Langsung ke konten utama

Perempuan-perempuan Tangguh


Image credit: agirlikeme.com


"Teh, minggu ini mau pulang apa nggak?" 

Pertanyaan rutin Mama di setiap menjelang akhir pekan melalui telepon ini terkadang menjadi pertanyaan yang bingung dijawab, antara jawab iya atau nggak. Pulang ke rumah setiap minggu juga bukan lagi kegiatan yang mudah dilakukan. Bukan karena pekerjaan yang seakan nggak ada habisnya atau cuaca yang terlampau buruk, sehingga perjalanan dari Rawamangun, Jakarta Timur-Bogor berisiko untuk ditempuh. Nggak ada badai tornado, badai halilintar, salju ataupun pasir yang bisa jadi kendala. Paling hanya hujan deras disertai angin yang karena seringnya terjadi dan dialami di Bogor jadi udah nggak reuwas lagi kalau tiba-tiba di jalan kejebak hujan (meski rasa deg-deg-an dan takut ketiban pohon tumbang selalu ada). 

Lalu, apa yang membuat saya enggan pulang sering-sering dari kostan yang terletak di Pemuda ke rumah di Bogor yang masih bisa ditempuh satu setengah sampai dua jam pake bus dan kereta ini? 

Nah, itulah jawabannya-masalah transportasi. Awalnya saya nyaman naik APTB jurusan Bubulak-Rawamangun, tapi mulai kerasa nggak nyaman ketika melalui TOL-nya. Macetnya parah banget. Kalau berangkat Senin pagi, jam 5 sehabis shalat subuh harus udah jalan buat ngejar bus pertama. 6.30 bus biasanya baru jalan dari terminal Bubulak. Kena macet di TOL, nyampe kantor bisa jam 10. Kalau mau pulang di Jumat sore sehabis ngantor, kendalanya adalah jam operasi bus yang cuma sampai jam 8 malam. Kadang kalau ada lembur, jadi grasak-grusuk ngeburu waktu bus terakhir yang lewat. Solusi dari naik bus ini adalah pulang Sabtu pagi dan balik Minggu sore. Tapi apa yang saya rasakan? Baru nyampe rumah, 'nginep' cuma semalam, besokannya harus udah balik lagi ke kostan. Capek jujur aja. Jadi mending di kostan, nggak usah pulang. 

Setelah curhat dan diskusi ini-itu sama Mama soal jadwal kepulanganku ke rumah, diambillah solusinya, yaitu pulang ke rumah dua minggu sekali, biar nggak capek-capek teuing di jalannya. Tapi lagi-lagi ada kalanya ada hal-hal yang mengharuskan pulang ke rumah. Kondangan lah, si Mama sakit lah, si Dede (ponakan) ada lomba dan pengen tantenya ngikut lah, dll. dsb. Akhirnya diputusin nggak naik bus lagi, tapi pake kereta. Jumat malem masih bisa pulang, Senin pagi masih bisa ngeburu kereta kalau Minggu sore masih pe-we di rumah. Nyatanya, dugaan kalau naik kereta bisa semakin memudahkan, jauh dari harapan. Malah rasanya kereta lebih ganas dan sadis dibandingkan bus. Desak-desakan, saling dorong, dan kegencet udah jadi hal biasa memang. Saya sendiri pun udah lumayan sering mengalaminya, tapi tetap masih belum terbiasa. 

Di sini saya akan lebih bercerita soal gerbong kereta khusus perempuan. Seorang teman saya baru saja men-share artikel mengenai hal yang sama, yang jadi menggelitik hati sanubari (elah lebay :p) dan jari-jari ini buat bercerita pengalaman selama bolak-balik Bogor-Jakarta naik kereta. Gerbong khusus wanita adalah arena pertarungan sesungguhnya, memang rasanya tepat. Perempuan, yang katanya berhati lembut, halus, dan sering dianggap lemah, tapi kalau udah di kereta bisa jadi ganas dan sadis. Faktor kebutuhan dan lingkungan membuat para wanita berubah. Kenapa saya bisa bilang begini? Karena saya mengalami sendiri gimana dalam situasi dan kondisi kereta di jam-jam padat, bisa saling melukai, baik secara verbal maupun fisik. Adu mulut, injak-injakan, bahkan mungkin sampai jambak-jambakan, cakar-cakaran, dan pukul-pukulan pernah juga terjadi. Buat apa? Buat mempertahankan dirinya sendiri agar bisa memenuhi kebutuhan mereka untuk dapat cepat pulang. Orang yang mau turun aja belum keluar, tapi udah ditahan yang ngebet pengen naik. Serem sendiri kalau liatnya...

Udah nggak berlaku lagi, deh, yang namanya toleransi, tenggang rasa, dan saling mengasihi dalam situasi seperti ini. Semuanya memikirkan dirinya sendiri. Yang kelihatannya lemah, cantik, lembut, dan halus, kalau udah berurusan sama kereta, jangan dipikir sama. Bisa aja dia berubah beringas, kan? Perempuan-perempuan ini dituntut tangguh dan berani. Lembek sedikit, udah deh jadi dendeng. Melihat hal ini, saya merasa diri saya masih lemah, lembek, yang ke dorong dikit udah tumbang. Walaupun nggak naik dua kali setiap harinya, saya tetap belum terbiasa. Saya juga merasa gagal menjadi anak rantau Ibu Kota hiks :'(. 

Pulang ke rumah jadi 'barang istimewa'. Dibutuhkan kesiapan jasmani dan rohani yang kuat (hahaha kayak apaan tau, ya? :D). Sekalian nih, saya mau berbagi tips buat kalian para perempuan newbie yang ngekost dan harus pake jasa Commuter Line buat mengadu nasib bekerja di Jakarta dan sekitarnya. 

1. Pastikan fisik kamu sehat dan kuat. Sebelum pergi atau pulang naik kereta, sebaiknya makan dulu, deh. Karena naik kereta bisa sangat menguras tenaga. Ini kejadian saya minggu lalu pas pulang dari Sudirman ke Depok. Dari kantor perut masih kerasa kenyang banget dan niatnya nggak akan makan besar di Depok pas ketemuan sama temen. Tapi setelah diaduk-aduk selama di kereta dan diri pula, dan harus sabar kegencet lebih lama lagi karena nunggu sinyal masuk kereta di Stasiun Sudirman, hasilnya adalah pas nyampe Depok saya sangat-sangat kelaparan (dan kaki gemeteran).

2. Kalau nggak diburu waktu pas pulang kerja, mending ambil jadwal kereta yang lebih malam. Karena biasanya jadwal kereta yang lebih malam itu udah lumayan agak kosong dan nggak terlalu desak-desakan. 

3. Pulang ke rumah dua minggu sekali. Ini bukan nggak sayang sama orangtua yang ditinggal merantau, tapi ini juga berkaitan dengan kesehatan kamu. Pulang seminggu sekali dengan kekejaman transportasi umum yang seperti itu, hanya buat kamu capek dan tua di jalan. Kamu juga perlu waktu istirahat dan me time

4. Kalau udah di rumah dan mau balik ke kostan, mending balik Minggu sore atau malam. Senin pagi naik kereta itu....kejam, Girls, buat kita-kita yang masih polos ini, hahaha :D

5. Pilih gerbong campuran, karena gerbong ini kadang lebih ramah. Saya sampai sekarang masih lebih milih buat naik di gerbong ini. Yaa, memang risikonya tetap ada, tapi kalau buat saya, it's better menghindari masalah dengan sesama perempuan. Itu jauh lebih melelahkan dan menguras tenaga dan emosi hehehe :p.

6. Terakhir, stay cool, humble, dan 'cantik' meski di kereta kita menghadapi banyak hal dan kejadian nggak menyenangkan. Kalau ada sesama perempuan yang nyinyir karena nggak sengaja keinjak oleh kita, atau kepalanya yang nggak sengaja kesikut sama kita dan marah-marah, jangan dilawan samanya. Simpan energimu untuk sisa perjalanan yang penuh derita itu. Berikan tempat duduk untuk mereka yang membutuhkannya. Ingat, semuanya capek dan ada keinginan kuat untuk bisa duduk, tapi kenyataan lebih pahit dari harapan, kan? Saat yang lain berubah menjadi menyeramkan dan menyebalkan, kamu nggak usah ikut-ikutan, deh. Jadi cewek cool aja 8-).

Pernah ngalamin keinjak high heels dan yang nginjak nggak merasa bersalah karena dia pikir, "This's a public places, Honey. If you want a comfort place, just stay on your bed all day."? Meski nggak sengaja, minta maaf mah perlu atuh, ya? Kalian yang punya pengalaman unik selama naik kereta, sharing juga, dong! Kali aja kita berjodoh *eh :p


Regards,
T

Komentar

  1. semangat Mbak! ^-^
    hihi soal kereta aku belum banyak pengalaman karena baru merasakan dua kali naik kereta, dari Serang-Yogya dan Yogya-Setang XD
    tapi nggak desek-desekan sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, aku malah belum pernah ngalamin naik kereta jarak jauh gitu, dan pengen banget ngerasain hihihi (norak :p). Commuter Line Jabodetabek itu keras huft -_-

      Terima kasih sudah baca :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...