Image credit: favim.com
"Sstt...jangan sembarangan cerita soal mimpi kita ke orang lain. Orang terdekat terkadang adalah orang yang mudah membunuh mimpi-mimpi kita." Begitulah pesan Si Abang setelah saya misuh-misuh ke dia karena tanggapan seorang sahabat (tentu aja udah saya samarkan namanya pas curhat ke Si Abang) ketika saya bercerita soal keinginan saya untuk bisa sekolah di luar negri. Pikir saya, kan sahabat masa iya nggak mendukung keinginan dan cita-cita sahabatnya. Tapi, kata-kata Si Abang itu ada benarnya juga, sih. Coba kamu yang sekarang lagi pacaran, yang sering bikin kamu sebel, kesel, bete, marah, sampai nangis siapa kalau bukan pacar kamu sendiri? (jadi kompor hihihi :p)
Alih-alih mendukung mimpi saya, dia malah becandain saya dengan bilang "Udah pesantren aja sana." Oke, ini memang becanda, tapi karena situasinya saya lagi menggebu-gebu dan kepalang berharap dia jadi orang yang bakal mendukung saya penuh dengan statusnya sebagai seorang sahabat, nyampenya ke saya bukanlah candaan. Yang ada saya baper. Semangat dan percaya diri yang sebelumnya lagi penuh-penuhnya seketika jadi lemempem. Bantet kayak bolu kurang pengembang dan teknik mixing-nya nggak bener. Apa iya saya teh, punya mimpi ketinggian dan terlalu muluk pas keadaan ekonomi dan keuangan lagi nggak bagus?
Tapi kan, nggak ada salahnya mereun punya cita-cita tinggi? Buktinya Andrea Hirata aja bisa sekolah di Perancis. Keluarganya kurang mampu, lingkungannya serba biasa. Kalau ada niat besar, usaha maksimal, tekun dan giat, yang kata orang "ah kamu mah nggak mampu", bisa aja prediksinya melenceng, iya nggak? Bukannya beberapa takdir masih dapat kita ubah berkat usaha dan doa kita setiap waktu?
Nah, ngomongin soal tekun dan giat, rasanya memang perlu jadi dasar sifat kita, deh. Bakat jadi orang pinter, tapi kalau nggak dibarengi dengan tekun belajar rasanya percuma, ya. Jadi nggak berkembang gitu. Tekun jadi kunci utama buat berhasil. Tekun belajarnya, tekun berdoa nya, tekun memperbaiki diri. Dan rasanya dalam ketekunan itu juga terdapat kedisiplinan dan tanggung jawab.
Berarti sekarang kalau saya pengin cita-cita saya yang satu itu bisa terwujud, saya kudu mulai tekun lagi dari sekarang. Kalau sampai terwujud bisa jadi pembuktian kalau saya ternyata bisa. Bangganya bukan cuma buat diri sendiri, tapi keluarga dan sahabat-sahabat kan, ya? Hihihi :D
Tanggapan sahabat saya itu cukup jadi bahan bakar semangat saya, bukan malah buat menghancurkan mimpi saya. Siapa tau sebenarnya dia sedang mengetes saya, seberapa besar keinginan saya untuk mewujudkannya. Yaa ibaratnya mah ngompor-ngomporinlah biar gerak, nggak sekedar di mulut aja hehehe. (Semoga, berharap banget memang begitu, biar nggak kecewa-kecewa banget dipatahkan oleh sahabat sendiri hiks :'()
Saya juga sekalian menyemangati kalian yang sedang berlari menuju mimpi kalian. Orang lain memang udah tugasnya memberi masukan, kritik, saran, baik ataupun buruk. Biarkan mereka memandang diri kalian berdasarkan imajinasinya. Itu hanya penilaian dan gambaran mereka. Hasil nyatanya ada di tanganmu, dalam setiap usahamu. Pandangan mereka belum tentu benar. Dan tugasmu, tugas saya juga, adalah membuktikannya. Walaupun pada akhirnya gagal dan bukan seperti apa yang kita harapkan dan usahakan selama ini, lihatlah sisi lainnya: kita nggak hanya menjadikannya mimpi dalam bayangan kepala kita. Kita telah mencoba membuktikannya dengan usaha dan belajar. Kita merasakan prosesnya, pahit manisnya. Meski gagal, setidaknya kita pernah merasakan menjadi pejuang tangguh, yang gugih dan tekun. Hilang satu mimpi, kembalilah bermimpi.
Let's dream, even though it's expensive :)
Regards,
T
Alih-alih mendukung mimpi saya, dia malah becandain saya dengan bilang "Udah pesantren aja sana." Oke, ini memang becanda, tapi karena situasinya saya lagi menggebu-gebu dan kepalang berharap dia jadi orang yang bakal mendukung saya penuh dengan statusnya sebagai seorang sahabat, nyampenya ke saya bukanlah candaan. Yang ada saya baper. Semangat dan percaya diri yang sebelumnya lagi penuh-penuhnya seketika jadi lemempem. Bantet kayak bolu kurang pengembang dan teknik mixing-nya nggak bener. Apa iya saya teh, punya mimpi ketinggian dan terlalu muluk pas keadaan ekonomi dan keuangan lagi nggak bagus?
Tapi kan, nggak ada salahnya mereun punya cita-cita tinggi? Buktinya Andrea Hirata aja bisa sekolah di Perancis. Keluarganya kurang mampu, lingkungannya serba biasa. Kalau ada niat besar, usaha maksimal, tekun dan giat, yang kata orang "ah kamu mah nggak mampu", bisa aja prediksinya melenceng, iya nggak? Bukannya beberapa takdir masih dapat kita ubah berkat usaha dan doa kita setiap waktu?
Nah, ngomongin soal tekun dan giat, rasanya memang perlu jadi dasar sifat kita, deh. Bakat jadi orang pinter, tapi kalau nggak dibarengi dengan tekun belajar rasanya percuma, ya. Jadi nggak berkembang gitu. Tekun jadi kunci utama buat berhasil. Tekun belajarnya, tekun berdoa nya, tekun memperbaiki diri. Dan rasanya dalam ketekunan itu juga terdapat kedisiplinan dan tanggung jawab.
Berarti sekarang kalau saya pengin cita-cita saya yang satu itu bisa terwujud, saya kudu mulai tekun lagi dari sekarang. Kalau sampai terwujud bisa jadi pembuktian kalau saya ternyata bisa. Bangganya bukan cuma buat diri sendiri, tapi keluarga dan sahabat-sahabat kan, ya? Hihihi :D
Tanggapan sahabat saya itu cukup jadi bahan bakar semangat saya, bukan malah buat menghancurkan mimpi saya. Siapa tau sebenarnya dia sedang mengetes saya, seberapa besar keinginan saya untuk mewujudkannya. Yaa ibaratnya mah ngompor-ngomporinlah biar gerak, nggak sekedar di mulut aja hehehe. (Semoga, berharap banget memang begitu, biar nggak kecewa-kecewa banget dipatahkan oleh sahabat sendiri hiks :'()
Saya juga sekalian menyemangati kalian yang sedang berlari menuju mimpi kalian. Orang lain memang udah tugasnya memberi masukan, kritik, saran, baik ataupun buruk. Biarkan mereka memandang diri kalian berdasarkan imajinasinya. Itu hanya penilaian dan gambaran mereka. Hasil nyatanya ada di tanganmu, dalam setiap usahamu. Pandangan mereka belum tentu benar. Dan tugasmu, tugas saya juga, adalah membuktikannya. Walaupun pada akhirnya gagal dan bukan seperti apa yang kita harapkan dan usahakan selama ini, lihatlah sisi lainnya: kita nggak hanya menjadikannya mimpi dalam bayangan kepala kita. Kita telah mencoba membuktikannya dengan usaha dan belajar. Kita merasakan prosesnya, pahit manisnya. Meski gagal, setidaknya kita pernah merasakan menjadi pejuang tangguh, yang gugih dan tekun. Hilang satu mimpi, kembalilah bermimpi.
Let's dream, even though it's expensive :)
Regards,
T

Terkadang orang terdekat adalah yang menghalangi mimpi-mimpi kita. Karena mereka adalah orang-orang yang paling menginginkan kita untuk tetap tinggal...
BalasHapusEh, iya juga ya. Alasannya bukan mereka menganggap kita terlalu muluk bermimpi, tapi karena mereka takut kita tinggalkan hehehe :p
HapusTerima kasih sudah membaca :)
Gue salah satu orang yang sangat percaya dengan teori "Mimpi, usaha dan do'a". Karena secara nggak disadari, gue bisa meraih apa yang gue pengenin bisa terwujud, walaupun yang terwujud itu masih sebatas mimpi yang sederhana. Gue juga punya mimpi yang mahal, tapi nggak takut karena usaha dan doa itu bisa jadi murah kalo yakin. Nice post.
BalasHapusKomenannya samain aja lah ya sama Katanium :D
Thanks anyway :)
HapusBesar atau kecil, mimpi itu priceless kalau kita bisa mewujudkannya. Buat gue, mimpi juga yang membuat gue terus bergerak. Gue jadi punya tujuan jelas, ya walaupun kadang datang rasa males dan bosennya. Buat sebagian orang, mimpi jadi semacam reminder juga.