku dibuat kau menangis berjam-jam.  Setahun lalu, seingatku kau pernah mendiami satu tempat penting dalam pikiranku. Setahun lalu, kita pernah mengandaikan apa yang akan terjadi se...

Tanya

Sumber foto: wallpoopers.com Tanya Apakah pernah kau balas sapa suara yang mengetuk pintu kamarmu pada pukul lima pagi? Sempatkah kau rangkul rindu yang mengekor di balik punggungmu? Apakah pernah kau tangkap senyum malu-malu dan rona merah di pipi kala mata kita tak sengaja bertaut? Atau, apakah pernah kau tanya pada siapa hati ini sering kali pilu padahal kau selalu ada bersamaku?