Langsung ke konten utama

Selamat Pagi, Bu Guru!

Selamat pagi, Bu Guru yang cantik-cantik?
Belajar apa kita hari ini?

Well, ini surat kutujukan untuk kalian. Sahabat-sahabatku calon pendidik anak bangsa. Ciee..mulia dan bijaksana sekali kedengarannya ya. Ya memang, tugas kalian kelak sungguh mulia. Mendidik dan mencerdaskan beribu anak negeri ini. Pilihan kalian sungguh berani, kawan. Bagaimana tidak, saat kebanyakan orang memilih untuk kuliah dan bekerja di bidang yang tengah popular dan menjajikan (yang belum tentu menjanjikan) finansial yang besar, kalian memilih untuk tetap sederhana, hanya menjadi guru. Kerjanya mengajar, memberi nilai, merancang silabus dan lesson plan. Memang tidak semudah itu, aku paham betul. Tidak semudah ketika kita mengeja kata 'guru' itu sendiri. Tidak semudah seperti melafalkan huruf G-U-R-U. Lebih dari itu, kalian akan mengembang tugas dan tanggung jawab yang besar. Pekara mengajar bukan lagi sekadar memberi materi pelajaran, zaman menuntut kalian dapat mengajar selain yang tidak ada di buku pelajaran. Kalian yang akan mengajarkan tentang budi pekerti, santun yang baik, dan agama yang kuat. Aku harap, kelak kalian dapat menjadi guru selayaknya guru. Tidak hanya makan gaji buta. Guru yang dapat membawa muridnya menjadi manusia yang baik secara akademis maupun moralnya.

Pertemuan kita Jumat lalu, membuatku berpikir untuk menulis, anggaplah, sebuah surat kenang-kenangan. Kusebut surat kenang-kenangan, karena kuharap suatu hari nanti saat jarak sulit kita tempuh untuk bersama, surat ini dapat mewakili rasa rindu kalian. Bahwa dalam surat ini kusimpan berjuta cinta dan rindu untuk kalian. Jadi kumohon agar kalian menyimpannya baik-baik.

Maaf, sungguh aku telah bersalah terhadap kalian. Betapa sering kulewatkan waktu untuk bersama kalian, meski kalian telah memintanya. Tetapi.. ah, sudahlah. Aku tidak akan memberikan penjelasan panjang lebar lagi. Aku yakin kalian paham dengan keadaanku sekarang. Bicara soal keadaan, aku iri dengan kalian yang bisa dan mudah dengan bebas ke sana ke mari tanpa memikirkan ataupun mengkhawatirkan sesuatu. Kalian bebas dan ceria, tanpa harus memikirkan 'besok makan apa' atau 'ada ongkos buat kuliah besok apa nggak'. Aku pun tidak bisa menyalahkan keadaan. Memang semuanya harus seperti ini. Tuhan menginginkan aku seperti ini dengan maksud dan tujuan-Nya sendiri. Doakan aku agar memiliki kelapangan hati untuk penerimaan hidup yang baik.

Begitu berbeda hidup kita bukan? Ya, kita memang berbeda. Namun, semoga dalam perbedaan ini masih ada kasih yang menghiasi dan pengertian yang mengisi persahabatan kita. Oh ya, satu lagi semoga kalian dapat memaafkan ketidakmampuan dan keterbatasanku ini.

Omong-omong, bagaimana kuliah kalian? Lancar-lancar saja kah? Bagaimana liburannya kemarin?

Kita sama-sama hampir di penghujung tahun terakhir kuliah, dan bagi kalian KKN dan PKL telah menanti di beberapa bulan ke depan. Doaku akan selalu menyertai kalian, tenang saja. Semoga kalian dilancarkan dalam segala urusan dan situasi, dimudahkan dalam meraih gelar Spd. nya, hihihi :p

Tetap semangat ya, Bu Guru :D

Hmm.. apa lagi ya?? Aku sangat rindu kalian sebenarnya. Sambil menulis surat ini, sesekali kubuka album foto kita ketika SMA dulu, untuk sekadar melepas rindu itu. 

Ah, lagi-lagi aku ingin meminta maaf. Atas seringnya salah paham yang terjadi di antara kita. Atas keegoisan diri yang tidak mau mengalah dan dikalahkan. Aku jadi ingat bagaimana kita bersitegang karena beda pendapat. Pembawaanku yang terlalu serius kah penyebabnya? Jika iya, maaf atas kekuranganku selama ini. Aku tidak akan berjanji, tetapi aku selalu berusaha agar dapat menahan emosiku lain kali di hadapan kalian. Jika nanti kita berselisih paham lagi, aku tidak akan banyak bicara, takut-takut salah bicara lagi yang ujung-ujungnya menyakiti kalian. Aku tak apa jika kalian ingin melampiaskan lagi amarah kalian kepadaku. Aku hanya akan diam. Dan mendengarkan keluhan kalian, tentu saja.

Okay, aku sudah banyak bicara. So, dipenghujung suratku ini, aku berharap kelak kalian akan menjadi guru-guru terbaik yang dimiliki bangsa ini. Yang selalu disayangi oleh murid-muridnya. Yang memiliki hati yang cantik dan pengetahuan yang luas. Jika nanti sampai aku punya anak, aku titip anak-anakku untuk kalian didik dengan baik. Dan jika umurku tak panjang, aku titip mereka dalam asuhan kalian, ya. Tolong didik moral dan agama mereka, agar mereka dapat seperti kalian ketika besar nanti.

Salam sayang untuk kalian yang jauh di sana,
calon Bu Gurunya anak-anakku :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...