Sumber foto: wirajhana-eka.blogspot.com
Aku termasuk
pengguna Commuter Line Jabodetbek, walaupun bukan pengguna harian. Dalam sebulan
pasti ada beberapa kali harus pergi dengan menggunakan transportasi umum ini. Dan
dalam setiap pergi atau pulang dengan menaiki Commuter Line ini, akan ada
cerita yang bisa diambil pelajarannya dan dipetik hikmahnya. Ber-Commuter Line,
bagiku, berarti memasang radar kita untuk lebih peka dengan sekitar. Bukan hanya
dituntut untuk menjaga diri bagi perempuan sepertiku, tapi juga dituntut untuk
selalu sadar diri bahwa kita menggunakan jasa transportasi umum. Ya, UMUM, yang
berarti bukan hanya diri sendiri yang menggunakannya, tapi juga ada orang lain.
Berarti juga bahwa kita nggak bisa dengan sebebas jidat bertindak atau
berperilaku. Ada kenyamanan dan kepentingan orang lain yang perlu diperhatikan
sebagai sesama pengguna. Jadi, ada baiknya, kan, kalau semua pengguna Commuter
Line bukan hanya menyadari tapi juga memperhatikan dan mengerti akan hal ini. Tapi
sayangnya nggak, masih banyak hal-hal unik
yang aku temui padahal seharusnya udah paham dan nggak perlu diberi tahu,
apalagi sampai ditegur. Contoh kecilnya aja, deh, mas-mas yang suka
berpura-pura nggak lihat kalau nggak jauh dari tempatnya duduk ada ibu-ibu
membawa anak dan tas. Kalau anaknya satu, kadang dua sampai tiga, kan repot
banget tuh si ibu. Tapi masnya anteng aja kayak lagi di buang air toilet
kamarnya. Iya, berasa tenang, nggak ada yang bisa ganggu, nggak ada yang bisa
make selain dirinya sendiri.
Hal-hal
seperti ini memang kelihatan sepele, tapi kalau dibiarin terus-terusan, ya
keenakan, nggak ada rasa toleransi, nggak bisa saling menghargai. Yang ada
kalau dibiarin, bakal bertambah tuh orang-orang kayak begitu. Karena apa? Orang
yang lihat akan menganggap, “Ah, dia aja nggak kenapa-kenapa tuh kayak gitu,
berarti gue juga boleh tuh kayak gitu lain kali. Pura-pura aja tidur, kalau
nggak sibuk sama gadget.” Yaa itu mah
sih terserah mau jadi kayak gitu juga, nggak bakal maksa. Tapi kalau ada yang
kayak begitu dan ketemu sama aku, siap-siap aja, deh ya, aku tegur dan aku
bikin malu hahahaha. Bohong, deng, nggak. Paling ditegur aja. Gini deh, kayak
kamu bikin status di socmed kamu,
misalnya nyindir atau lagi kesel sama orang, kamu bikin deh status. Ada kemungkinan,
kan, ada yang komen, atau dibaca sama followers-mu
yang lain, pastilah. Kalau ada yang komplain karena statusmu terlalu frontal,
jangan sebal, jangan pula bilang, “Status-status gue, mulut-mulut gue.” Iya
memang benar, tapi gimana sekarang kalau aku balikin kayak begini, “Tapi kan,
yang baca bukan cuma lo. Tapi kan, yang denger nggak cuma kuping lo sendiri. Ada
orang lain yang bakal denger, kalau isinya nyinyiran semua, orang lain ngerasa
nggak nyaman dengan keberadaan status-status lo itu nangkring di beranda
mereka. Nge-spam, kan, yang ada.”
Sepele,
tapi penting buat diketahui. Kalau udah tahu dipahami. Sepele bukan berarti
bisa ngelunjak, seenak hatinya. Balik lagi soal Commuter Line, Sabtu kemarin
baru naik lagi dengan tujuan Depok, dan masih menemukan beberapa perilaku yang
sering dianggap sepele tapi nggak baik untuk dilakukan apalagi ditiru ya, Gaes. Kayak begini:
1)
Gunakan tongsis sesuai tempatnya
Nggak cuma sampah yang kudu dibuang
pada tempatnya, pakai tongsisi pun perlu melihat tempatnya ya, Gaes. Jangan sampai di tempat ramai
seperti dalam Commuter Line yang udah hampir penuh penumpang, kita masih sibuk
sama benda itu untuk menunjang foto-foto kita agar terlihat ciamik. Kemarin dalam Commuter Line
jurusan Bogor-Tanah Abang-Jatinegara ada segerombolan dedek-dedek remaja yang
dari tampilannya mau pergi tamasya ke binaria duduk berderet di sebelahku. Baru
aja duduk, tapi udah rame banget foto-foto. Awalnya aku cuek, toh, mereka bebas
melakukan apa pun yang mereka mau. Tapi lama-lama pas gerbong semakin penuh,
dedek-dedek itu masih ketawa-ketawa sambil foto-foto. Pas dilihat, wih pake
tongsis segala. Sisi kiri, kanan, depan, atas, bawah udah semua, tapi tolong
lah, itu sebelah kanan dan kirinya, kan, ada orang lain yang duduk, itu
mengganggu. Penumpang yang duduk di sebelahnya sampai memiringkan badannya agar
nggak terkena tongsis. Pas ambil angle
depan juga, kan, itu gerbong banyak penumpang yang lewat, kesenggol-senggollah
orang sama tongsisnya. Orang yang mau lewat harus memiringkan badannya agar
nggak kena si tongsis. Sesuatu dipakai ada aturannya, ada tempatnya, termasuk
tongsis.
2)
Signs are
not longer the important things to be understood
Jalur keluar jadi dipakai buat
jalur masuk. Jalur masuk dipakai buat jalur keluar. Padahal udah ada tanda plus
tulisannya, “Masuk” dan “Keluar”. Tapi masih ada aja, tuh, yang masih nggak
bisa bedain. Yang ada orang-orang yang lalu lalang jadi kagok karena berpapasan
dengan orang yang salah jalur. Aku sering melihat kejadian gini di Stasiun
Bogor di saat-saat sibuk jam berangkat kerja dan pulang kerja. Kalau jalan aja
salah jalur, hati ikutan salah jalur ke hati orang juga nggak, ya? :p
3)
Antara kanan dan kiri
Kayaknya masih banyak yang nggak
paham sama hal satu ini: berjalan di ruas kanan dan kiri jalan. Setahuku begini,
kalau mau jalan santai sambil main gadget,
coba ambil ruas kiri jalan. Sisakan ruas kanan jalan untuk orang yang sedang
terburu-buru. Kemarin nemuin mbak-mbak dan mas-mas yang jalannya udah lama,
sambil ngobrol ketawa-ketiwi pula. Aku yang berjalan di belakangnya serasa jadi
pengiring pengantin ke altar pelaminan. Berasa ngekor. Mau nyalip kagok, karena
jalan menuju pintu keluar area statiun sedang ramai-ramainnya sama penumpang
yang mau naik dan dan baru aja turun. Aku yang waktu itu lagi buru-buru karena
mengejar waktu, jadi sebal sendiri melihat mbak dan masnya yang berasa lagi
jalan menuju pelaminan di acara resepsi mereka. Lama. Model catwalk aja nggak gitu-gitu amat, deh,
jalannya. Jadi membuktikan lagi, kalau masih ada yang nggak paham soal sepele
kayak aturan jalan ini.
4)
Pastikan arah tujuan sebelum pergi
Sebelum pergi ke mana-mana coba dipastikan dulu
tujuannya. Jangan sampai udah di tengah jalan meributkan mending ke
sana-mending ke sini, di atas jembatan yang sesak pejalan lagi dilakukannya. Baru
aja terlepas dari mbak dan mas yang diceritakan di atas, sekarang dihadapkan
sama dua mbak-mbak yang berhenti mendadak di tengah tangga jembatan, di
tengah-tengah jalan, dan lama pula. Pas melewati mereka, terdengar pembicaraan
mereka sekilas yang lagi meributkan ke mana mereka hendak pergi dan naik angkot
apa. Lah, tadi dari stasiun niat tujuannya kemana, Neng? Kok, malah bingung
sendiri dan sampai beda pendapat begitu sama temennya? Akibat dari perbuatan
yang mereka lakukan adalah antrean yang jadi semakin panjang dan sesak orang-orang
yang mau naik di bawah tangga. Lagi-lagi yang ada adalah malah bikin orang
kagok dan yang terpenting adalah jalan tangga jadi sempit.
Nah, itu
tadi beberapa perilaku yang aku temui selama perjalanan kemarin. Terlihat sepele,
kan? Tapi kalau udah menyangkut orang banyak nggak bisa sesepele itu, deh,
kayaknya. Lihat akibat dari satu tindakan atau perilaku kita yang kadang kita
nggak sadar saat melakukannya, bisa merugikan orang lain. Memang bukan dalam
bentuk kerugian yang besar. Tapi kayaknya udah seharusnya kita tahu dan sadar
bagaimana bertindak dan perilaku di tempat umum. Udah ada aturan dan bagiannya,
jangan sampai diacak-acak atau diuba-ubah seenak jidat. Nggak harus melakukan
tindakan yang besar, kok, cukup nggak membuat orang lain meresa nggak nyaman
dan terganggu udah cukup banget.
Aku berbagi
cerita ini bukan berarti aku ingin dianggap baik dan patuh aturan. Nggak sama
sekali. Aku hanya ingin berbagi dan kembali mengingatkan diri sendiri juga
teman-teman semua, bahwa hal sepele yang kita kira kalau dibiarkan hasilnya
nggak bisa dianggap sepele seperti pada awalnya. Setiap tindakan pasti ada
akibatnya. Seperti tadi kataku di atas, jangan sampai berpikir kita bebas melakukan
sesuatu, tapi akan ada orang lain yang melihat, mendengar, merasakan, dan
menilai diri kita. What you say, what you
act show who really you are in front of the others. Aku rasa untuk memahami
hal-hal seperti ini nggak membutuhkan pendidikan tinggi setingkat kuliah, deh. Makanya,
yuk kita buka mata dan lebih peka lagi dengan keberadaan orang lain di sekitar
kita. Yang perlu kita ketahui lainnya adalah bahwa aturan ada biar kehidupan
kita seimbang, biar semuanya bisa mengerti kewajiban dan haknya masing-masing,
biar merasakan juga hasilnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mengerti
ya, Guys.

Sayangnya norma begini enggak diajarkan di sekolah, hanya bisa dipahami bagi mereka yang mau belajar dari pengamatan lapangan, nasehat orang-orang yang merasakan, atau kalau enggak beruntung, lewat pengalaman memalukan.
BalasHapuskalo saya lihat emang hal seperti itu udah sangat umum di Indonesia, bahkan bisa dibilang sekarang udah seperti kebiasaan orang Indonesia, makanya negara kita gak bisa maju seperti negara lain.
BalasHapuswww.Anakterong.blogspot.com
terlihar sepele namun begitu penting :)
BalasHapus