Langsung ke konten utama

Calon Bapak Kesayangannya Anak-anak




Dear Masku,

Ada percakapan kecil sore itu bersama dua rekanku di kantor. Kami baru saja menonton video kecelakaan saat menyeberang jalan raya di YouTube. Di video itu terekam seorang anak kecil terserempet oleh mobil yang dikendarai ugal-ugalan ketika menyeberang bersama ibunya. Sang anak tertabrak cukup keras lalu terpental hingga terjatuh mengenai aspal beberapa meter di depannya. Si ibu menjerit kaget, lalu berlari melihat keadaan anaknya, dan mulai menghadang si penabrak. 

"Kalau anak lo yang sampai begitu gimana, Mas?" Tanya satu rekanku.

"Gue pukulin lah, orang yang nabraknya, enak aja!" Kata yang ditanya.

"Ah, berlebihan lo mah, Mas!"

"Lo akan merasakan ketika menjadi orangtua nanti bagaimana rasanya."

Apa benar begitu ya, Mas? Kita baru akan merasakan seutuhnya mencintai dan menyayangi sang anak ketika dia benar-benar hadir? Iya, cinta dan sayang yang utuh dalam bentuk perlindungan untuk keselamatannya. Bukan hanya itu. Kita akan selalu memastikan bahwa ia tidak akan pernah merasa kekurangan, bahwa ia dapat merasa aman dan nyaman. Tidak akan pernah merasa kesepian, juga tidak tumbuh besar dengan anggapan bahwa ia bukanlah anak yang membanggakan, tidak cantik atau tampan rupanya, tidak sepintar teman sekelasnya. Kita benar-benar akan mempertaruhkan semuanya ketika kita merasakan langsung ada tubuh dan jiwa lain yang tumbuh dari darah kita sendiri. Kita akan membela dan mendukungnya tanpa pernah tahu rasanya bosan. Kita akan memperjuangkan segala kebaikan untuknya sampai kita lupa akan kebahagiaan kita sendiri.

Begitukah Mas, orangtua seharusnya kepada anak-anak mereka? 

Lalu, kalau kita bagaimana? 

Kalau aku boleh berangan dari sekarang...aku ingin mereka dekat denganmu, Mas. Menjadikanmu sosok pelindung pertama yang mereka cari. Tapi juga menjadi sosok yang mereka tiru untuk menjadi pribadi yang berani dan kuat. Yang darimu mereka belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang baik dan bijak, menyikapi masalah dengan kepala dingin dan positif, juga untuk belajar bagaimana mau mengakui kesalahan sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Aku tidak memintamu berpendidikan sangat-sangat tinggi, penghasilan berpuluh-puluh juta, memboyong keluarga sering-sering berlibur ke luar negeri. Melihatmu menjadi cinta pertama untuk anak-anak perempuanmu kelak, menjadi sahabat sejati untuk anak-anak lelakimu kelak, rasanya sudah cukup. 

Ayah yang dapat mereka banggakan bukan karena membelikan mereka mainan super mahal, tapi yang dapat menanamkan nilai-nilai kehidupan. Bukan ayah yang setiap akhir pekan membawa mereka ke taman rekreasi paling favorit di kota, melainkan ayah yang mau mendengar penuh antusias saat mereka bercerita mengenai sekolah dan kegiatan mereka. Ayah yang dapat memupuk rasa percaya diri mereka, bahwa mereka tidak perlu menjadi sama dengan yang lain untuk mendapat pengakuan. Ayah yang dari dirimu mereka merasa dicintai dan tidak akan pernah kekurangan akan hal itu, tapi tidak lantas menjadikan mereka manja. Ayah yang kelak ketika mereka dewasa mengajarkan seperti apa cinta yang tulus itu. 

Untuk saat ini, rasanya memang terlalu muluk. Tapi, semoga ini bukan sekadar tulisan soal angan-angan masa depan, melainkan dapat menjadi doa sekaligus. Tuhan tidak tuli kan, Mas? Semoga Ia menitipkan sifat pengasih dan penyayang-Nya kepada kita saat menjadi orangtua nanti ya, Mas. 

Image credit: www.zhiwomei.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...