Image credit: goinghometoroost.com
Pertemuan menjadi barang mewah beberapa tahun belakangan ini. Dulu, zamannya masih putih abu-abu, waktu bukanlah permasalahan utama kita. Enam hari dalam seminggu, dari pagi hingga sore membuat kita mati kebosanan karena yang kita temui adalah orang-orang yang sama. Mulai dari berbagi cerita, mengerjakan tugas sekolah, bekal makanan yang dibawa, hingga berbagi kejahilan. Tidak perlu diragukan lagi, kita adalah sahabat karib yang kemana-mana selalu bersama. Kalau ada aku, pasti juga ada kamu. Begitu juga sebaliknya. Sampai teman-teman yang lain, atau bahkan guru-guru, jika mencari salah satu dari kita akan terlebih dahulu bertanya kepada kita sebagai sahabat yang selalu 'nempel' setiap waktu. Kalau kita menjawab tidak tahu, asumsi yang mereka miliki adalah: "Kok, nggak tau? Kalian lagi berantem, ya?". Lihat, betapa dekatnya kita dahulu.
Masa-masa itu yang tidak kita miliki adalah uang yang serba pas-pasan sesuai jatah uang jajan harian atau mingguan dari orangtua. Mau nongkrong di mall atau MCD/KFC saja rasanya tak sanggup. Karena keterbatasan ekonomi sebagai anak sekolahan dari keluarga sederhana, jadilah rumah salah satu dari kita sebagai bascamp setiap kita tidak memiliki kegiatan bermutu selain ngerumpi sana-sini, soal si A dan si B. Belum afdol kalau yang dibahas belum runut dari satu hingga seratus. Belum puas kalau adzan maghrib belum berkumandang dari masjid depan rumah. Untunglah, selain ngerumpi, ada juga kegiatan berguna yang kita lakukan bersama: mengerjakan PR yang menumpuk, walau lagi-lagi kalau kepepet ujung-ujungnya saling salin tanpa perlu mikir.
Setelah tiga tahun menghabiskan waktu bersama, dari Senin hingga Sabtu, dari pukul 7.00 hingga pukul 14.00, persoalan 'nggak punya duit' bukan lagi masalah utama kita. Uang ada, mau apa saja bisa, ke mana saja tinggal jalan, mau beli apa pun gampang. Tapi kita kehilangan waktu bersama yang dulu bahkan tidak perlu kita cari dan sisihkan, berbagi dengan jadwal kegiatan yang lainnya. Sekarang, waktu adalah persoalan esensial kita. Berkali-kali membuat rencana bertemu dan berkumpul bersama harus digugurkan berkat hal-hal di luar kehendak kita untuk menolaknya. Perselisihan mulai sering terjadi. Kita saling menuntut waktu satu sama lain. Komunikasi yang tidak rutin dilakukan juga memicu banyak kesalahpahaman. Adu mulut hingga perang dingin tidak dapat terelakan lagi.
Pada satu titik, setelah puluhan pertikaian terjadi, kita mencoba berdamai dengan diri kita sendiri, dan juga berdamai dengan sang waktu. Membiarkan persahabatan ini tetap mengalir hingga pada satu waktu kita akan berhenti bersama, saling mengenang, dan melengkapi hari-hari yang banyak terlewati begitu saja tanpa kehadiran masing-masing. Menggenapkan rindu yang terlanjur sering mengalah dan berdamai dengan jarak dan waktu.
Dari sekian hari tanpa kebersamaan kita, kuharap doa-doaku bermuara padamu. Semoga doa-doa yang kita rapalkan tersebut saling bertemu di setiap sujud di penghujung solat kita. Semoga di saat kita berjauhan masih ada rindu dan cinta yang kita simpan. Selagi berjauhan, semoga kita masih dapat saling mengingatkan untuk selalu berbuat kebaikan. Semoga kau selalu dalam keselamatan dan kebahagian. Dan, jangan lupa tertawa.
Jangan ditunggu,
aku akan pulang dengan sendirinya,
karena kalian adalah rumah tempat berhenti dari semua perjalananku.
Rindu boleh saja,
tapi jangan terlalu digenggam,
Biarkan ia bebas.
Karena jika terlalu digenggam,
ia akan terus mengoyak hatimu.
Kirimkan saja aku doa.
Semoga dalam mimpi kita 'kan bersua.
Bogor,
21 Mei 2016

Entah kenapa aku selalu suka gaya kamu bercerita. Selalu lembut. Mungkin kamu terlalu banyak pakai molto kali ya ti
BalasHapusAku cocoknya pake Downey, Bun.. Haha. Makasih, Bun, semoga terhibur :) *pipi merona* *hidung kembang-kempis*
Hapuswah bagus itu yang seperti puisi bawah sendiri... bagus. :-)
BalasHapuswww.aqiqahberkah.com
Terima kasih, semoga terhibur :)
Hapus