Langsung ke konten utama

Di Bangku Taman Langit

Sumber Foto: home-for-writers.tumblr.com

Suatu hari yang redup dan angin bertiup perlahan, ia datang dengan sebuah senyum khasnya, yang menampilkan jejeran giginya yang rapi. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan jika ia sudah tersenyum selain memberinya senyum balik yang juga tidak kalah sumringahnya. Lalu ia duduk di sampingku, di bangku taman yang selalu kami tempati untuk menghabiskan waktu bersama. Kali itu kami telah berjanji untuk makan siang bersama, di bangku taman itu. Kubuka kotak makan siangku, yang sekaligus kotak makan siangnya. Memang sudah seperti biasa, janji makan siang bersama berarti juga janji membawakannya sekotak makan siang gratis. Tapi, aku selalu senang melakukannya. Ah, jatuh cinta selalu membuat seseorang rela melakukan apa saja demi orang yang dicintainya itu.

Setelah menyantap habis makan siangnya, ia menatap lurus ke depan, seperti menerawang sesuatu. Aku yang berada di sampingnya mengikuti arah pandangannya, namun tak ada apa-apa di depan sana, hanya hamparan lapangan berumput tempat biasanya orang-orang menggelar tikar di akhir pekan bersama keluarga atau teman. Aku pun tak kunjung bertanya, biar dia yang memulainya duluan.

"Kenapa ya, Bi, dinamain Taman Langit? Inikan di darat bukan di langit." Pertanyaannya cukup aneh bagiku. Kenapa ia sampai memikirkan hal tersebut.

"Aku nggak tau, aku belum nanya sama yang bangun taman ini." Jawabku asal.

"Yaa jawab aja sih, Bi, kenapa alasannya menurut kamu."

"Hmm..mungkin karena taman ini lebih luas dari taman lainnya, dan hanya ditumbuhi pohon-pohon di pinggirnya, dan bagian tengahnya dibiarkan kosong supaya setiap orang yang berkunjung ke sini di mana pun tempat mereka duduk, mereka dapat menyaksikan hamparan langit luas tanpa penghalang." Aku pun tidak yakin dengan jawabanku, itu hanya sekadar dari hasil pengamatanku sekilas. Ia menatap hamparan langit di atasnya. Biru sejauh mata memandang. Seulas senyum kembali merekah di bibirnya. Ada perasaan yang tiba-tiba muncul di dadaku ketika melihat senyumnya itu. Rasa tak ingin berbagi dengan siapapun. Hanya ingin kumiliki senyum itu seorang diri. Juga ada rasa damai yang melingkupi hati, namun tak urung juga aku takut kehilangan.

***

Di bangku taman ini tertuang semua cerita, tempat tawa berhamburan, juga air mata yang sesekali menyelinap di antara tawa itu. Di bangku taman ini waktu seakan memiliki jeda, berhenti sejenak dari putarannya. Ya begitulah, semuanya terasa bergerak lambat jika bersamanya. Seakan kami memiliki dunia kami sendiri yang bisa kami atur waktunya, ingin bergerak lambat atau cepat. Di bangku taman ini sering kali kusembunyikan debar hati dan rona merah di pipi kala dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Sering kali kurapal doa dibalik canda kita, menyelipkan sebuah nama yang entah Tuhan merestuinya atau tidak. Dan di bangku taman ini pula kurajut asa padamu, setahun lalu. Diam-diam menyukaimu dengan mengatasnamakan persahabatan. 

***

Aku datang sepuluh menit awal dari waktu yang dijanjikan, setelah ia meneleponku meminta bertemu di Taman Langit usai kuliah kelas pertama tadi pagi. Sejak kapan aku berubah menjadi orang yang mudah gusar? Sebentar-sebentar melirik jam tangan. Sejak kapan aku berubah menjadi tak penyabar? Takut saja kalau dia telat dan bahkan mengingkari janjinya sendiri. Sejak kapan aku berubah menjadi pencuriga? Pikiranku menerka-nerka hal yang sebelumnya tak pernah hinggap dalam otakku. Dia tidak pernah mengingkari janjinya bukan? Meski sesekali memang datang terlambat. Cinta telah bekerja dengan liarnya dalam hati juga pikiranku. Ia berhasil membuatku gila. Mengoyak setiap prinsip dan pendirian diri. Memutarbalikkan arah dirimu hingga menjadi orang lain. Ah, mengapa cinta selalu rumit untuk diurai, diungkap misteri di dalamnya?

Aku pejamkan mata mencoba mengurangi penat dari setiap pikiran aneh yang hinggap itu. Angin berhembus meniupkan helai-helai rambutku yang tak terkuncir. Suara daun-daun saling bergesekkan di ranting menambah suasana nyaman nan menenangkan. Orang jatuh cinta mudah terbawa suasana seperti ini, ya? Apapun dirasakan, dihayati hingga angin dan daun pun mampu memengaruhi suasana hati. Aku masih menutup mataku, dan dalam gelap itu aku meraba kembali kenangan pertama kali aku bertemu dengannya. Lalu dalam gelap itu menyeruak sebuah gambaran diriku dengannya ketika tangan kami berjabatan. Semuanya terekam ulang. Lewat seutas pita berwarna merah yang ia berikan kepadaku saat ospek kuliah. Pita di lengan kemeja kananku hilang, dan aku setengah panik mencari penggantinya. Ia melihat gelagat panikku tersebut ia menghampirku dan mengeluarkan seutas pita miliknya. 

"Ambil aja, aku bawa lebih buat cadangan." Ia menampilkan senyum khasnya.

"Thanks." Jawabku singkat. Malu sedikit menguasai diriku ketika itu. Aku yang introvert agak kusulitan mendapat "serangan" seperti itu. Lalu ia mengulurkan tangannya, 

"Marlon."

"Bintang." Kujabat tangannya. Dari sanalah semuanya di mulai. Kemudian aku tahu kami ternyata satu jurusan namun hanya berbeda kelas. 

Kenangan itu membawaku pada suatu tempat lain di sudut khayalan. Menarikku pada sisi alam tak sadarku. Kenangan selalu terasa indah, memabukkan. 

"Bi? Bi?" Tangan Marlon mengguncang-guncang bahuku. Aku terhentak kembali pada alam nyata. Mataku mengerjap-ngerjap. "Kenapa sih kamu?" Lanjutnya seraya duduk di sampingku.

"Ngg...nggak kenapa-kenapa, cuma lagi ngekhayal aja." 

"Khayalin apa? Disangka gila lho, senyum-senyum sendiri gitu." 

"Khayalin kapan Marc Marquez ngajak aku kencan." Jawabku asal. Bukannya merespons ucapanku, dia malah terbahak dan mengacak-ngacak rambutku yang kuikat asal.

"Jadi ada apa minta ketemuan?" Tanyaku setelah diliputi gelombang kesenangan diperlakukan seperti itu olehnya. Kurasa ada berjuta kupu-kupu mendesaki dadaku.

"Ini nih, Bi, aku salah ngerjain tugas matkul Kesusastraan Britania Modern. Kelas kamu udah dikumpulin belum tugasnya? Aku liat dong contoh punya kamu hehehe."

Dan sisa hari itu kami habiskan untuk membahas tugas, mengobrol ke sana ke mari hingga surya lelah menyinari bumi yang sudah terlampau tua ini.

***

Marlon menjemputku secara mendadak. Aku yang tak pernah bisa menolak ajakannya pergi selalu bersedia menemaninya kapan pun dia minta. Setelah pamitan dengan Ibu, Marlon membawaku pergi dengan motor vespa kesayangannya. Aku tak tahu kemana tujuannya, aku percaya saja kemana pun Marlon membawaku pergi. Aku sudah memercayakan keselamatan diriku padanya. Ia melajukan vespanya dengan pelan, melintasi jalanan kota malam hari yang tak begitu ramai. Dari arah yang dilalui aku tahu kemana tujuannya. Antara tempat makan pinggiran kampus atau Taman Langit yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus kami. Dugaan pertamaku salah, karena Marlon tidak menghentikan vespanya di area tempat makan kampus, berarti tujuan kedua yang tepat.

Setelah memarkir vespanya di tempat biasa ia parkir, ia menggandeng tanganku memasuki area taman. Tidak biasanya ia mengajak ke sisi lain taman ini, bukan bangku yang biasa kami duduki. Ia memilih duduk di hamparan rumput di tengah taman. 

"Kok di sini?" Tanyaku heran.

"Nyari suasana baru dong, Bi." 

Aku mengikutinya duduk di atas hamparan rumput itu. Cuaca malam itu memang sedang cerah. Musim panas selalu membawa kecerahan langit malam di kota ini. Sejak kami duduk tidak ada percakapan di antara kami. Ada hening yang panjang di sana. Namun, seberapa panjang hening itu, aku dapat menikmatinya jika bersama Marlon. Jeda tak selamanya penuh dengan duga dan teka-teki tentang apa yang selanjutnya terjadi. Bagiku, jeda merupakan sebuah ruang penuh harapan. Kubiarkan jeda itu memanjang dan kupenuhi dengan harapan yang indah.

"Kalau aku jatuh cinta bagaimana ya, Bi?" Akhirnya jeda itu menemukan kelanjutannya.

"Ya nggak gimana-gimana, jatuh cinta-tembak-pacaran." Lagi-lagi kujawab asal. Senang sekali ia menanyakan pertanyaan aneh-aneh seperti itu. 

"Memang...tapi kamu kan tau sendiri aku udah lama banget nggak pacaran. Rasanya jadi asing lagi aja tiba-tiba jatuh cinta lagi."

"Jatuh cinta sama siapa sih memangnya? Kok aku nggak tau?" Penasaran juga aku akhirnya untuk tidak bertanya soal itu. Berpuluh genderang dipukul dengan irama cepat dalam hatiku. 

"Adalah, nanti juga kamu tau. Siap-siap aja menerima kejutan." Mendengar ucapannya aku semakin berdebar. Mungkinkah perempuan beruntung itu adalah aku? Aku mulai berjudi dengan pikiranku sendiri, menebak setiap kemungkinan dan peluang yang ada. Mungkinkah? Bungkam menjerat mulutku. Aku tak berani menanggapi kembali ucapannya. Kulihat Marlon asik dengan pikirannya, sambil sesekali tersenyum simpul membayangkan hal dalam pikirannya itu. Aku? Aku masih berjudi dengan pikiranku sendiri. Rasa takut mulai merayapi setiap sendi tubuhku. 

Marlon merebahkan tubuhnya di atas rumput, menjadikan tangan kanannya sebagai bantalan kepalanya, sedang tangan kirinya ia julurkan ke arahku.

"Liat deh, Bi." Ia menunjuk jutaan bintang di atas kepala kami. Aku mengikutinya rebahan di sampinya, menjadikan tangannya sebagai bantalanku. 

"Bintang yang di samping aku lebih cantik deh dibanding bintang di langit sana." Aku hanya tersenyum simpul. Apa maksudnya ucapannya itu? Hanya memujiku sebagai sahabat atau ada makna lain? Mungkinkah ia tengah gombal?

"Tapi aku harap Bintang yang di sini bisa selalu bersinar kayak bintang di sana. Indah dan memukau"

Aku memejamkan mata. Sekadar meredam gejolak di hati. Tuhan, aku yakin Kau tengah menyaksikan ini semua, maka aku mohon, jangan biarkan aku berharap terlalu jauh, namun jangan biarkan ini berakhir, biarkan seperti ini. Aku ngeri sendiri membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi. Namun, firasat dalam benakku berbisik mungkin berjuta bintang di langit sana menjadi bintang yang kulihat dengan indahnya bersama Marlon. Aku semakin merapatkan mataku.

***

Aku sudah duduk di bangku taman itu sejak tadi, menunggu Marlon yang terlambat datang. Hari itu aku berpenampilan sedikit berbeda, mengenakan pakaian terbaik dan sedikit berias. Malam sebelumnya ketika Marlon mengajakku bertemu di Taman Langit, ia bilang ingin menunjukkan sesuatu spesial padaku. Tergiur dengan ucapannya, maka aku habis-habisan dandan berjam-jam, mematut-matut diri di depan cermin, ingin sekali aku memberikan penampilan terbaikku hari itu. 

Dengan sedikit berlari, Marlon menghampiriku dengan peluh menghiasi keningnya. 

"Aduh sorry telat. Isi bensin dulu tadi, mana pom bensinnya rame lagi." 

"Udah kebal kalau kamu telat." Aku mencoba bersikap setenang mungkin. Berusaha menyembunyikan kegelisahan nan jauh di dasar hati sana. Tunggu sebentar...dia bilang ingin menunjukkan sesuatu spesial, tapi kok dia nggak bawa apa-apa? Aku mengamati tasnya yang terlihat tidak berisi apa-apa. Atau hanya aku yang ke-geer-an? Okay, lebih baik aku tunggu saja sampai sesuatu itu muncul. Obrolan kami mengalir seperti biasa. Namun, ada suatu tanda yang kutangkap dari matanya. Firasat malam itu kembali memperingatiku. Sebuah kehilangan.

Setelah beberapa lama, Marlon menghentikan obrolan kami, dan mengarahkan pandangan pada satu sosok di belakangku lalu tersenyum padanya. Karena kami saling berhadapan, arah tatapannya itu membuatku membalikkan badan kepada sosok yang ia senyumi itu. Kulihat seorang perempuan mengenakan rok selutut berwana tosca pastel dengan kaos berwana putih polos yang dipadupadankan dengan blazer hitam berjalan mendekati kami. Seulang senyum merekah di kedua sudut bibirnya. Kulit putih bersihnya seperti bercahaya diterpa matahari pagi hari itu. Marlon menyambut kedatangan sang perempuan. Saat itu pula aku berharap bumi menelanku. Aku ingin pergi saat itu juga. Dadaku mulai dipenuhi sesak. Aku ingin lari...

"Bi, ini dia kejutannya!" Marlon menggenggam tangan perempuan itu. Aku ikut berdiri bersama Marlon untuk menyambut kedatangan si malaikat surga. Ia memang sangat terlihat seperti malaikat surga. Tanpa cacat ditubuhnya. Aku memberikan senyum terbaikku padanya, semoga mereka tak menangkap keterpaksaan dalam senyumku itu. Ia menjulurkan tangannya dan aku meraihnya. Sebuah perkenalan baru saja terjadi. Ia masih tersenyum lebar. Kebahagian jelas terlihat di wajahnya. Anehnya, kebahagiaan itu dapat menjalar ke tubuhku. Di balik rasa sakit yang mulai timbul di hati, tak dapat dipungkiri aku pun merasakan kebahagiannya, kebahagian mereka. Marlon menyebutkan lagi nama sang perempuan.

"Kiran, dia pacarku, Bi."
Aku ingin pergi... Aku ingin lari... Jauh, hingga kaki lelah dan tak dapat melangkah kembali dan memaksaku berhenti.

***

Aku duduk di bangku seperti biasa di Taman Langit, sendiri tanpa Marlon. Setelah kejadian 'kejutan' itu hubungan kami mulai merenggang. Aku yang mencoba tahu diri, bahwa semuanya telah berbeda, semuanya sudah tak sama lagi. Dan Marlon pun sepertinya lebih asik menghabiskan waktu dengan Kiran. Sudah jelas kan? Kini setelah delapan bulan sejak kejadian itu aku masih sering mengunjungi Taman Langit sendirian, duduk di bangku kami seperti biasa. Aku telah memiliki kehilangan itu. Cinta Marlon bukan jatuh di pangkuanku seperti yang sempat aku duga. Aku telah banyak menaruh harapan, membuatnya melambung tinggi tanpa membekalinya perasut. Hingga saat ia jatuh rasanya sakit, hancur berkeping-keping.

Jeda yang pernah ada ketika kami rebahan di atas rumput malam itu kini telah berujung menjadi titik. Ia telah menuntaskan kalimatnya. Angin senja itu bertiup lemah. Mungkin angin yang sama yang pernah mampir ketika aku masih menghabiskan waktu bersama Marlon. Angin yang selalu membuat suasana nyaman ketika menerpa wajahku. Namun kali ini, ia membawa suasana yang sangat berbeda. Suasana kehilangan dan sendiri.

Seorang petugas kebersihan yang biasa aku lihat bersama Marlon tersenyum ke arah ku. Sang bapak petugas kebersihan tengah menyapu guguran daun di sekitaran bangku tempatku duduk sambil mendendangkan sebuah lagu lawas dari zamannya muda. Ketika mendekat ke arah ku, sang bapak menyapaku.

"Sendirian aja, neng? Biasanya sama si akangnya." 

"Iya, Pak, lagi pengen sendirian aja." 

"Kemana memang si akangnya?" Mendapat pertanyaan seperti itu aku setengah tergagap.

"Ngg...lagi sibuk, Pak." Jawabku berbohong.

"Ooh lagi sibuk. Salam ya, neng." Sedekat apa Marlon dengan bapak ini sampai si bapak menitip salam pada Marlon pikirku. Ah sudahlah...

"Iya, Pak." 

Ia hanya tersenyum lalu melanjutkan kembali tugasnya. Sedang aku tengah asik dengan bolpoin dan kertas di tanganku. Menulis setiap kata yang terlintas dalam benak. Menjadikan kedua benda itu sebagai teman setiaku setelah Marlon pergi. Di lembar berikutnya, terlintas kata yang diucapkan Retni S B dalam novelnya yang berjudul Mencarimu. Maka kutulis kalimat itu. 

"Ketika cinta ini gagal bersemi di suatu tempat, dia akan terbang dan menemukan tempat tumbuh yang baru."

Kurobek lembaran dengan tulisan itu, dan kutaruh di tempat biasanya Marlon duduk di sampingku. Benar, biarkan cinta ini menemukan tempatnya untuk tumbuh yang baru. Tugasku sekarang hanya memeluk erat kehilangan itu selama aku menginginkannya, dan ketika kehilangan itu mulai memudar maka aku akan melepaskannya. Marlon telah memiliki ruang sendiri dalam hatiku. Saatnya ruangan itu kututup rapat. 

Setelah meletakkan robekan kertas itu, aku mulai beranjak dari dudukku. Namun baru beberapa melangkah sang bapak petugas kebersihan menghentikan langkahku denga panggilannya.

"Neng, ini kertasnya ketinggalan."

"Biarin aja, Pak. Memang sengaja ditinggal, kok." 

Sang bapak tampak kebingungan lalu meraih kertas di bangku itu dan membacanya. Aku beranjak pergi. Kutinggalkan semua kenangan di bangku taman itu, 

Di bangku Taman Langit...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...