Langsung ke konten utama

Hujan Daun-daun: Rahasia Masa Lalu di Balik Mimpi dan Lukisan



Menjelang ulang tahunnya di penghujung Februari, yang hanya bisa ia rayakan empat tahun sekali itu, Tania sering memimpikan mimpi yang sama. Tentang daun-daun yang berguguran dari sebuah rain tree dan seorang anak perempuan mengenakan gaun biru muda yang selalu hadir dalam mimpinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tania meyakini bahwa di hari ulang tahunnya kali ini pun akan terjadi sebuah peristiwa besar, yang menurut Stella, sahabatnya hanyalah sebuah kebetulan. Tapi Tania sangat yakin, bahwa mimpinya tersebut bukan sekadar bunga tidur, seakan ada tanda lain di balik mimpinya tersebut. Mimpinya itu seolah berusaha menunjukkannya tentang suatu hal mengenai kehidupan masa lalu keluarganya, ayah dan ibunya yang tidak pernah ia ketahui.

Selama ini, Tania hanya mengenal kakek dan neneknya. Kedua orang tersebut yang telah membesarkan Tania. Sedangkan ayah dan ibunya hanya ia kenal lewat sebuah foto lama dalam pigura yang Tania taruh di atas nakas di kamarnya. Tania tidak benar-benar mengenal orangtuanya sendiri, bahkan kakek dan neneknya pun seperti menyembunyikan rahasia besar tentang orangtua Tania. Yang Tania tahu hanyalah kedua orangtuanya meninggal ketika ia masih sangat kecil. 

Mimpi itu terus hadir hingga datang seorang wanita paruh baya menemui Tania dan mengungkap rahasia keluarganya yang selama ini ingin Tania ketahui, yang tidak pernah ia dapatkan setiap ia bertanya kepada kakek dan neneknya sendiri. Satu per satu jawaban atas pertanyaan Tania mulai terjawab, bahwa ayahnya adalah seorang pelukis ternama bernama Alex Wibowo dan ibunya wanita cantik yang sangat memerhatikan penampilan bernama Lukita, anak satu-satunya kakek dan nenek Tania. Selain mengungkap masa lalu Alex dan Lukita, Meilia, wanita paruh baya itu pun membawa serta sebuah lukisan yang menjadi warisan dari Alex untuk Tania. Berkat mimpi dan lukisan tersebut, Tania mengurai masa lalu keluarganya.

Alex tak benar-benar mencintai Lukita. Sebelumnya, ia telah memiliki pujaan hati, Meilia. Alex meninggalkan Lukita bersama anak mereka untuk pergi (atau kawin lari, lebih tepatnya) bersama Meilia. Alex membawa salah satu putrinya dengan Lukita, Tiana, bersama dirinya dan Meilia. Setelah tahu Alex pergi meninggalkannya, Lukita yang sangat mencintai Alex memutuskan bunuh diri. Dan Tania, bayinya satu lagi, Lukita titipkan kepada kedua orangtuanya.

Buat yang penasaran dengan akhir cerita atau yang belum baca novel yang ditulis "keroyokan" ini, langsung pesan di toko buku online atau cari di toko buku-toko buku besar sekitaran rumahmu ya, Guys! (semoga masih ada) 

Setelah membaca novel ini, saya menemukan beberapa kata yang ditulis secara inkonsisten, seperti kata "tidak" dan "nggak" yang sering berubah-ubah. Kadang memakai "tidak" tapi pada bagian yang lain memakai "tidak". Kesalahan ketik saya temui juga di beberapa bagian dalam novel ini, tapi (untungnya) tidak terlalu banyak, seperti spasi antara titik dan kata pertama awal kalimat selanjutnya, kata yang ditulis berulang dalam satu kalimat, dan nama tokoh utama yang kebetulan diceritakan kembar yang sering tertukar, antara Tania dan Tiana. 

Tapi secara keseluruhan saya menikmati alur ceritanya. Walau ditulis dengan alur campuran, peralihan alur pada setiap bab masih bisa diikuti dan tidak membuat pembaca kebingungan dalam menentukan mana alur utama dan mana alur pendukungnya. Ceritanya dikemas sederhana, tapi terdapat kejutan di beberapa bagian yang membuat pembaca penasaran ingin membuktikan dugaannya benar atau salah. Untuk saya pribadi, saya diajak merasakan kembali bagaimana serunya jatuh hati pada seseorang. Meski bagian itu bukanlah menjadi fokus utama novel ini, tapi kehadirannya sebagai bagian cerita terasa menjadi bumbu penyedap yang pas. Saya sampai senyum-senyum sendiri ketika sampai ending-nya. Manis dan tidak berlebihan.

Judul: Hujan Daun-daun
Penulis: Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman
Penerbit: Gramedia
Tahun: 2014
Halaman: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-0376-5 

Komentar

  1. Sempet mau beli buku ini, tapi gagal :''

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga karena pinjam dari temen aja, jadi baca.. hehehe. Recomended, sih, buat nemenin weekend :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...