Langsung ke konten utama

Surat Untukmu: Tentang Pilihan


Sumber foto: rebloggy.com


Bogor,
01 Juni 2015

Kepada yang tak bisa kusebut namanya di sini,

Kau beberapa kali pernah mengatakan kalau aku sering kali terlihat rumit ketika dihadapkan dengan dua pilihan. Terlalu banyak yang aku pikirkan, bahkan hingga aku khawatirkan padahal belum aku hadapi sepenuhnya, begitu juga katamu. Sedangkan kau, kataku, berkebalikannya denganku. Serumit apapun pilihan yang kau hadapi, kau selalu terlihat tenang dan yakin. Meski banyak yang meragukanmu, yang mempertanyakan kemampuanmu, tak akan dengan begitu saja menggoyahkanmu. Kau tahu betul, semua pilihan dan keputusan sepenuhnya ada di tanganmu. “Orang lain boleh mengatakan banyak hal tentang dirimu, tapi hidup adalah tentang kau yang menjalaninya, kau punya pilihan dan kau juga yang memutuskan, bukan orang lain,” katamu suatu waktu.

Lalu bagaimana dengan pilihan yang telah aku putuskan kali ini? Aku belum sempat menceritakannya kepadamu. Bahkan aku sempat tak berniat mengatakannya. Entah untuk tujuan apa aku perlu menutupinya darimu. Terakhir kali aku mengeluhkan sikap teman-temanku tentang hubungan kita, kau tampak agak sedikit sebal. Bukan karena mereka meragukanmu. Mereka mempertanyakan kenapa kita bisa sampai pada tahap ini, dengan pertemanan kita, kenapa begitu sering kita menghabiskan waktu berdua. Mungkin karena itu juga, aku memutuskan untuk tak lekas menceritakan apa yang baru saja aku alami. Kupikir kaupun akan sebal mendengarnya.

Kau masih ingat dengan salah satu teman dekat priaku, yang sering kuceritakan itu? Lusa kemarin ia mengirimiku pesan. Dari pesan tersebut ia memintaku melakukan sesuatu untuknya: memberinya pengertian atas pilihan yang telah ia putuskan. Ini tentang prinsip hidupnya. Sebagai sahabat, tak ada alasan bagiku untuk melarangnya. Kusampaikan dukunganku. Tak kutanya pula apa alasan ia telah memutuskan pilihan itu. Aku tak berniat menanyakannya, toh dari awal obrolan kami melalui pesan singkat itu, aku merasa tak ada tanda-tanda ia akan menjelaskan apa yang menjadi penyebabnya. Mungkin ia tak ingin aku mengetahuinya. Mungkin juga menurutnya, keputusannya itu tak terlalu penting untuk diceritakan kepadaku. Tapi pada pesan selanjutnya, akhirnya ia menjelaskan alasannya.

Nggak baik perempuan dan laki-laki berdekatan, bahkan cuma SMS-an. Itu sudah dianggap berdua-duaan, dan nggak diperbolehkan. Aku hanya pengin menjalankan apa yang agamaku ajarkan. Dan aku merasa ini waktu yang tepat buat melakukannya. Selama ini kita sudah sering menghabiskan waktu berdua, dan hanya kamu teman wanitaku yang paling dekat dan yang paling sering menghabiskan waktu denganku. Jadi, sekarang aku pengin membatasinya. Aku hanya akan menghubungimu sewaktu ada hal penting aja, begitu juga kamu, sebaiknya nggak menghubungiku kalau nggak ada hal yang penting buat ditanyakan. Kita tetap berteman, kok.”

Sungguh tak ada di pikiranku saat itu selain memahami apa yang menjadi pilihannya. Aku pun tak bertanya ataupun menuntut penjelasan lain darinya. Setelah itu aku tahu akan ada hal yang berubah di antara aku dengannya. Aku harus menghargai keputusannya dengan cara membatasi diriku juga untuk menahan diri tak menghubunginya saat tak ada hal penting yang perlu kukatakan padanya. Pun sekaligus selalu mengingatkan diri untuk membatasi diri baik dalam hal bersikap maupun bertutur di hadapannya. Baik hanya melalui pesan singkat maupun saat bertatap muka langsung. Secara tak langsung ia pun mencoba menularkan kebaikan kepadaku.

Dugaanku ternyata tepat. Terlalu tepat malah rasanya. Di akhir pesannya ia memintaku untuk melakukan hal yang sama dengannya. Ia menghubungkannya denganmu. Membaca pesannya itu, aku ragu. Apa aku sanggup melakukannya juga? Bukan. Bukan itu, lebih tepatnya apa aku perlu melakukannya juga saat aku sendiri tak ingin melakukannya? Karena tak yakin, maka kubilang kalau aku tak bisa janji bisa melakukannya sekarang. Ia membalas kembali. Ia menertawakan jawabanku sebelumnya. “Terserah,” katanya. Kuharap hanya kata itu yang tertera dalam pesan balasannya. Tapi ada tiga baris kalimat lainnya setelah kata “terserah” itu, tentang Tuhan, agama, dan dosa. Lalu kuartikan pesannya itu sebagai bentuk ancaman. 

Aku terlalu marah untuk membalasnya kembali, maka kubiarkan pesannya tak terbalas. Aku terlalu marah hingga yang terjadi selanjutnya adalah aku menangis. Aku mengakui apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Bukan itu pula yang membuatku marah. Aku tahu bahwa ada saatnya di suatu hari nanti akupun mungkin akan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan sekarang. Tapi kenapa? Kenapa ia meminta dan menginginkanku melakukannya juga sekarang, saat aku sendiri tak menginginkannya? Kenapa aku harus menarik diri darimu saat aku tak menginginkan sesuatu berubah di antara kita? Kenapa tak ia biarkan aku dengan perasaanku padamu? Kenapa tak juga ia biarkan untuk melakukannya pelan-pelan, melonggarkan ikatanku padamu sedikit demi sedikit hingga sampai di satu hari itu aku yakin bisa melepasmu sepenuhnya? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak dapat janji untuk melakukannya sekarang?

Kenapa tak ia biarkan aku dengan pilihanku sendiri? Kenapa ia sampai menyinggung soal aku dan kau? Tak cukup baikkah aku di mata Tuhan selama ini? Terlalu berdosakah aku atas pilihanku sekarang untuk tetap memilih diam? Terlalu berdosakah jika aku tetap ingin bersamamu? Apakah Tuhan akan benar-benar menghukumku jika aku masih menginginkan kita seperti ini, seperti biasanya, apa adanya? Kenapa tak ia biarkan saja kita seperti ini? Kenapa ia harus mencampuri dan ikut menentukan apa yang menjadi keinginan dan pilihanku? Kenapa pilihannya pun seakan ingin menyeretku?

Aku ingat sebelumnya ia pun pernah mengutarakan hal yang sama. Tapi waktu itu ia mengatakan ingin tidak terlalu sering menggunakan gadget miliknya. Bahkan kalau perlu tidak menggunakannya sama sekali. Lagi, waktu itu pun aku mendukung keinginannya itu, meski tak benar-benar meyakininya. Setelahnya, sepertinya, kami sama-sama melupakan tentang hal itu. Kami masih berkomunikasi dengan baik, jangankan melalui ponsel kami, beberapa kesempatan pun kami masih sempat pergi berdua. Lalu kupikir tak akan ada masalah dengannya, bahwa ia tampak tak berkeberatan dengan keberadaanku. Sampai kemarin, saat ia mengatakan tentang hal tersebut, aku masih mencoba untuk tidak menuntutnya penjelasan, meski aku terus menduga-duga apa yang menjadi faktor pemicunya. Karena ia tetap mengatakan bahwa sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya, aku sepenuhnya memercayainya.

Pikirku, semuanya tidak akan berakhir seperti ini, dengan kemarahan dan kekecewaanku, kalau saja pesannya berakhir saat ia mengatakan semoga aku mengerti keputusannya, tanpa melibatkan hubunganku denganmu. Aku semakin menduga-duga. Semakin aku berpikir macam-macam. Kalau memang ternyata ada sesuatu atau seseorang yang membuatnya mengambil keputusan ini, kenapa ia pun melibatkanku? Kenapa ia membawa-bawamu dalam pesannya?


Tanpa ia tahu, aku sudah berulang kali meminta Tuhan menghilangkan perasaanku padamu. Mencoba menahan diri untuk tak selalu menghubungimu. Berusaha menahan keinginan untuk bertemu denganmu. Meyakini diri bahwa kita akan tetap menjadi sahabat baik, kalaupun aku tak bisa menjadi seperti dulu lagi. Memercayai bahwa kau akan baik-baik saja jika langkahku mulai menjauh darimu. Memercayai juga bahwa akupun bisa menjalani waktu ketika ada jarak di antara kita yang kubuat sendiri, demi kebaikan kita. Tanyakan saja pada Tuhan, berapa kali aku mengadu dan memaksanya untuk menahan persaanku padamu agar tak semakin tumbuh rindang. memintaNya untuk mengalihkan pikiranku darimu. Tanpa ia tahu, tanpa ia perlu membawa dan menyangkutpautkan nama Tuhan dan agama kita, aku pun ingin lepas sepenuhnya darimu.

Sampai waktu itu datang, aku memilih diam dengan perasaanku. Kaupun tetaplah berpura-pura tidak mengetahui perasaanku. Dan kita masih akan tetap seperti ini. Aku akan meminta Tuhan untuk tetap berbaik hati kepadaku dengan tidak menghukumku atas apa yang telah menjadi pilihanku.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...