Langsung ke konten utama

Bincang-bincang Soal Beasiswa Bareng @KelasBogor


@KelasBogor


Beasiswa. Mendengar kata satu itu, siapa sih yang nggak mau mendapatkannya? Saat mendengarnya, yang pasti langsung terbayang adalah bisa kuliah di universitas yang didamba-damba, berlabel favorit, perguruan tinggi negri tempat "jebolan" orang-orang kece, jurusan yang selalu diimpikan. Bayangannya pun nggak sebatas yang di dalam negri, pasti memimpikan juga kesempatan dan kemungkinan bisa kuliah hingga benua seberang. Beberapa nama negara dan universitas kelas dunia satu per satu mulai memenuhi isi kepala. Nggak jarang ketika membayangkannya, selalu diselipi sebaris doa, semoga suatu saat nanti bisa menjadi salah satu mahasiswa yang duduk di kelasnya, menyusuri lorong koridor kampus yang ramai, atau mejeng di perpustakaannya yang luas. Eits, tapi yang paling utama ketika mendengar kata "kramat" bagi para mahasiswa ini (buat aku sih, soalnya nggak sembarang orang yang bisa mendapatkannya.) adalah GRATIS, DIBIAYAI!!

Kalau bisa mendapatkannya, yakin deh bisa jadi semacam pencapaian dan kebanggaan diri sendiri. Derajat orangtua otomatis terangkat, sahabat-sahabat dekat jadi punya bahan buat ikut membanggakan diri juga, semisal gini, "Lo kenal kan sama si Mamat? Yang sekarang lagi lanjut kuliah di London? Sohib gue itu, men!" (berasa keren jadinya, kan. Tapi ini kok rasa-rasanya, yang dapat beasiswa siapa, yang nyombong siapa, ya! Hahaha). Nama kampus kita dulu juga jadi terangkat, karena anak lulusannya berprestasi. Coba aja bayangin, misalnya anak Sastra Inggris dari Pakuan ada yang dapatin beasiswa Chevening buat kuliah di negri kekuasaannya Ratu Elizabeth II itu. Bagian mananya yang nggak bisa dibilang membanggakan? (buat anak-anak SasIng Pakuan, mari kita aminkan doa dan pengharapan ini, hahaha).

Beasiswa-beasiswa untuk kuliah ini banyak diberikan oleh pihak pemerintah ataupun swasta. Informasi mengenai pembukaan dan penerimaan beasiswa di lembaga instansi atau perusahaan tertentu semakin banyak disebar melalui situs-situs di internet. Seminar, workshop, dan pelatihan semacamnya semakin sering digelar di kampus-kampus. Nggak tanggung-tanggung mendatangkan orang-orang terkenal nan cihuy badai yang udah berpengalaman sebagai pembicaranya. Mulai memberikan pengenalan mengenai jenis-jenis beasiswa, motivasi, hingga tips dan trik mendapatkannya. Beruntung, kami, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Pakuan mendapatkan kesempatan menambah wawasan baru lagi dari Kang Unggul yang membagi pengalamannya menuntut ilmu di luar negri berkat beasiswa. 

Acara ini diadakan oleh Kelas Bogor, unit kegiatan komunitas Blogger Bogor (Blogor), yang kebetulan "meminjam" ruangan di kampusku, guys. Dan kelas kemarin (sebutan Kelas Bogor untuk seminar yang mereka adakan) adalah Kelas Mei 2015 yang mengangkat tema "Menulis Esai Beastudi". Buat Akang dan Teteh para blogger Bogor mungkin udah nggak asing dong ya sama Kelas Bogor dan Blogger Bogor. Setiap sebulan sekali Kelas Bogor bakal keliling membagikan ilmu-ilmu baru secara gratis. Kalau udah gratis begini, sayang dong buat dilewatkan begitu aja. Nah, buat temen-temen yang belum tau soal Kelas Bogor bisa intip-intip di mari. Atau langsung follow akun Twitter-nya di @KelasBogor, sekalian sama @BloggerBogor-nya juga, ya. Kalau udah follow, selamat bergabung dan temukan pengalaman dan temen-temen baru, sob! ^_^

Pembicara yang mengisi Kelas Mei kemarin kebetulan juga adalah si Pak Ketua dari @BloggerBogor, Kang Unggul. Doi ini pernah mendapatkan beasiswa LPDP S2 di IPB, Winter Course di Rusia, Jepang, dan Estonia. Dari pengalamannya itu, doi memberikan wejangan mengenai esai yang biasanya (atau selalu) diminta ketika kita apply salah satu beasiswa dari sebuah lembaga. Hal pertama yang doi tekankan adalah: berani untuk mendaftarkan diri dan mengirimkan aplikasi ke situs atau lembaga pemberi beasiswa. "Kalau nggak nyoba, nggak bakal tau hasilnya," tutur Kang Unggul. 

Kalau udah yakin akan mendaftar salah satu beasiswa yang didapat dari berbagai sumber informasi, saatnya kita menyiapkan kelengkapan persyaratan yang nantinya menjadi aspek penilaian yang menentukan diterima atau tidaknya kita oleh pemberi beasiswa. Dan esai menjadi bagian dari kelengkapan persyaratan itu. Jika berhadapan dengan esai semacam ini, hal yang perlu kita tanyakan terlebih dahulu sebelum elemen-elemen lainnya dalam esai adalah bagaimana menyajikan diri kita dalam esai singkat untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Tanyakan juga apa yang nantinya akan kita beri kepada pemberi beasiswa jika mendapatkannya. Jawaban dari kedua pertanyaan dasar itu yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan pemberi beasiswa untuk meloloskan kita atau tidak. Ibaratnya kan gini, "Gue udah ngasih lo beasiswa, terus habis itu lo mau ngasih apa buat gue?". Pemberi beasiswa juga nggak mau dong ngasih gitu aja secara cuma-cuma. Akan selalu ada feedback antara penerima dan pemberi. 

Agar esai yang kita tulis dilirik oleh tim penyeleksi pemberi beasiswa, kita perlu memperhatikan beberapa komponen seperti:

  • Lead, bagian muka atau awal dari sebuah esai yang isinya membahas mengenai program yang dituju, apa benefitnya (baik untuk kita sebagai penerima beasiswa maupun lingkungan sekitar), sesuatu yang inspiratif yang berkaitan dengan berita atau isu kekinian yang menyangkut dengan program tersebut. 
  • Bagian yang memperkenalkan diri, tentu aja harus tetap ada kaitannya dengan program beasiswa. Di bagian ini pun kita bisa share "Aha! Moment" kita dengan tepat, seperti kegiatan atau pengalaman apa aja yang pernah kita lakukan.
  • Penegasan berupa simpulan kelayakan dan keyakinan kita terhadap beasiswa tersebut. Tegaskan kembali kalau program beasiswa itu memang untuk kita dan kita akan menjadi "aset" berharga.
  • Isi keseluruhan esai harus bersifat akademik.
  • Setelah selesai, cek ulang tulisan. Perhatikan grammar (kalau diminta dalam bahasa Inggris), tanda baca, jumlah kata atau karakter jika dibatasi, dan ada bridging antarparagraf.
Dalam menyajikan diri kita dalam esai tersebut, kita juga perlu menyebutkan potensi yang dimiliki diri kita dengan menarik, kalau perlu ada unsur filosofisnya, dan ada yang dihubungkan dengan lingkungan masyarakat sampai negara. Kuncinya cuma (lagi dan lagi): harus tetap ada koneksi yang jelas antara "work plan" kita dengan program beasiswa yang kita tuju. Aspek leadership menjadi aspek yang penting juga ternyata, guys. Karena aspek leadership yang kita miliki menjadi hal yang membedakan kita dengan orang lain. Kalau leadership kita dinilai bagus kan lumayan jadi punya nilai plus dibanding kandidat penerima beasiswa yang lain, yagak? Kegiatan sosial, pengalaman menjadi relawan, aktif di organisasi semisal karang taruna dan komunitas, bisa jadi bahan pertimbangan juga. So, jangan anggap remeh ya keterlibatanmu dalam suatu organisasi atau komunitas, walaupun kamu merasa bukan siapa-siapa di organisasi atau komunitas itu, yang sering kali jabatannya cuma mentok sampai seksi konsumsi. Siapa tau keikutsertaanmu yang kamu anggap kecil itu bisa membawamu meraih mimpi mendapatkan beasiswa yang kamu inginkan. Yuk, perluas lagi jaringan organisasi dan komunitas kita. Tapi hati-hati ya dalam memilih organisisi dan komunitas yang ada di sekitarmu. Kalau salah pilih, bisa-bisa masalah yang didapat, hehehe.

Tip terakhir yang Kang Unggul share ke kita semua dalam menulis esai adalah: jangan pernah bosan untuk berlatih menulis. Sering-sering googling contoh esai motivasi aplikasi beasiswa, pelajari gaya penulisannya, lalu berlatih. Sering baca esai serupa juga jadi faktor pendukung dalam mengembangkan skill kita menulis esai. Intinya gini: baca-terjemahkan (kalau dalam bahasa Inggris)-review-ambil inti sarinya, begitu kata Kang Unggul.

Selain itu Kang Unggul juga menambahkan kalau selain dilihat dari nilai akademik, esai dan wawancara juga jadi bahan pertimbangan yang sama pentingnya dengan nilai akademik pada tahap pengseleksian beasiswa. Jadi tampilkan yang terbaik yang ada pada diri kita, tapi jangan sampai berbohong. Kalau esai udah siap, nggak ada salahnya berlatih untuk tahap wawancaranya. Siapkan data-data tertulis dan daftar pertanyaan yang sekiranya bakal diajukan ketika wawancara nanti. Dan pada saat eksekusinya, berikan kesan yang baik atau gesture yang postif. 

Sebelum mencapai tahap esai dan wawancara, ada beberapa hal yang perlu kita siapkan terlebih dahulu, yaitu mengenai perencanaan. Setiap keputusan membutuhkan sebuah perencanaan, sama halnya ketika kita memutuskan untuk apply beasiswa. Perencanaan ini berkaitan dengan kesiapan kita sebagai calon kandidat penerima beasiswa yang perlu memperhatikan hal-hal semacam: cek kualifikasi, mempelajari peta persaingan, mempelajari profil pemberi beasiswa seperti visi dan misinya, timeline yang dibutuhkan untuk menyiapkan dokumen yang diminta hingga batas waktu penerimaan. 

Kalau dokumen udah siap semua, esai udah oke, jangan lantas merasa tenang, coy. Recheck your documents is required! Yup, cek ulang dokumen sebelum dikirim dan cocokkan kembali dengan list persyaratan dokumennya. Kesalahan sedikit aja bisa jadi vatal lho. So, jangan menganggap enteng persoalan dokumenmu, ya. Ibarat pakai baju, kalau ada cowok yang atasnya kece tapi bawahnya cuma pakai boxer, nggak bakal dilirik juga, kan? Sama dengan halnya dokumen aplikasi beasiswamu. Kalau ternyata ada yang kurang karena kecerobohanmu yang nggak meriksa ulang sebelumnya, jangankan berharap bakal diterima, dilirik juga mungkin keburu males. Nah, biar nggak mengalami hal kayak gitu, Kang Unggul bagi-bagi tips lagi ketika kamu akan mengirim semua dokumen yang diminta, di antaranya:

  • Pastikan CV-mu udah sesuai dengan persyaratan aplikasi yang diminta.
  • Dokumen disusun secara beruntun berdasarkan list persyaratan dari pemberi beasiswa, mulai dari form, esai, sampai transkripmu.
  • Aspek legal dokumen udah oke (legalisir, translasi, dll.)
  • Untuk foto yang biasanya juga diminta, kalau kamu merasa nanti takut terselip dan ada kemungkinan hilang, kamu bisa memberikan namamu di bagian belakang fotomu, atau tempel fotomu pada selembar kertas.
Sekarang jadi semakin tau kan apa aja printilan yang kudu diperhatikan kalau mau apply beasiswa? 
Ups, tapi masih belum tau di mana bisa dapat informasi soal beasiswanya?
Nih, guys, kamu bisa coba cari melalui:
  • Milis (beasiswaindo, milisbeasiswa, INOMICS, dll.)
  • Web/blog
  • Langsung browse ke situs yang udah kamu tau sebelumnya, pokoknya manfaatkan fasilistas gadget dan internet yang kamu miliki.
  • Sering-sering nengok mading kampus, karena biasanya banyak informasi seputar kampus, kuliah, hingga beasiswa yang dipajang di sana.
Itu tadi yang kemarin kita obrolin bareng Kang Unggul dan Kelas Bogor di sesi Kelas Mei 2015. Gimana, udah jelas? Semoga menambah pengetahuan kita ya, guys, soal beasiswa ini. Kalau udah tau ilmu, tips, dan triknya, nggak ada salahnya langsung diaplikasikan buat dapatin beasiswa yang udah kamu idam-idamkan selama ini. Buat yang masih pengin tau lebih banyak, bisa juga tanya-tanya Kang Unggul di @unggulcenter :)

Mengutip kembali kata-kata Kang Unggul, kalau kita nggak pernah nyoba, kita nggak akan pernah tau hasilnya. Pasti akan ada kesempatan yang menjadi giliran kita selanjutnya, dan yakinlah akan ada peluang dari setiap kesempatan itu. Selamat belajar lagi, selamat mencoba, dan jangan berhenti buat terus bermimpi :)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

The Man Who Can't Be Moved

"Some try to hand me money, they don't understand I'm not broke, I'm just a broken hearted man I know it makes no sense but what else can I do? How can I move on when I'm still in love with you?" Entah sudah berapa ratus kali aku melihat kamu mendengarkan lagu itu. Berapa kali juga telah kamu jadikan lirik-liriknya sebagai status Facebookmu. Berapa ratus kali pula aku menghela napas melihat tingkahmu itu. Tidak punya semangat hidup. Hidup tinggal sebuah hal yang kau jalani mengikuti air membawamu mengalir, dan angin mengempas tubuhmu. Tanpa ada perjuangan. Kau melangkah tapi tak tahu tujuan. Kau kulaih tapi tak tahu untuk apa. Ada awan mendung yang meliputi atas kepalamu sejak berbulan-bulan lalu, ketika sahabatku yang sangat kau cintai, yang hidupnya bagai lentera kehidupan bagimu, tiba-tiba saja memutuskan hubungan kasih kalian. Kau seketika hancur. Berhari-hari tidak makan, kuliah sering telat. Dan aku berjam-jam menemani kegalauanmu di SMS. Suda...