Langsung ke konten utama

Cah Kangkung dengan Jamur Kuping dan Udang: Menu Sahur Praktis dan Nikmat



Bagaimana puasanya di hari kedelapan ini? Harus tetap semangat dan jaga kesehatan selalu, yaaa. Salah satu caranya adalah dengan menjaga asupan makanan kita saat buka dan sahur. Setuju nggak, Manteman? 

Soalnya aku mengalami hal yang nggak ngenakin berhubungan dengan kesehatan perut di hari ketiga puasa. Buka puasa hampir setiap hari pake gorengan dan es-es-an, terus pas sahur nggak diperhatikan banget menu makanannya apa, yang penting makan sahur aja, deh. Hasilnya, pencernaan kacau. Tiga hari susah BAB dan perut jadi bega, kembung nggak karuan. Akibat lainnya adalah nggak enak buat ngapa-ngapain, jadi ngaruh juga kan, sama kerjaan yang jadi nggak semangat. Yang setelah aku ingat-ingat ternyata penyebabnya adalah aku kurang mengonsumsi sayur dan buah. Duh, jangan disepelein deh, kedua jenis makanan ini. Tingpenting banget, apalagi yang mengandung serat. 

Habis itu, aku langsung ngatur asupan makananku selama bulan puasa ini. Diusahain banget sayur dan buah tetap masuk. Kalau buah sih, gampang ya, tinggal kupas bisa langsung dimakan. Nah, kalau sayur kan, kudu dimasak dulu. Selama di kostan gimana nih, masak sayurnya, yang kadang-kadang mager buat masak yang macem-macem? 

Solusinya adalah pilih dan masak sayur-sayuran yang nggak ribet, yang cepat saji dengan ditumis-tumis doang. Kangkung, sawi hijau dan putih, serta bayam adalah pilihan nomor wahid bagiku. Oseng-oseng, kasih garam dan merica, jadi deh! Biar nggak sepi si tumisannya, bisa dikreasikan dengan ditambah udang, jamur, dan saus tiram. Udah lengkap kan jadinya, karena udah ada sayur dan lauknya. 

Kemarin aku nyoba praktik di rumah dulu nih, buat cah kangkung pake jamur kuping dan udang. Dan ternyata berhasil dan enak banget rasanya! Bukan cuma enak, tapi juga praktis dan cepat dimasak selama di kostan. Aku bagi deh, resep dan cara masaknya :)

Bahan-bahan:

  • Satu ikat kangkung akar (usahakan yang masih segar)
  • Jamur kuping basah
  • Udang 
  • 1 siung bawah merah
  • Saus tiram/teriyaki
  • Garam dan lada putih bubuk
  • Minyak sayur/minyak zaitun
Cara Membuat:
  1. Potong-potong kangkung dan cuci bersih. Tiriskan
  2. Kuliti udang dan buang bagian ekor dan kepalanya. Cuci hingga bersih
  3. Iris jamur kuping kalau ukurannya besar
  4. Iris tipis bawang merah
  5. Panaskan minyak sayur, lalu tumis bawang merah hingga harum
  6. Masukkan udang, masak hingga berubah warna hingga menjadi kemerahan
  7. Masukkan kangkung, oseng-oseng hingga setengah layu, lalu masukkan jamur kuping
  8. Tambahkan saus tiram/teriyaki, diikuti dengan garam dan lada bubuk
  9. Oseng kembali sampai semua bahan dan bumbu tercampur rata
  10. Cicipi terlebih dahulu sebelum dihidangkan. Rasakan bumbunya apakah sudah pas atau masih terasa kurang sedap
  11. Kalau tumisan terlihat kering, bisa tambahkan sedikit air matang agar tumisan nggak jadi kering dan gosong
Ini kelihatannya aja kok, ribet karena aku jabarin cara membuatnya panjang begini hahaha :D. Kalau udah dipraktikkan pasti gampang banget, kok! Kalau kalian mau warna kangkungnya masih terlihat hijau segar, usahakan pake api sedang atau kecil aja, biar si kangkungnya nggak keburu layu dan kelewat matang. 

Omong-omong, apa sih, khasiatnya dari si sayur yang terbilang murmer ini? Katanya nih, kangkung itu bisa menetralkan racun, menyembuhkan sembelit, kaya zat besi, mineral, dan serat, juga pemasok betakaroten sebagai salah satu zat antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas. Cucok nggak tuh, khasiatnya? :D

Selamat mencoba buat menu sahur nanti. Tetap sehat selama bulan puasa ini ya, Guys! ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Pagi Masih Menyapa

Sumber foto: pinterest.com Selamat datang kembali, Pagi! Apa kabarmu hari ini? Kau tampak tak secerah biasanya. Saat membuka gorden dan jendela kamarku tadi, sinarmu tampak redup kulihat. Apa karena awan mendung yang sudah mendahuluimu terjaga dari tidur lelapmu? Hingga kau terlambat menyapa bumi? Kuharap kau baik-baik saja dan lekas hadir bersama kami, para manusia bumi, yang menanti kisah baru yang kau suguhkan. Ya, kami, para penanti untuk kau ajak dan juga kau percayakan untuk merasakan hidup sehari lagi.  Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis surat ini untukmu. Namun aku tak pernah tahu harus kutitipkan kepada siapa agar sampai kepadamu. Kepada angin? Aku tak begitu percaya padanya. Ia sering kali mengacau. Pokoknya ribut sekalilah dia itu. Takut-takut jika kutitipkan surat ini pada angin, ia tak langsung menyampaikannya padamu. Ia pasti akan berkeliling dahulu ke belahan bumi lain dan bisa saja suratku malah jatuh entah di belahan bumi mana. Kepada petang? ...