Langsung ke konten utama

Kembang Api dan Wayang Golek


Sumber foto: imgsoup.com


Ada yang menarik di Minggu malam lusa kemarin. Jalan sekitaran rumah sedikit lebih rame daripada biasanya. Tetangga-tetangga yang rumahnya berdekatan dengan rumahku berduyun-duyun ke luar dari rumah mereka dan memenuhi teras-teras juga jalan setapak yang ada di depan barisan rumah kami. Rupanya ada pesta kembang api yang diadakan oleh tetangga kami yang sedang hajatan. Karena hanya selang satu gang dan beberapa rumah, kembang api itu sangat terlihat jelas dari arah rumah kami. Kukira awalnya hanya satu atau dua kembang api aja, tapi taunya serentetan kembang api diluncurkan ke langit malam yang ketika itu lagi cerah-cerahnya. Nggak tau pasti berapa kembang api yang diletuskan, tapi kalau dihitung dalam menit mungkin ada sekitar 15-20 menit kembang api terus dilecutkan. Suasananya semakin rame karena lingkungan rumah banyak banget anak kecil dan sorakan mereka ketika melihat kembang api menambah keramaian malam itu. Rasanya udah kayak malam tahun baruan aja gitu.

Sebelum rentetan kembang api itu dimulai, ada serentetan petasan gantung yang biasa nangkring di depan rumah yang hajatan itu, lho, Sob. Itu juga lumayan lama dan berisik banget yang membuat perhatian orang untuk berdatangan dan berkerumun di sekitaran jalan hingga ke depan halaman rumh si punya hajat. Dan hal yang bikin menggelitik selanjutnya adalah sederetan tukang dagang ikut berbaris di jalan menuju tenda yang hajatan. Mulai dari yang pake gerobak, yang dipikul, asongan, sampe yang ngampar ada semua. Kebanyakan, sih, tukang makanan, mulai gorengan, toge goreng, sate, sampe kue asal Sunda—lepet, ada!

Setelah pindah ke rumah yang sekarang, baru nemuin hal yang kayak begini. Hajatan yang rame banget sampe ada pesta petasan sama kembang apinya segala, maksudnya. Dan masih rame sampe malem begitu. Di lingkungan rumah yang dulu, kalau hajatan mau itu nikahan atau sunatan, ya biasa aja. Hiburan kayak dangdutan atau organ tunggal tetep ada, tapi nggak sampe serame ini, apalagi sampe banyak tukang dagang ngumpul dari mana-mana. Sorean dikit juga tamu yang datang udah sepi. Rata-rata acaranya cuma sampe jam lima sore. Nggak kayak di sini, semakin malem keliatannya semakin rame. Dari obrolan sama Bibi pas siangnya baru tau kalau memang adat atau tata caranya warga di lingkungan rumah yang baru tuh, ya begitu kalau hajatan.

Pesta bakal diadain dari pagi sampe malem, bahkan ada yang sampe pagi lagi. Walaupun berasal dari keluarga sederhana dan serba cukup, nyajiin dan nampilin hiburan yang wah pas hajatan udah jadi semacam kewajiban. Pertunjukan wayang golek, lancar tancap, atau sekedar dangdutan udah jadi hal yang biasa di lingkungan masyarakat rumahku yang sekarang. Makanya nggak aneh kalau malem-malem jam sebelas atau jam dua-an suka masih ngedenger ada suara gamelan Sunda, suara kayak film yang lagi diputar di bioskop a la misbar (gerimis bubar), sampe biduan yang masih asyik berdendang bawain lagu-lagu dangdut yang lagi ngehits. Buatku yang nggak pernah liat hal semacam ini, ini tuh unik.

Saat biasanya yang dibicarakan dari sebuah pesta atau hajatan itu adalah pengantin dan makanan di prasmanannya, kali ini yang menjadi sorot perhatian dari orang-orang di sekitar yang punya hajat adalah hiburannya. Kalau bisa nyajiin wayang golek, katanya, hajatannya sukses dan dicap sebagai hajatan yang wah bingits! Ini udah jadi semacam budaya yang lahir dan terus tumbuh di lingkungan masyarakat rumahku. Walau kelihatannya harus merogoh kocek yang nggak sedikit, si punya hajatan nggak merasa keberatan, tuh. Karena, katanya lagi, yang penting hajatannya rame, banyak yang dateng.

Tetangga yang kemarin hajatan itu kebetulan nyajiin wayang golek sebagai hiburannya. Setelah pesta kembang api selesai, mulai deh tuh kedengeran tabuhan gamelan sebagai tanda pembuka kalau pertunjukan wayang goleknya bakal dimulai sebentar lagi. Pas liat jam ketika itu, jam udah nunjukin pukul sembilan. Suara sinden mulai kedengeran, bawain tembang Sunda sebagai pengiring pertunjukan. Orang-orang yang dateng semakin banyak dan rame. Bahkan yang nggak termasuk tamu undangan pada hadir juga buat nonton. Banyak motor yang melipir ke area parkir yang udah disediain. Mayoritas penontonnya kelihatannya bapak-bapak.

Melihat momen seperti ini, kelihatan banyak sisi postifnya yang bisa diambil. Selain si punya hajat merasa senang karena acaranya menjadi rame dan banyak yang dateng, warga sekitar pun ikutan senang dengan hiburan gratis semacam itu. Pedagang yang sengaja menjajakan dagangannya pun mendapat tambahan penghasilan karena banyak yang beli. Warga dari berbagai kampung bisa dateng dan ngumpul bareng di satu tempat, nonton pertunjukan yang mereka suka. Dari situ mereka bisa saling kenalan, jadi punya temen ngobrol, atau bahkan mungkin sampe ada yang melakukan bisnis, jual batu akik misalnya yang lagi ngetrend banget di kampung rumahku. Baik si punya hajat, tamu dan penonton, maupun pedagang sama-sama merasa diuntungkan. Semua untung, semua senang. Sejauh ini, sih, belum denger ada yang sampe rusuh di acara hajatan macem gini. Jangan sampe deh, ya.

Oh ya, soal wayang goleknya, pas aku bangun sekitar setengah dua malem, pertunjukannya masih berlangsung, lho. Dan usuk punya usuk, menurut cerita nenekku pertunjukan wayang golek sering dikaitkan sama hal-hal mistis. Begini katanya, kalau kita berniat dateng dan menonton wayang golek, tontonlah sampe pertunjukannya habis. It means, jangan pulang sebelum pertunjukkannya habis, alias pulang di tengah-tengah cerita wayang yang masih berlangsung. Konon katanya nenekku itu, kalau ada penonton yang pulang padalah pertunjukannya belum selesai, dia bakal diikuti oleh hantu atau roh-roh dari tokoh pewayangan yang sedang diceritakan dalang. Soalnya katanya, saat dalang membawakan cerita pewayangan, si para tokoh wayang yang diceritakan itu bakal hadir di tengah-tengah pertunjukan. Kan, serem ya kalau beneran kayak begitu, pas kita pulang padahal pertunjukan belum selesai, eh di tengah jalan ada yang nyegat, pas diliat taunya Cepot dengan muka merah dan gigi satunya sambil nyengir serem gitu ke arah kita. Tapi cerita ini pun belum sepenuhnya terbukti bener, kok, guys.

Jadi, kesimpulannya...begitu kali ya adat dan budaya bekerja di suatu lingkungan masyarakat. Satu daerah punya kekhasannya masing-masing mengenai adat dan budayanya. Saat kita berada di suatu daerah, maka kita akan terikat dengan adat serta budayanya. Dan ketika kita pindah ke suatu daerah lain, adat dan budayanya pun akan ikut berpindah, dari satu keyakinan ke keyakinan lainnya. Kita akan selalu bersinggungan dengan budaya tempat kita berada saat itu, suka atau nggak, menjadi salah satu pelakunya atau hanya sebatas penonton. Kita dituntut beradaptasi dengan nilai, norma, dan kepercayaan yang dijunjung oleh masyarakat asli daerah tersebut. Mengetahui adalah cara agar kita bisa melalui proses adaptasi itu. Segini masih di Bogor, budaya aslinya adalah Sunda, tapi ternyata Sunda pun punya adat dan budaya yang beragam lagi di daerah yang berbeda. jadi nambah pengetahuan dan pengalaman lagi. Dan lagi-lagi sebagai makhluk sosial, keberadaan adat dan budaya membuat kita semakin menyadari bahwa ada orang lain yang perlu kita hargai.    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...