Langsung ke konten utama

Ih, Enggak Nyambung, Deh!


Image credit: debbyng.wordpress.com


Apa tujuanmu mengomentari status terbaru temannu di media sosial? Mungkin karena: sedang mengalami hal serupa dengan status yang dipasang si teman, mempunyai pendapat mengenai status tersebut, cuma buat meramaikan kolom komentar dan notifikasi, dan mencari hiburan karena bisa seru-seruan dan ketawa-ketawa. Atau mungkin ada juga yang berkomentar untuk mendapatkan perhatian dari si pembuat status? Mungkin doi adalah sang gebetan, idola, atau dosen buat menarik perhatiannya biar nilai UAS-ya dibagusin. Apa pun isi dan motifnya, media sosial menegaskan bahwa semua orang berhak mengutarakan ide, gagasan, isi kepala maupun hatinya. Semua orang bebas berpendapat dan mengekspresikan dirinya di ruang publik dengan berbagai cara dan bentuk. Tapi, tentu aja nggak ada hal yang bisa dilakukan semau dan sebebas-bebasnya. Tetap ada aturan berupa norma yang harus kita patuhi. Selain itu, ada baiknya juga disesuaikan dengan tempat, waktu, dan suasana. Jangan sampai saat kita berkomentar, komentar yang diutarakan malah menimbulkan salah paham apalagi berujung adu mulut dan pertengkaran. 

Penyesuaian ini juga dilakukan biar nggak dibilang nggak nyambung. Teman kita bahas apa di statusnya, kita malah berkomentar hal di luar itu. Kalaupun tujuannya berkomentar buat menarik perhatian si pembuat status, I tell you, Guys, cara yang begitu itu sangat-sangat nggak elegan. Boro-boro ditanggapin, yang ada kita malah dicap aneh dan nggak nyambung. Hal ini baru aja saya alami beberapa hari lalu, ketika seorang sahabat saya memasang status check-in di sebuah tempat makan, lalu saya mengomentarinya. Balas-balasan komentar di antara kami terjadi beberapa kali sampai datang seorang teman dari sahabat saya itu untuk ikut berkomentar. Bukan menanggapi dengan hal yang masih berhubungan dengan status tersebut, si Panda (mari kita sepakati menyebut teman sahabat saya itu dengan nama Panda) malah berkomentar mengenai KB (Keluarga Berencana). Doi menjelaskan, yang menurut saya, cukup panjang mengenai KB ini. Yang ada di kepala saya seketika adalah, "Hey, Chick, what you gonna do here? What the h*** you are saying? Are you kidding me?" Ini lagi bahas tempat makan, kenapa nimbrung bahas KB? -____-" 

Annoying? Buat saya, ya. Sekali lagi saya ulangi, kalau tujuannya berkomentar cuma buat menarik perhatian orang lain, caranya nggak begitu. Masih ada cara lain yang bisa dipakai, yang tentu aja lebih baik, lebih bijak, dan lebih elegan. Nggak usahlah merendahkan diri dengan cara-cara konyol dan menyebalkan seperti itu. OOT banget, kan? Jaauuuhhh banget, asli. Bukannya perhatian yang didapat, yang ada dicap aneh karena nggak nyambung. Nggak enak kan, dibilang nggak nyambung? Karena kalau orang udah menganggap kita nggak nyambung, itu tandanya kita juga udah melabeli diri kita sebagai orang yang nggak asyik diajak ngobrol. Dan menjadi yang seperti itu nggak ngenakin. 

Berkomentar bisa termasuk sebagai bentuk komunikasi, kan? Dan pada dasarnya komunikasi mempunyai kaidah-kaidah yang mengatur berlangsungnya komunikasi tersebut, yang oleh Paul Grice disebut kaidah percakapan (maxim of conversation). Baik penutur maupun lawan tutur, masing-masing punya tugas: penutur menyampaikan pesan sejelas mungkin agar bisa diterima dan dipahami lawan tutur, dan lawan tutur merespons pesan penutur berupa tindakan. Dalam berkomunikasi, keduanya harus bekerja sama agar pertukaran pesan berjalan lancar dan baik. Oleh Grice, penutur dan lawan tutur sama-sama harus mematuhi empat maksim: maksim kualitas (maxim of quality); maksim kuantitas (maxim of quantity); maksim relevansi/hubungan (maxim of relevance); dan maksim cara (maxim of manner). Tapi, kadang-kadang prinsip maksim ini dilanggar oleh salah satu pihak. Yang terjadi? Pesan nggak tersampaikan dengan baik, termasuk ke dalamnya nggak nyambung. 

Nah, pelanggaran maksim yang dilakukan oleh si Panda adalah pelanggaran maksim relevansi/hubungan (maxim of relevance). Karena apa? Maksim relevansi mengarahkan penutur untuk berujar sesuai dengan konteks terjadinya percakapan/obrolan. So, kalau penutur berujar di luar dari konteks percakapan yang sedang ia lakoni, maka dia melanggar prinsip maksim ini. Kesimpulannya: penutur nggak nyambung sama obrolannya. Pun yang terjadi sama si Panda. Doi mengutarakan hal yang nggak ada hubungannya sama sekali sama konteks status yang doi komentari. Contoh lainnya begini:

A: Apa kamu mau pergi ke bioskop bersama saya besok malam?
B: Saya sudah ada janji dengan teman saya untuk belajar kelompok.

A dan B terlibat dalam satu percakapan dengan konteks "A mengajak B pergi ke bioskop". Jawaban B dapat diartikan kalau B sudah punya janji lain dengan temannya sehingga dia nggak bisa pergi ke bioskop dengan A. Beda kalau si B menjawab....

A: Apa kamu mau pergi ke bioskop bersama saya besok malam?
B: Saya harus menyisir rambut.

Bisa lihat perbedaannya, kan? Jawaban B di contoh kedua itu nggak nyambung dengan ajakan A pergi ke bioskop. Buat kalian, seenggaknya jadi nambah infomarsi sedikit ya, kalau ternyata mengobrol pun ada kaidah/prinsip yang mengaturnya. Buat penjelasan maksim yang lainnya, kalau lagi ada waktu luang dan berminat buat tahu lebih banyak silakan googling mengenai teori maksim dari Paul Grice ini. Mudah-mudahan aja, setelah tahu soal prinsip maksim ini, kita jadi semakin sadar kalau lagi asyik ngobrol, mana hal yang perlu diucapkan dan mana yang nggak. Nggak mau kan, kitanya lagi seru banget ngoceh, terus si sohib bilang, "Ih, nggak nyambung deh, lau!" :p

Regards,
T

Komentar

  1. Beneran gak nyambung

    www.semesta-berbicara.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, nggak nyambung sama bagian yang mananya, nih? Hehehe :p

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...