Langsung ke konten utama

Mengeluhmu


Sumber foto: imgarcade.com


Kau tak mengeluh pada bercangkir kopi hitam, yang mengepul panas di atas meja. 

Kau tak mengeluh pada berbatang rokok, seperti yang sering kawanmu sulut di ambang pintu. 

Kau tak juga mengeluh pada bergelas vodka, dari meja di sudut bar yang temaram. 

Kau cukup mengeluh pada heningnya hati. 
Pada lelahnya langkah kaki. 
Kau cukup dengan dirimu sendiri. 

Tak maukah kau bagi denganku?

Komentar

  1. tak perlu mengeluh pada kopi hitam. karena kopi adalah teman..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kalau kebanyakan juga nggak baik, ya. yang ada judulnya jadi 'teman yang menjerumuskan', hehehe :p

      Hapus
  2. heningnya hati?

    suka sama personifikasi majasnya :)
    terasa ambigu banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya? ambigunya dengan maksud seperti apa, tuh?
      terima kasih kalau menikmatinya, hehehe :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. yoi, bun 8-) doi emang feels comfort on his own way, begitulah~ *curcol*

      Hapus
    2. yoi, bun 8-) doi emang feels comfort on his own way, begitulah~ *curcol*

      Hapus
  4. gak perlu dibagi keluh kesah,nikmatin,sampai pada akhirnya kembali bersinar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi nggak ada salahnya juga, kan, untuk berbagi, walau cuma sekedar mengobrol. bukan untuk menambah beban orang lain, tapi cuma untuk meringankan beban yang ada :)
      terima kasih udah membaca :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Pagi Masih Menyapa

Sumber foto: pinterest.com Selamat datang kembali, Pagi! Apa kabarmu hari ini? Kau tampak tak secerah biasanya. Saat membuka gorden dan jendela kamarku tadi, sinarmu tampak redup kulihat. Apa karena awan mendung yang sudah mendahuluimu terjaga dari tidur lelapmu? Hingga kau terlambat menyapa bumi? Kuharap kau baik-baik saja dan lekas hadir bersama kami, para manusia bumi, yang menanti kisah baru yang kau suguhkan. Ya, kami, para penanti untuk kau ajak dan juga kau percayakan untuk merasakan hidup sehari lagi.  Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis surat ini untukmu. Namun aku tak pernah tahu harus kutitipkan kepada siapa agar sampai kepadamu. Kepada angin? Aku tak begitu percaya padanya. Ia sering kali mengacau. Pokoknya ribut sekalilah dia itu. Takut-takut jika kutitipkan surat ini pada angin, ia tak langsung menyampaikannya padamu. Ia pasti akan berkeliling dahulu ke belahan bumi lain dan bisa saja suratku malah jatuh entah di belahan bumi mana. Kepada petang? ...