Langsung ke konten utama

Masih Ada Hari Esok untuk Kita




Setelah menyelesaikan revisian di beberapa bagian skripsi, saatnya menyiapkan beberapa lembar halaman tambahan untuk abstrak dan kata pengantar. Seperti halnya dengan ucapan terima kasih yang selalu ada di halaman depan sebuah novel, kata pengantar yang akan aku buat pun nggak jauh berbeda dalam hal isinya. Aku sisihkan dua halaman penuh untuk diisi dengan ucapan yang akan aku tujukan kepada pihak-pihak yang telah banyak membantuku dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk memudahkan membacanya, aku buat dengan menggunakan poin-poin. Setelah ditujukan kepada keluarga, dosen pembimbing, dan para sahabat, ada ruang untuk menambahkan satu ucapan terima kasih lagi. Awalnya nggak kepikirkan sama sekali akan ditujukan kepada siapa lagi, karena saat itu hanya mereka yang terpikirkan-keluarga, dosen, dan sahabat. Sampai ponselku bergetar singkat dan layarnya menampilkan notifikasi sebuah chat masuk di WhatsApp, aku lantas mulai mengetikan beberapa baris kalimat ucapan terima kasih tambahan untuk poin terakhir. Begini kira-kira ucapannya:

"Notif! Magz, sebagai keluarga baru bagi saya. Terima kasih untuk kepercayaan, kebersamaan, dan ilmunya. Terus berkarya, ya!"   

Ya, ucapan terima kasih itu jatuh kepada mereka: rekan kerja, sahabat, dan keluarga baruku. Mereka termasuk orang-orang terdekatku saat ini, yang mengikuti dan menemani perjalananku dalam menyelesaikan skripsi. Mereka yang dengan kehebohan dan keseruannya selalu membuat ledekan juga becandaan mengenai skripsiku. Mereka, mungkin dengan tanpa mereka sadari, banyak meringankan penat ketika aku hampir menyerah dan frustasi menghadapi perbaikan berkali-kali. Dengan melihat obrolan mereka di grup WhatsApp kami dan ikut menimpali ini itu, aku dapat merasa relaks barang sejenak. Kadang, tanpa ikut nimbrung obrolan yang ada dan hanya menontoni mereka, itu udah cukup banget banget buat menjadi hiburanku. 

Jadi ingat, bulan ini bulan kesembilan aku bergabung dan menjadi bagian dari Notif! Magz. Berkumpul dan bertemu dengan orang-orang hebat yang selalu punya mimpi besar, yang mempunyai keinginan untuk terus belajar dan mengasah kemampuan, yang ingin berbagi untuk satu sama lain. Dan yang terpenting untuk menjadi bagian yang saling melengkapi. 

Ingat juga pertama kali ngedit tulisan buat content edisi yang mau terbit. Masih kaku banget (kalau kata Teh Dewi, kaku kayak BH baru :D) dan nggak mendalam, cuma ngotak-ngatik EYD-nya aja. Terus pas dikasih kepercayaan buat ngedit puisi, itu bagian dari momen yang tak terlupakan, deh. Sampe kena tegur pimred berkali-kali, saling adu argumen antara pimred dan editor yang berujung pembahasan panjang lebar yang menegangkan di grup. Waktu itu aku masih polos dan jadi nurut banget sampe takut ngelakuin kesalahan (sekarang mah udah jago kalau dimarahin si Teteh, hihihiw :p). Oh, oh... momen yang tak terlupakan lainnya itu pas cerpenku dibilang "BORING AS HELL" sama pimred!! It was such a horrible moment. A very horrible moment in my life pokoknya. Sebagai penulis dan editor pemula dan amatiran, gimana nggak shock coba dapet tanggapan kayak begitu. Udah aja tanggapannya cuma begitu doang dan minta diganti. Kan sakitnya tuh di mata. Perih bacanya, men.... Dan masih banyak kejadian dan pengalaman seru lainnya selama aku bergabung dengan Notif!.

Walau dari ceritaku di atas kelihatannya kami seru-seru aja, tapi bukan berarti kami luput dari salah paham, cek-cok soal ini itu, bersitegang, dan berantem. Ada waktunya kami harus menghadapi momen-momen seperti itu. Menyatukan banyak kepala yang punya banyak ide bukan perkara mudah. Rasa ingin ditanggapi dan diakui akan selalu ada. Ditambah juga dengan mood dari masing-masing kami yang nggak selalu stabil. Apalagi kami melakukannya tanpa tatap muka. Penyampaian maksud satu orang akan memiliki penafsiran yang berbeda untuk orang lain. Agak sedikit riskan karena dilakukan hanya dengan texting, chatting. Kalau udah begini, nggak jarang penyelesaiannya bisa berhari-hari. 

Sebagai yang termasuk anak bawang soal berada dalam pekerjaan seperti ini, kadang membuatku kewalahan. Bingung harus nanggapinnya seperti apa, takut-takut bukannya memberi solusi malah memperburuk suasana yang lagi keruh. Tapi dari sana pun aku bisa ambil banyak pembelajaran moral soal kehidupan (cieleh bahasanya, Neng, tingkat atas banget!). Bahwa terkadang kita lupa kalau orang lain pun sedang menghadapi masalahnya yang lain saat kita ingin didengar tapi nggak mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahwa kita nggak bisa selalu, bahkan selamanya, menuntut orang lain untuk menjadi sempurna. Tapi bukan berarti kita jadi asal-asalan dan melakukan semaunya. Nggak menuntut sempurna, tapi tetap memberikan dan mencoba yang terbaik. Bahwa ada saatnya kita saling melakukan kesalahan. Sama halnya dengan kita nggak bisa harus selalu menyenangkan orang lain. Sebagai team work, yang kita perlu ingat adalah untuk saling menghargai, menerima tapi juga mengingatkan untuk ke arah yang lebih baik lagi. Tapi dibalik itu semua, kita pun sebenarnya saling mengisi, membutuhkan, ketika kita berulang kali melakukan kesalahan. Kita pun saling mengasihi dengan cara yang berbeda. Menaruh keinginan untuk bertemu dan berkumpul bersama. 

Aku menemukan sosok keluarga lain di Notif!. Kebersamaan. Saling percaya. Melindungi dan membela. Menegur dan memperbaiki. Bertengkar lalu baikan. Saling ledek dan membuat lelucon. Saling menebar tawa, haru, dan tangis (eh, pernah nggak sih ada momen mengharu biru di kita? hehehe). Mendukung dan menyemangati. Bukannya itu adalah hal-hal yang terjadi selayaknya pada keluarga sungguhan?

Mungkin ini juga yang menjadi alasan aku menulis ini, untuk menjadi pengingat buat kita semua kalau kita udah banyak banget melewati momen bareng-bareng. Menghabiskan waktu dengan membahas banyak hal. Juga belajar banyak hal. Buatku Notif! semacam energi yang bisa mengisi ulang mood akibat jenuh. Semacam sekolah tempat belajar macem-macem, mulai dari editing, nulis cerpen dan puisi, sampe copywriting dan CV (nggak jarang berasa kayak sekolah alam yang menuntut buat jadi tangguh kayak Tarzan karena sering kena semprot pimred). Semacam teman bermain yang menyediakan banyak hiburan. Semacam rumah tempat pulang setelah lelah seharian beraktivitas di luar. Semacam tempat latihan militer yang menuntut kedisiplinan, kepatuhan, dan ketepatan waktu. 

Aku bukan Teh Windri (@cappucinored) yang bisa mengabadikan momen lewat jepretan kameranya, atau Jung (@jungjawa) dan Alif (@ALIFbathasa) yang bisa memerangkap momen dengan gambar dan desainnya. Aku cuma bisa mengenang kita lewat kata-kata dalam tulisan ini, yang mungkin nanti akan tertimbun oleh tulisan lainnya, lalu terlupa begitu aja. Tapi setidaknya aku pernah mengabadikan kebersamaan kita di sini. 

Sama dengan ucapan terima kasih dalam halaman kata pengantar skripsiku, aku mau mengucapkannya lagi di sini. Terima kasih untuk segalanya, untuk kepercayaan dan kebersamaannya, obrolan hingga tengah malamnya, untuk karya-karyanya, untuk mimpi-mimpinya, untuk rasa saling memilikinya, untuk pertengkaran dan maafnya, untuk semangat dan dukungannya, untuk saling memberi dan menerima. Terima kasih udah menjadi satu dari sekian penyebab yang membuatku berubah dan berkembang. 

Semoga kita masih akan terus seperti ini sampai bertahun-tahun ke depan. Semoga masih ada kata 'esok hari' untuk kita. Semoga kita bisa memberikan karya yang terbaik lagi dan lagi. Kalaupun nanti ada waktunya kita harus berhenti dan berjalan dengan karyanya masing-masing, semoga kita masih akan saling berteman baik. Ingat (lagi) dengan sebaris kalimat pembuka dari novel yang lagi dibaca, Time After Time-nya Aditia Yudis (yang katanya kenalan Dza, @unidzalika), yang bilang "Pada akhirnya, apa yang dimiliki hanya kenangan." Sama kayak hari ini dan sebelum-sebelumnya yang pernah kita miliki, akan tinggal jadi sebuah kenangan. Tapi semoga kita di hari ini bisa menjadi sebuah kenangan yang manis, yang menjadi penyebab kesuksesan kita di waktu lain nantinya. 

Okay, guys, gitu aja. Selamat malam minggu. Selamat berakhir pekan. Selamat ngopi :)

Komentar

  1. Well said, Ti. It is not as boring as hell, fortunately. Glad to hear that you get 'something' from our magazine. I hope that you will keep studying for your dream.

    Follow your dream, we got your back.

    BalasHapus
  2. Seperti halnya tema edisi 10 Notif! Magz "Never ending stories" semoga masih dengan tanda baca koma bukan titik.
    sama kayak teh dewi di atas, glad to hear that you get something from our magazine
    *bighug*

    BalasHapus
  3. Pokoknya makasih buat ilmu dan didikannya. Aku nggak akan janji banyak akan selalu memberikan yang terbaik buat Notif! tapi aku akan selalu mengusahakan memberi yang terbaik dan belajar terus.. *beuh serius amat dah :p*

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...