Langsung ke konten utama

Sampai Berjumpa Lagi

Rasya dan Danis datang bersamaan hari itu. Di sebuah siang yang terik dan berdebu. Rasya datang  dengan harum minyak kayu putih dan benak bayi menguar dari balik kaos Boboboy-nya. Sedangkan Danis masih mengenakan baju seragam polisi favoritnya. Keduanya berebut masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya masing-masing. Dan yang terjadi selanjutnya adalah cerita mengalir silih berganti, seperti biasanya. Di setiap Senin dan Kamis siang selama berminggu-minggu yang panjang dan berwarna. "Baik kalau begitu, kita udahan dulu ya, ceritanya. Hari ini kalian mau belajar apa?" tanyaku. Keduanya sepakat ingin belajar menghitung sampai 100 dalam bahasa Inggris. Selagi mereka menyiapkan buku dan alat tulis, pandanganku terpaku pada dua kotak berlapis kertas kado Angry Bird di bawah meja kerjaku di sudut kelas. Sanggupkah aku meninggalkan? 

Kami terdiam. Tak ada satu pun yang mampu menggerakkan bibir. Seakan kami kehilangan kemampuan bicara. Bahkan sang ketua kelas yang biasanya paling ribut, bisa begitu menjadi pendiam hari itu. Hanya ada satu kata yang ada dalam kepala kami ketika itu: ditinggalkan. Lalu suara berat dari sudut kelas terdengar. "Ini sudah jadi keputusan Bapak dari sebulan lalu. Maafkan Bapak kalau kesannya meninggalkan kalian..." Kalimat dari pria berusia 40an itu terhenti. Kemudian suara isak tertahan mulai menggantikan sunyi sedari tadi.

Mungkin itu yang akan terjadi juga pada Rasya dan Danis ketika aku akan meninggalkan mereka. Lima tahun yang lalu pun aku pernah merasakan sedihnya ditinggalkan guru sekaligus wali kelas terbaik kami. Dalam beberapa hari mendatang, aku pun akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah Pak Sugeng, guru SMA-ku, lakukan. Dan pada detik itu aku menyadari, guru bukanlah sekadar kau mengajarkan murid-muridmu, tapi juga tentang memberi mereka kasih sayang yang penuh dan tulus. Bukan yang lekas kau lupakan setelah kau selesai mengajar. Tapi juga yang kau bawa dalam setiap senyum, rasa kesal, khawatir, dan doa-doamu. Inilah yang juga mungkin Pak Sugeng rasakan ketika mengajar kami dulu.

Aku masih ingat ketika Pak Sugeng memanggil kami satu per satu ke depan kelas untuk menjelaskan mengenai materi biologi yang telah kami pelajari. Bagaimana dia kewalahan menghadapi kebebalan dan keributan kami di kelas sehari-hari. Beliau telah mengubah kesan kami tentang guru yang bisanya hanya memerintah dan memarahi. Beliau membuat pertemuan di kelas adalah momen yang selalu kami nanti. Bukan sesuatu yang kami hindari. Sepertinya, aku telah melakukan hal yang sama dengannya terhadap Rasya dan Danis. Aku tak hanya menjadikan mereka anak didik tapi juga sebagai adik dan teman.

Hari itu pada akhirnya kalimat itu berhasil kuucapkan. Sebuah kalimat perpisahan yang panjang dan berat. Rasya dan Danis menghambur memelukku. Jadilah keduanya memerangkap tubuhku dari sisi kanan dan kiri. Aku mendengar suara isak itu. Salah satu dari mereka berbisik, "Kalau Miss mau pergi, jangan lupain kita, ya. Kita sayang Miss."  Air mataku luruh. Seperti air mata lima tahun lalu dalam kelas yang tak luas, saat Pak Sugeng mengatakan hal yang sama.


Pak, aku mengerti bagaimana mengajar dengan sepenuh hati, bukan sekadar mencari materi. Guru adalah cara bagaimana aku menghargai ilmuku dan diriku sendiri. Cara bagaimana aku menyadari keberadaan orang lain yang menaruh kasih dan harapan padaku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...