Langsung ke konten utama

#Surat Ketiga (Menanti SMS darimu)


Minggu, 19 Januari 2014
17.06 WIB
 
Aku hanya berdiam diri seharian ini. Hujan di luar sana tak menandakan akan lekas reda. Perasaanku masih saja tak karuan. Aku berharap perasaan ini pun akan segera reda seiring hujan di luar. Hari ini hari keenam kepulanganmu. Tandanya, aku masih harus menunggu empat hari lagi untuk dapat melihatmu lagi di sini, di rumah. Ah, perempuan macam apa kau ini? Kerjaannya hanya meratap, galau katanya sih, mengitung hari dengan jari. Jika kamu tak mau melihatku seperti ini, cepatlah pulang. Meski.. aku tak punya hak memintamu pulang ke mari. Bagaimanpun, Bima adalah kampung halamanmu, rumah orang tuamu, tempat lahirmu. Jadi, urusanmu seberapa lama kamu berada di sana, sesuka hatimu.
 
Tapi, lagi-lagi hati ini masih saja egois. Kamu tetap harus pulang ke sini, ke Bogor. Aku sudah terlanjur tak tahu diri, jadi biarkanlah sekalian semakin menjadi ketidaktahudirianku ini. Aku pun terlampau lupa siapa aku, siapa kamu. Aku terlampau lupa, kalau kamu masih memiliki kehidupanmu sendiri, keluarga, teman, pekerjaan, hingga urusan hati. Aku lupa di mana tempatku seharusnya. Aku terlalu ingin mencampuri kehidupanmu.
 
Oh, ya.. apa kabarmu? Kamu harus baik-baik saja di sana. Bogor masih saja diselimuti kelabu. Hujan terus mengguyur. Apa kamu nggak pengin tahu kabarku?
 
Seharian ini, entah berapa kali aku menatap layar ponselku, berharap kamu SMS. Sekadar memberi atau menanyai kabar. Tapi tak ada SMS darimu. Sudah tahu begitu, tapi aku terus saja berulang-ulang menatap layar ponsel. Sekalinya ada SMS yang masuk, itu pun dari teman, dan yang terakhir dari operator providerku. Mana SMS darimu?? 
 
Ah, lagi-lagi aku berharap...
Tapi, bisakah kamu mengirimiku SMS?
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

The Man Who Can't Be Moved

"Some try to hand me money, they don't understand I'm not broke, I'm just a broken hearted man I know it makes no sense but what else can I do? How can I move on when I'm still in love with you?" Entah sudah berapa ratus kali aku melihat kamu mendengarkan lagu itu. Berapa kali juga telah kamu jadikan lirik-liriknya sebagai status Facebookmu. Berapa ratus kali pula aku menghela napas melihat tingkahmu itu. Tidak punya semangat hidup. Hidup tinggal sebuah hal yang kau jalani mengikuti air membawamu mengalir, dan angin mengempas tubuhmu. Tanpa ada perjuangan. Kau melangkah tapi tak tahu tujuan. Kau kulaih tapi tak tahu untuk apa. Ada awan mendung yang meliputi atas kepalamu sejak berbulan-bulan lalu, ketika sahabatku yang sangat kau cintai, yang hidupnya bagai lentera kehidupan bagimu, tiba-tiba saja memutuskan hubungan kasih kalian. Kau seketika hancur. Berhari-hari tidak makan, kuliah sering telat. Dan aku berjam-jam menemani kegalauanmu di SMS. Suda...