Langsung ke konten utama

Kopi dan Payung Teduh




Dia adalah seorang penikmat kopi dan penggemar Payung Teduh. Dia senang berujar, “Jangan lupa main, ya!” kepada kami setelah kami menyelesaikan tugas atau mengikuti ujian mata kuliahnya. Bukan malah selalu mengingatkan kami untuk belajar. Karena itu, kami senang “bermain” dengannya, walaupun hanya duduk berjam-jam sambil ngopi. Tapi…main dan ngopi yang berkualitas.

Dia senang mengobrol. Dia senang berpergian. Dia penggila buku. Berkat kesenangannya itu, dia menjadi seorang yang senang berbagi. Berbagi tentang apa yang pernah dia lakukan. Tentang pengalamannya, tempat yang pernah dia kunjungi, apa yang baru saja dia baca, dan apa yang dia temukan dalam bacaannya. Segala hal dia bagi. Ilmu, pengalaman, bahkan harapan dan impian. Dia lecutkan api semangat dalam diri kami. Berbagi dengannya, tidak ada impian yang tak berharga. Semuanya pantas diwujudkan. Semuanya memiliki kesempatan untuk diraih.

Dibalik penampilannya yang sangat simpel dengan gelang-gelang style anak muda menghias pergelangan tangannya dan tak pernah sekalipun kami melihatnya hadir di kelas dalam balutan make up, dia adalah seorang yang anggun dengan caranya sendiri. Nilai kecantikan baginya tidaklah terukur pada make up, pakaian, dan tas bermerek. Justru, pengetahuan dan pengalaman yang melimpah ruah pada dirinya yang membuatnya semakin cantik dan menarik. Darinya ini kami belajar, cantik tak akan menjadi kekal, melainkan ilmu yang bermanfaat yang akan selalu kau bawa untuk kemudian kau teruskan kepada, yang akan menjadikan kamu berharga dan tak ternilai.

Empat tahun lalu, kami mengenalnya sebagai dosen yang kaku, sulit didekati, dan galak. Dan empat tahun itu telah berlalu seiring kesan kami padanya yang sepenuhnya memudar. Dia bukan sekadar dosen, tapi menjadi teman yang kami cari untuk sekadar berkumpul, mengobrol ngalor-ngidul, dan ngopi tentu saja. Dia seolah selalu siap untuk datang dan mendengarkan jika kami meminta bertemu. Dia bukan sekadar dosen, melainkan pembawa bara untuk energi kami yang hilang agar terisi kembali.

Dia tak pernah membebani kami dengan materi kuliah yang banyak. Selalu memberikan kami nilai yang memuaskan. Tak pernah menyulitkan kami dengan tugas-tugas yang rumit. Tapi malah dengan gaya mengajarnya itu, kami tak sampai hati membuatnya kecewa dengan ulah-ulah kami. Salah dalam belajar baginya adalah wajar. Yang tak boleh ada dalam kelasnya adalah kau tak boleh berhenti berusaha dan berhenti percaya terhadap dirimu sendiri.

Dia bukan sekadar penikmat kopi dan penggemar Payung Teduh. Dia lebih dari itu. Seorang penginspirasi yang mengajarkan kami untuk keluar dari sarang nyaman kami agar kami terbang, mengepakkan sayap, dan melihat dunia luar. Seorang reminder bahwa belajar tak terbatas dalam arti datang ke sekolah. Belajar bisa terjadi di mana, kapan saja, dan dengan siapa saja. Melalui dirinya, kami memahami waktu terlalu tak terbatas untuk memperkaya diri dengan ilmu, keterampilan, dan hal-hal baru. Berkat dirinya, kami mengerti dunia ini terlalu sayang untuk tak kau jelajahi. Terlalu indah untuk dilewati begitu saja. Dan juga dirimu terlalu berharga untuk berdiam diri dalam zona nyamanmu. Keluarlah dan temukan duniamu.


Halo, Bu Tami, apa kabar?  Kapan kita ngobrol dan ngopi bareng lagi? Semoga besok, lusa, dan seterusnya masih ada bercangkir-cangkir kopi dan selagu Payung Teduh menemani pertemuan kita. Semoga Ibu selalu bahagia. :) 



Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis "Guruku Pahlawanku" 

Komentar

  1. Jadi inget salah satu mentor aku ti. Menekankan bahwa berbuat kesalahan adalah kewajaran. Tidak dituntut untuk hasil melainkan proses. Beliau juga mengajarkan untuk dua langkah didepan pemikiran orang lain dan pencapaian hari ini.

    Kan jadi rindu. :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaakkk Juuungg... gue baru cek comment lu ini hahaha, maafkan.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...