Langsung ke konten utama

Yuk, Jadi Pemuda yang Kreatif!





Sumber foto: pixabay.com


Well, first of all mau makasih dulu sama Jung yang undah mengundang gue buat jadi guest blogger di project-nya kali ini yang dikasih judul September Kreatif. Ini jadi salah satu kehormatan buat gue pribadi, karena ini tandanya gue dianggap layak buat berkontribusi. Yaa walau nantinya yang gue omongin kesannya nggak penting-penting banget. Okay, dalam tulisan pertama gue di Sepetember Kreatif ini gue mau sharing pandangan gue soal being creative and creative thinking.

Sebelum gue menanyakan kedua konsep tadi ke diri gue sendiri, gue terlebih dahulu nanya beberapa temen kuliah gue. Apa atau gimana, sih, pandangan mereka soal kreatif dan berpikir kreatif. Secara, kan, mereka juga masih muda, dan kata Jung di dalam salah satu postingannya kemarin, yang muda itu yang mikir. Dan kita masih muda, tapi apa kita mikir? Mikirlah pasti, tapi konsep ‘mikir’ yang kayak gimana dulu yang diacu di sini.

Jawaban dari temen-temen gue macem-macem. Mulai yang dari idealis dan panjang lebar, sampe ada yang bilang, “Creative thinking itu, yaa berpikir kreatif. Okay, nice try, Pal. Tapi nggak gitu juga keleess -__- *sembur pake air kembang*. Kalau gue ambil benang merah dari semua jawaban mereka soal creative thinking adalah berpikir yang nggak biasa, unik, out of the box, berani beda dari yang lain, create the newest thing, yang “gue banget gitu, lho!”.  Ada juga yang bilang, “Karena berpikir kreatif melahirkan sesuatu yang beda, kadang sesuatu yang beda itu pada awalnya sulit diterima, karena ada patokan atau konsep dasar yang dimodif, diubah. Unsettled.” Terus ada yang menambahkan begini, “Nggak cuma itu, Ti, kalau menurut gue antara kreatif dan berpikir kreatif itu beda, walau keliatannya sama ujung-ujungnya pasti dibilang kreatif. Kreatif itu adalah tindakannya atau prosesnya, ada implementasinya, tapi kalau berpikir kreatif adalah otak dari tindakan kreatif itu sendiri. Sederhananya, sebelum lo jadi orang kreatif, lo kudu punya otak yang kreatif dulu.” Ini sejalan, nih, sama pendapat Jung yang bilang, yang namanya kreatif itu nggak tiba-tiba langsung ada jatuh dari langit.

Kalau tadi pendapat dari temen-temen gue, sekarang boleh, ya, giliran gue yang berpendapat. Bagi gue, kreatif itu nggak melulu produce a new product, nggak melulu making atau creating something real, concrete things. Kreatif juga bisa sebuah gerakan atau kegiatan. Tapi bukan sekadar gerakan atau kegiatan biasa. Ada visi dan misinya untuk perubahan. Nggak usah muluk-muluk dulu, deh, buat perubahan bangsa dan negara, buat diri sendiri, lingkungan rumah, dan pertemanan aja dulu. Gue juga berpandangan kalau there’s no something very new in the world. Mungkin ada, tapi mungkin cuma 0,1 % dari keseluruhan. Dan kalaupun ada, s/he is so awesome, karena gue belum bisa seperti dia (catatan: gue suka terpesona sama orang yang bisa melakukan sesuatu yang nggak gue bisa. Gue mah orangnya gitu :p). Karena pandangan gue tadi, gue merasa kalau yang terjadi berikutnya adalah sebuah proses pengulangan. Nah, di sinilah peran otak kreatif kita sebagai manusia dibuktikan. Pengulangan berarti recreate, remake, reproduce, modified, dan fungsi otak kreatif kita itulah yang bisa menggerakan proses yang tadi gue sebutin.

Gimana kita bisa sampai di tahap seperti itu, memberdayakan otak kita biar kreatif? Kalau menurut gue, kita cuma perlu peka sama keadaan sekitar. Kita udah disediakan clue-nya sebenarnya, tinggal bagaimana kita menemukannya dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Setiap tindakan kreatif pasti punya peluang buat merealisasikannya, dan peluang itu didapat dari clue atau kepekaan kita. Udah pada nonton film Big Hero 6, dong, pasti? Masih inget bagaimana ceritanya? Dalam sebuah adegan si tokoh utama (siapa, tuh, namanya?) membuat semacam penemuan baru yang dia dapat setelah dia melihat robot rakitannya sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Dia dapat idenya setelah dia melihat sesuatu yang udah ada sebelumnya, kan? Boleh, dong, kalau kita sepakati kalau itu adalah salah satu contoh being creative dan creative thinking?

Selain itu, gue juga beranggapan bahwa menjadi kreatif sama aja dengan kita menunjukkan dan mempertahankan eksistensi diri. Kadang tanpa kita sadari, saat kita menjadi kreatif kita memiliki rasa pengin diakui keberadaannya. Ada hal yang pengin kita tunjukkan yang kemudian berimbas kepada pengakuan diri dari lingkungan sekitar. Hal ini, selama bernilai baik dan postif, nggak jadi soal, asal jangan sampe jadi kepala besar, angkuh, dan egois ya, Guys. Sekreatif-kreatifnya kita tentu ada batasannya yang mengacu kepada norma-norma, ya.

Mungkin itu aja yang pengin gue sharing di tulisan pertama gue ini (that means, gue bakal nulis lagi soal creative thinking di kesempatan berikutnya. Doain aja biar gue nggak mager hahaha :p). Dengan tulisan ini, bukan berarti gue udah bisa atau melakukan segalanya untuk perubahan yang lebih baik. Tapi seenggaknya tulisan gue ini bisa jadi reminder buat diri gue dan juga kalian yang ngakunya masih muda dan produktif untuk terus mengasah otak dan skills kita dengan hal-hal yang kreatif. Karena jadi kreatif itu menyenangkan, membuat kita nggak cepet tua. Lah, kok bisa? Yaa orang yang dikerjain sesuatu yang fresh dan menyenangkan, kok, gimana bisa cepet tua. So, bisa jadi obat awet muda juga, dong. Just give it a try kalau begitu J

Selamat berpikir, selamat berkeativitas, selamat bekarya :)


Catatan: Tulisan ini sebelumnya udah di-post di blog Arif Munandar alias Jung di jungjawa.com sebagai bagian dari partisipasi projek kecil-kecilan punya Jung, September Kreatif

Komentar

  1. Yuk jadi pemuda kreatif, nice share :) ,
    yuk follow-followan blog ya
    visit mine on frondyff.blogspot.com, Thanks

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...