Langsung ke konten utama

Pancake Saus Cokelat Keju Tabur: Menu Perbaikan Gizi di Akhir Pekan

Image credit: milik pribadi


Sabtu dan Minggu adalah waktu rutin untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Mulai dari jalan kaki pagi-pagi buta mengitari kampus IPB ditemani si keponakan, beres-beres rumah, nyuci, masak dan bikin kue, sampai leha-leha di karpet depan televisi. Sabtu-Minggu juga menandakan waktunya untuk tubuh dan otak saya rehat setelah lima hari sebelumnya terus dipakai. Enggak ada salahnya juga, kan ya, memanjakan diri dengan tidur siang yang laamaaaaa hehehe. Bukan cuma rehat, tapi juga perbaikan gizi. Selama di kost-an kan, sering banget tuh, makan asal aja yang penting kenyang, malah kadang nggak teratur. Kalau udah capek, sepulang kerja langsung tidur nggak makan dulu. Pulang ke rumah jadi semacam ajang pembalasan dendam gitu, apa aja dimakan, dimasak, dibuat..hahaha. 

Setelah ditunda beberapa minggu, akhirnya Minggu kemarin kesampaian juga buat pancake. Ekspektasinya sih, bisa buat pancake yang kayak di tutorial bikin kue di YouTube, blog, atau Instagram gitu, eh tapi hasilnya nggak secantik di foto resep yang saya lihat hiks :(. Padahal semua bahan dan stepnya udah saya ikuti dengan baik dan penuh rasa cinta. Kalau rasanya? Serius endeesss, kalau kata orang rumah, sih :p. Buat topping-nya, niat awalnya pengin pake saus stoberi yang dibuat langsung dari buahnya, bukan dari selai. Berhubung setelah ngubek-ngubek supermarket dan pasar nggak ada, jadinya (lagi-lagi) pake saus andalan: cokelat masak dan keju parut. Masih tetep okelah, yaa :D

Resep:

Bahan
200 cc susu UHT (full cream)
250 gram tepung terigu (saya pake segitiga biru)
250 gram gula pasir
20 gram mentega cair
3 butir telur
3 sdm susu kental manis
1/2 sdm ragi instan
1/2 sdt garam
1 sdt rum
Vanilli secukupnya

Cara Membuat
- Siapkan wadah untuk mencampur adonan dan masukkan gula,telur, susu kental manis, garam, vanilli, dan rum. Kocok asal dengan menggunakan wisker.
- Masukkan susu UHT, lalu aduk kembali adonan.
- Masukkan terigu sambil diayak, lalu mentega cair. Aduk hingga semua bahan tercampur rata. Saring.
- Diamkan adonan selama 20 menit.

Nah, selama 20 menit menunggu adonan siap dicetak menjadi pancake, ngapain aja, dong? 

Buat topping! 20 menit itu saya gunakan untuk melelehkan cokelat batangannya. Karena proses melelehkan atau men-steam cokelat ini butuh waktu juga kesabaran lho, Gaes. Supaya cokelatnya bisa memiliki tekstur yang setengah cair, saya pake susu sebagai pencairnya. Takarannya kira-kira aja sampai cokelat memiliki tingkat kecairan yang diinginkan. Kalau saya kemarin malah kurang takarannya, hasilnya saat disisihkan di wadah, si cokelatnya jadi agak mengental dan saat dituangkan di atas pancake-nya jadi susah. Setelah cokelatnya siap, tinggal parut kejunya, deh! Oh iya, kalau kalian nggak begitu suka dengan aroma dan rasa dari rum kayak saya, nggak pake juga nggak apa-apa, rasanya tetep pancake, kok :)

Saya mencontek resepnya dari Instagram @doyanbaking. Di sana juga banyak tersedia berbagai resep aneka kue kering dan basah. Bisalah buat nambah referensi menu buat buka puasa sebulan ini hehehe. Selamat mencoba! ^^

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Pagi Masih Menyapa

Sumber foto: pinterest.com Selamat datang kembali, Pagi! Apa kabarmu hari ini? Kau tampak tak secerah biasanya. Saat membuka gorden dan jendela kamarku tadi, sinarmu tampak redup kulihat. Apa karena awan mendung yang sudah mendahuluimu terjaga dari tidur lelapmu? Hingga kau terlambat menyapa bumi? Kuharap kau baik-baik saja dan lekas hadir bersama kami, para manusia bumi, yang menanti kisah baru yang kau suguhkan. Ya, kami, para penanti untuk kau ajak dan juga kau percayakan untuk merasakan hidup sehari lagi.  Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis surat ini untukmu. Namun aku tak pernah tahu harus kutitipkan kepada siapa agar sampai kepadamu. Kepada angin? Aku tak begitu percaya padanya. Ia sering kali mengacau. Pokoknya ribut sekalilah dia itu. Takut-takut jika kutitipkan surat ini pada angin, ia tak langsung menyampaikannya padamu. Ia pasti akan berkeliling dahulu ke belahan bumi lain dan bisa saja suratku malah jatuh entah di belahan bumi mana. Kepada petang? ...