Langsung ke konten utama

Chocolate Cupcakes di Hari Rabu

Image credit: lifeofpix.com


Sekali dalam seminggu, di hari Rabu, ia akan datang ke Sally Cupcake pada pukul empat sore. Memesan dua chocolate cupcake dan secangkir earl grey tea lalu duduk di sudut toko. Kadang-kadang sambil membaca sebuah buku tebal yang kertasnya tampak mulai menguning. Atau asyik menggores pena di atas sebuah buku catatan bersampul kain beludu merah marun dengan jahitan inisial huruf A dari benang berwarna emas. Mungkin puisi atau agenda kegiatannya yang ia tulis di sana. Beberapa kali sibuk mengetik sesuatu dalam laptopnya. Tapi tidak pernah berlangsung lama. Setelah satu atau dua menit jari-jarinya akan berhenti menari di atas tuts keyboard, lalu ia akan bergeming di kursinya hingga ia menghabiskan cupcake yang kedua. 

Namun, seringnya ia melamun. Memandang entah apa ke luar jendela di sisi mejanya. Mungkin anak kecil yang lewat dengan sepeda roda tiganya. Mungkin juga para pekerja yang memperbaiki jalanan yang rusak. Bagaimana jika tidak ada apa-apa di luar sana kecuali daun yang gugur dan rintik hujan yang berderai?

Sekali dalam seminggu, di hari Rabu, ia akan datang mengenakan mantel hitam, abu-abu, atau merah menyala. Hanya ketiga itu, tidak ada warna lain. Begitu juga dengan alas kakinya, flat shoes dengan aksen pita kecil berwarna cokelat tua berbahan kulit mengilap. Rambutnya selalu dikuncir ekor kuda tanpa poni. Bibirnya bersemu merah dadu. Matanya selalu sendu, apalagi jika hujan sedang turun deras-derasnya. Ketika itu pula, ia akan datang dengan payung hitam di tangannya dan sepatu bot senada dengan payungnya.

Sekali dalam seminggu, di hari Rabu, ia akan datang ke Sally Cupcakes dan memesan dua chocolate cupcakes dan secangkir earl grey tea, lalu menghabiskannya dalam diam. Hening yang panjang. Hening yang menyesakkan. Ia adalah seorang wanita yang begitu sepi yang pernah duduk di Sally Cupcakes. Ia tampak seperti sesuatu yang tidak menyatu dengan dunia sekitarnya. Seakan ada pelindung tak kasat mata yang melingkupi dirinya dari situasi yang mengelilinginya. Seakan ia berbeda, begitu lain dengan sekelilingnya, dan sepertinya memang itulah yang ia kehendaki. Ia ibarat sebuah planet kecil yang bergerak berlawanan arah dari arah orbit planet lainnya. Pemandangan yang sungguh kontras dengan suasana Sally Cupcakes yang penuh warna dan beraroma manis dari gula dan buah-buahan segar. 

Ia adalah wanita dengan jiwa yang sepi, juga terluka. 

***

Pada akhirnya pertanyaan itu terlontar juga, setelah dua kali musim gugur berlalu di Sally Cupcakes.

Apa yang sedang kamu lakukan selama ini?

"Aku selalu takut mendapat pertanyaan seperti ini. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku lakukan. Awalnya, aku hanya ingin menunggu, berharap ia akan datang. Tapi rasanya apa yang lakukan ini hanya membuatku terjebak atas perbuatanku sendiri. Pikiran serta tubuhku terlanjur terbiasa dengan ini, hingga sampai akhirnya aku menyadari, aku telah tersesat terlalu jauh."

Ia menghidu sisa-sisa uap dari cangkir tehnya dan meyesap sedikit isinya sebelum ia melanjutkan rahasianya selama ini.

"Kau tahu, seperti sudah terbiasa dan saat kau ingin berhenti kau tidak dapat melakukannya. Karena saat memutuskan berhenti, pikiranmu mengatakan kau akan kehilangan dirinya untuk selama-lamanya, juga mengukuhkan kepergiannya. Aku menunggu selama ini agar aku tidak benar-benar kehilangan dirinya. Bukankah saat kau menunggu itu artinya dia akan kembali?"

Lalu?

"Aku melewati jalan yang ia lewati setiap hari. Memesan cupcakes dan teh kesukaannya setiap Rabu. Mengenakan pakaian dengan warna-warna kesukaannya. Membaca buku yang ia hadiahkan di hari ulang tahunku berulang kali. Menuliskan kalimat yang sama di dalam catatanku. Aku selalu bertanya-tanya hal yang selalu sama setiap harinya: apakah ia mengingatku seperti aku mengingatnya? Apakah ia menyimpan rindu yang sama seperti diriku? Apakah ia mengenal baik diriku selayaknya aku mengenal setiap sisi diri juga hidupnya? Apakah ia menganggapku sama seperti aku memandangnya, yang penuh arti dan menjadi prioritas? Dan apakah tidak ada cinta yang ia simpan dalam hatinya seperti aku kepadanya?"

Kau jatuh cinta pada orang yang tidak membalas cintamu.

"Begitu kata sahabat-sahabatku."

Berhentilah. 

"Aku pun ingin. Dunia di sekitarku terus bergerak maju. Sedang aku masih saja diam di tempat yang sama bertahun-tahun. Menjaga semua hal tetap di tempatnya tepat seperti di hari terakhir ia pergi. Berpikir dengan begitu ia tidak akan benar-benar pergi. Namun nyatanya aku menyakiti diriku semakin sering. Dan ia tidak pernah kembali."

Sudah saatnya kamu berbahagia.

"Begitukah seharusnya aku?"

***

Ia tidak datang di hari Rabu minggu berikutnya. Ia baru tampak membuka gagang pintu Sally Cupcakes pada hari Minggu. Muncul dari arah yang berbeda dan mengenakan blus berwarna kuning cerah. Rambutnya ditata lain, sepertinya habis dipotong. Sendu di matanya berubah binar. 

Dua chocolate cupcakes dan secangkir earl grey tea?

"Terima kasih, tapi tidak untuk hari ini. Satu blueberry cupcakes berukuran sedang dan secangkir green tea."

Membaik?

"Kurasa, ya. Ia akan datang jika ia menghendaki untuk datang, di tempat dan waktu yang tepat. Ia akan tetap pergi jika ia memang menghendaki pergi, meski aku berusaha mati-matian agar semuanya tetap sama. Tapi aku menghendaki kebahagiaan untuk diriku sendiri."

Pipi itu merona untuk pertama kali di musim gugur kali ketiga ia datang ke Sally Cupcakes.  

Komentar

  1. Menunggu itu sangat melelahkan, tapi aku adalah wanita penunggumu. Sabar dan dengan senyuman lebar aku menunggu, tapi aku tahu kamu tidak akan pernah menghampiriku, sekarang aku tahu bagaimana rasanya menunggu orang yang tidak pernah tau bahwa aku sedang menunggu nya. Cuma sesal di akhir, hiks (sedikit curhat deh).
    Mungkin harus ngambil langkah beda yah, heheeh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...