Langsung ke konten utama

(untittle)

Sumber Foto: rivetingphotos.blogspot.com

Vito menghela napas lega karena telah berhasil lolos dari kejaran Danang. Namun sepatu sebelah kanan Danang masih digenggam Vito. Ia bergidik ketika membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti saat Danang menemukannya. Tapi, salah sendiri kenapa mulai jahil duluan menyembunyikan ponselku, batin Vino. Ia menutup rapat pintu ruangan tempat ia bersembunyi. Dan saat Vito membalikkan badan ada enam pasang mata yang tengah menatapnya penuh keheranan. Seketika tubuhnya terasa kikuk dan mati rasa seperti maling tertangkap basah menyuri sebelah sepatu. Mata-mata itu terus memburunya dengan tanda tanya. Jelas mereka heran dengan kedatangan tiba-tiba Vito di antara mereka di ruangan itu. Vito sendiri pun tidak sempat memeriksa dulu ruangan yang hendak ia jadikan tempat bersembunyi dari Danang. Karena panik dan takut keburu ditangkap sahabatnya yang sedang murka itu, jadi Vito asal masuk ruangan mana saja yang ada di dapat dijangkaunya dalam pelariannya itu.

Rasa malu menjalari sekujur tubuh Vito. Ia bahkan dapat merasakan wajahnya mulai memanas dan dapat dipastikan sudah berubah warna menjadi semerah tomat. Tak ada yang dapat dilakukannya selain nyengir selebar mungkin. Tatapan dari mata-mata itu semakin terasa bagai menghakimi si maling sepatu sebelah itu. Kini ia menggaruk-garuk kepala yang sudah jelas tidak gatal sama sekali. Cengirannya berangsur memudar dan tergantingan dengan ringisan. 

"Aduh, sorry sorry kirain ini ruangan kosong." Jelas Vito. Tak ada yang menanggapi. Saat Vito mendongakkan kepala yang sedari tadi ia benamkan hingga menempel di dagunya, pandangannya bertabrakan dengan sepasang mata yang jernih. Sang pemilik mata jernih itu memasang seulas senyum ramah. Malu yang dirasakan Vito sampai keubun-ubun. Tanpa sebuah kalimat usiran, ia telah melarikan diri terbirit-birit seperti baru saja bertemu hantu terjelek di siang bolong. 

Setelah dirasa aman tak ada yang mengejarnya dari ruangan itu, Vito menghentikan larinya. Napasnya tersengal-sengal antara campuran lelah berlari dan kaget. Ia baru menyadari bahwa ruangan yang baru saja ia masuki adalah tempat latihan komunitas seni dan musik di kampusnya. Ia juga kembali teringat kepada sepasang mata jernih dan seulas senyum manis yang baru saja dilihatnya dalam keadaan panik bercampur kaget. Sebentuk wajah seorang perempuan telah terbingkai jelas dalam ingatannya. Manis, gumamnya. Ketika ia akan melajutkan langkahnya, sebuah tangan menepuk bahunya keras. Kontan Vito berbalik dan sosok pemilik sebelah sepatu yang dibawa lari Vito telah menyeringai lebar ke arah Vito. Sebuah kepalan tinju melayang dari tangan Danang.

***

Rena membawa tumpukan buku dan laptopnya di sudut perpustakaan yang sepi. Tidak biasanya perpustakaan ramai dikunjungi di hari Sabtu begini pikir Rena. Saat berbelok di antara rak buku paling ujung, Rena terkesiap menemukan sesosok lelaki yang tengah tertidur pulas tertelungkup di atas meja. Kedua tangannya ia jadikan bantal nyaman untuk tidur pulasnya itu. Tidak tampak ada buku, kertas, atau laptop di atas mejanya, pasti tujuannya datang ke perpustakaan memang untuk tidur bukan belajar. 

Rena sama sekali tak berniat membangunkan lelaki itu. Biarkan ia tidur sepuas mungkin untuk membayar tuntas kantuknya yang pastinya sudah tak tertahankan itu, asalkan ia tidak mengusik ketenangan Rena dalam mengerjakan tugasnya. Dengan berhati-hati Rena melewati sosok yang ruhnya sedang berada di alam mimpi, takut kalau ia menyenggol lelaki itu dengan tumpukan buku di tangannya.

Setengah jam berlalu. Rena sudah hampir selesai dengan tugasnya. Hingga tiba-tiba lelaki di sebelahnya itu menguap keras dan lebar sekali sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Membebaskan otot-ototnya yang kaku karena tak bergerak saat tidur tadi. Seketika Rena tersentak kaget dan hampir terjatuh dari kursinya. Tampak jelas ada gurat ketakutan di wajahnya. Siapa yang tidak kaget ketika sedang serius dengan layar laptopnya tiba-tiba seekor singa masai menguap keras. Sang singa kini melirik ke aras Rena dengan mata masih setengah terbuka. Baru beberapa detik kemudian sepasang mata itu terbuka lebar dan hampir loncat ke luar dari tempatnya. Reaksinya terlihat lebih terkejut dibandingkan dengan Rena tadi. Cepat-cepat ia merapikan rambut, baju, dan letak duduknya yang bergeser ke belakang karena reaksi kagetnya tadi. Mata yang hampir loncat itu mengerjap-ngerjap, menyempurnakan penglihatannya. Rena sudah dapat mengembalikan dirinya dari keterkejutan tadi ke ketenangan semula.

"Maaf, ya, membuatmu terkejut." Tak ada yang salah dan meminta maaf sebenarnya. Toh, ini tempat umum di mana semua orang dapat berada di mana saja dalam ruangan seluas ini. Termasuk Rena yang berhak berada di meja sudut perpustakaan tempatnya berada sekarang bersama si singa masai yang baru saja kembali dari perantauan alam mimpinya. Lagian siapa suruh tidur di tempat seperti ini, pekik Rena dalam hatinya. 

"Eh, sorry juga udah buat kamu kaget...juga." Katanya setelah sekian detik mereka terdiam. Saat itu pula Rena mengenali wajah di hadapannya. Singa masai ini, kan, yang waktu itu tiba-tiba masuk ke ruangan musik pas aku latihan biola. 

Rena mengernyitkan dahinya, kepalanya ia condongkan ke sebelah kiri, tatapannya penuh selidik. Lelaki di depannya menjadi jengah diperhatikan seperti itu, apalagi oleh seorang perempuan. Ia kembali merapikan rambut keritingnya yang mencuat ke sana ke mari. Benar tidak salah lagi, lelaki ini memang yang kemarin tiba-tiba masuk ke ruang latihan Rena. Vito, si singa masai.

"Kamu yang lusa kemarin menyelinap masuk tiba-tiba ke ruang musik, kan?" Tanya Rena untuk mendapat kepastian. Vito tampak mengingat-ingat kejadian lusa kemarin. Bingo! Ia bertemu kembali dengan salah satu orang yang menatapnya keheranan ketika ia tiba-tiba masuk mengusik latihan biola orang. Ialah pemilik sepasang mata jernih dan senyum manis yang Vito tatap di ruangan itu. Satu-satunya orang yang Vito tatap ketika malu hampir membunuhnya.

"Ooh iyaa..." Hanya itu yang keluar dari mulut Vito. Ia setengah mampus mencari jawaban yang dapat terdengar pas dan pantas. Namun gelombang keterkejutan masih meliputi dirinya yang baru saja menginjakkan kaki ke alam kenyataan. Lagi-lagi perempuan di depannya hanya memberi senyum manis. Untung dia tidak berteriak histeris lalu memburuku dengan sejuta pertanyaan cerewet ala perempuan karena ulahku di latihan biolanya, gumam Vito.

"Oh, iya kemarin pas kamu lari dari ruang latihan itu, sepertinya kamu menjatuhkan sapu tanganmu." Ucap Rena kemudian sambil merogoh-rogoh tas laptopnya. Tap! Vito baru saja sadar bahwa sapu tangannya hilang. Vito menepuk keningnya. Dasar ceroboh! 

"Thanks." Ucap Vito seraya mengambil sapu tangannya dari Rena. Aih lagi-lagi ia tersenyum. Yakinlah ia bahwa semesta tengah berkonspirasi atas dirinya dalam kejadian ini. 

"Vito, sang penakluk." Ujar Rena yang kontan langsung direspons 'Hah?!' oleh Vito. "Iya, nama kamu. Vito itu artinya sang penakluk. Aku lihat dari bordiran di sapu tangan kamu, aku yakin itu pasti nama kamu." Vito sendiri baru tahu bahwa namanya memiliki arti. Mama nggak pernah cerita panjang lebar soal namaku. 

"Thanks." Halah basi banget dari tadi thanks melulu, dasar laki-laki bodoh! Vito geram sendiri dengan dirinya. Lalu hening. Rena kembali asik dengan laptop dihadapannya. 

"Ngg..." Vito bingung bagaimana menanyakannya. Ia terlalu canggung jika berurusan dengan perempuan. 

"Rena." Ucap perempuan di sebelahnya sejurus kemudian. Hebat benar insting nih cewek!

"Rena..." Ulang Vito, lebih seperti untuk mengingat.

Konspirasi semesta yang dibilang Vito itu telah membawanya pada perkenalan yang unik di antara dua manusia berbeda jenis ini. Untuk pertama kalinya ia mengembangkan sebuah senyum.

***
Rena menenteng tas biolanya sambil matanya mencari tempat duduk yang masih tersisa. Kantin kampus siang itu sungguh ramai. Meja di sudut kantin yang biasa ia tempati bersama teman-temannya pun sudah penuh terisi. Di meja lain, Danang memerhatikan gerak-gerik Rena. Sehari setelah kejadian di perpustakaan itu, Vito telah menceritakan perkenalannya dengan Rena kepada Danang. Dan pada kesempatan lain saat Vito dan Danang sedang berjalan di sekitaran koridor kampus, Vito menunjukkan Rena kepada sahabatnya itu ketika gadis itu melintas di jalan setapak di taman yang dekat dengan koridor yang sedang mereka lalui. Jadi, saat meihat Rena di kantin, Danang sudah mengenali wajahnya. 

"Vit, liat tuh!" Danang menyenggol siku lengan Vito yang duduk di sebelahnya. Orang yang disenggol hanya merespons dengan 'hmm??' panjang karena mulutnya sedang penuh dengan mi instan. 

"Kamu liat dulu dong! Jangan cuma 'hmm' aja." Protes Danang karena Vito tak serius menanggapi omongannya. Akhirnya Vito mengangkat kepalanya yang dari tadi fokus terhadap makan siangnya. Matanya mengikuti arah pandangan Danang yang menatap sebuah objek, sesosok perempuan manis yang tampak kebingungan.

"Terus?" Vito tak acuh dengan apa yang baru saja ia lihat dan kembali melahap mi instannya yang masih mengepulkan uap panas. 

"Kok, terus? Ya panggil dong suruh gabung sama kita di sini. Dia pasti lagi nyari tempat duduk yang kosong." Nada Danang terdengar geram menimpali ucapan Vito. Karena tidak mendapat tanggapan apa-apa, Danang berinisiatif untuk memanggil Rena dan mengajaknya bergabung di meja mereka.

"Rena!" Panggil Danang sambil melambai-lambaikan tangan kanannya. Sontak Vito mendongak ke arah sebelah kirinya dan menatap apa yang tengah dilakukan Danang.

"Kamu ngapain sih?!" Tanya Vito, sedikit gelagapan.

"Jangan bertanya seperti orang bodoh begitu. Udah jelas-jelas aku lagi manggil Rena, pake nanya." Jawab Danang sekenanya. 

Rena yang merasa ada yang memanggil dirinya mencari sumber suara itu, lalu menemukan sosok yang tengah melambaikan tangan ke arah dirinya di antara kerumunan orang-orang yang asik menyantap makan siang sambil bergurau dengan teman. Rena tidak yakin mengenali lelaki yang memanggilnya, namun ia melihat ada kursi kosong di depan lelaki itu. Maka Rena memutuskan menghampiri orang yang memanggilnya. Karena ia pikir waktu istirahatnya akan terbuang banyak hanya untuk mencari kursi kosong yang lain. Meski tak mengenali Danang, Rena tetap memasang wajah ramah sepaket dengan senyum manisnya.

"Wih, manis pangkat kuadrat, Vit!" Seru Danang setengah berbisik saat melihat senyum Rena yang kian mendekat.

"Please, jangan norak lihat cewek manis macam begitu. Wajahnya memang manis tapi kamu belum tau hatinya manis juga apa pahit." Danang tak menghiraukan ucapan Vito. Ia sendiri tengah memasang wajah paling berseri yang pernah ia tunjukkan untuk menyambut Rena.

"Hi, Rena!" Sapa Danang sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Danang" Lanjutnya kemudian mengenalkan diri.

"Hi, tapi sorry, apa kita pernah kenal sebelumnya? Aku nggak yakin kita saling kenal." Rena mengernyitkan dahinya. Ia mencoba mengingat-ingat beberapa teman yang baru ia kenal akhir-akhir ini. Tapi, rasanya memang ia tidak pernah mengenal lelaki yang bernama Danang ini.

"Kamu memang nggak kenal aku sebelumnya, tapi kamu kenal dong sama orang ini?" Tanya Danang sambil menepuk bahu Vito, yang tetap asik dengan mi instannya. Bahkan matanya tidak mencoba melihat ke arah Rena yang sudah jelas berdiri di hadapannya. Rena melihat ke arah yang ditunjuk Danang. Ia langsung mengenali sosok itu.

"Oh ya! Hi, Vit, kita ketemu lagi." Suara Rena terdengar antusias ketika tahu siapa orang yang ada di sana. Dengan canggung, Vito mengangkat kepalanya dan menatap Rena yang sudah duduk di hadapan Vito dan Danang.

"Hi, juga Ren. Hehehe." 

"Terpaksa banget sih say hi-nya?" Danang berkomentar atas kelakuan teman karibnya itu. Vito hanya menyenggol siku Danang sebagai tanda agar ia tak banyak komentar dan bicara macam-macam di hadapan Rena. Perlahan-lahan perasaan malu dan kikuk menguasai diri Vito. Ia mulai bingung memulai percakapan yang baik dengan Rena, mengingat perkenalannya di perpustakaan tempo hari.

"Ooh jadi kamu itu temannya Vito? Aku sempat ragu pas kamu manggil tadi. Tapi thanks buat tawaran kursinya." Rena masih saja memasang wajah antusiasnya. 

Nih cewek terbuat dari apa sih? Kok sama orang yang baru dikenal mukanya ramah banget gitu, nggak canggung, kayak ke temen lama aja. Gumam Vito dalam hati. 

"Kamu nggak mesen makanan, Ren?" Tanya Danang, melihat tangan Rena bebas tak memegang nampan berisi pesanan makanan. Ia hanya menenteng tas biolanya.

"Aku bawa bekal, tadi cuma pesan minum aja, dan nunggu diantar." Rena mengeluarkan kotak makan siangnya yang berisi berbagai makanan beraneka warna. 

Rajin dan kreatif juga. Komentar Vito yang lagi-lagi hanya ia suarakan dalam hati.

Obrolan antara mereka bertiga terus mengalir, di mana obrolan antara Rena dan Dananglah yang paling mendominasi. Sedang Vito hanya sesekali menimpali. Tampak sangat tak berminat terlibat dalam perbincangan asik Rena dan Danang. Namun, di balik sikap cueknya itu, diam-diam Vito mengumpulkan informasi-informasi tentang Rena dari percakapan itu. Ia tahu bahwa Rena adalah mahasiswa psikologi yang menyukai musik, terutama biola. Karena itu, ia bergabung dengan komunitas musik di kampus. Sekarang ia diberi kepercayaan oleh pelatihnya untuk melatih junior di komunitasnya. 

Rena Salsabila, mahasiswi psikologi tingkat enam, penyuka musik dan pemain biola. Vito mengingat-ingat informasi itu dalam benaknya.

"Aku harus pergi, ada latihan biola setengah dua nanti." Rena menyudahi obrolannya dengan Danang dan Vito sambil ia merapikan kembali kotak makan siangnya dan memasukkan ke dalam tas. 

"Perlu aku antar?" Danang menawarkan diri yang langsung ditanggapi oleh Vito dengan tatapan tak setujunya.

"Makasih, tapi nggak perlu." Tolak Rena dengan sopan. "Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya. Bye." Lanjutnya seraya berjalan menjauh dari dua orang lelaki yang menatap punggungnya yang menjauh. Danang masih ketersima membayangkan wajah ramah Rena, sedangkan Vito diam-diam mulai menyusun rencana untuk mendekati Rena. 


***
Vito ikut bergabung bersama pemain biola lainnya di ruangan musik tempat Rena latihan bersama komunitasnya. Ini kedua kalinya Vito menemani Rena latihan sejak dua bulan lalu mereka mulai dekat. Beberapa junior yang dilatih Rena pun sudah mengenal Vito. Dan mereka tidak keberatan dengan keberadaan Vito di sana. Serta kehadiran Vito di sana pun biasanya untuk menyepi mengerjakan tugas. Meski suara biola saling bersahutan dan bergema dalam ruangan, Vito dapat menikmatinya. Ia pikir suara gesekan biola lebih dapat diterima di telinganya dibanding suara orang mengobrol di perpustakaan yang sangat mengganggu. 

Namun kali itu konsentrasinya untuk mengerjakan tugas teralihkan kepada Rena. Rena yang tengah asik memimpin juniornya memainkan sebuah lagu dari biola mereka. Dari nada yang diciptakan dari gesekan antara penggesek dengan dawai-dawai biola, Vito tahu lagu apa yang mereka mainkan. Angel yang dinyanyikan boyband Westlife. Dan angel itu, bagi Vito, adalah perempuan yang sedang ia perhatikan, memainkan biola sambil sesekali mengoreksi nada yang salah dari juniornya, dengan senyum atau tawa ringan yang selalu menghiasi wajahnya. Selama dua bulan kedekatan mereka, rasanya Vito belum pernah melihat Rena murung. Ia selalu menampilkan wajah ceria yang mampu mengusir rasa penat dan suntuk Vito akan tugas-tugasnya ketika memandang wajah ceria Rena. Wajah itu seperti memiliki kekuatan sihir yang mampu menarik diri untuk merasa bahagia dan damai hanya dengan melihatnya. 

Rambut sebahu bagian kanan atasnya ia jepit menyamping. Poni samping yang menutupi sebagian keningnya menambah manis wajah Rena. Hari itu ia terlihat casual dengan jeans hitam dan kaos putih polos yang dibalut oleh kemeja motif kotak-kotak warna biru putih yang lengannya ia gulung sampai siku, serta sepatu kats converse hitam. Meski berpenampilan casual, Rena tetap terlihat manis. 

Sinar jingga dari sang senja menembus kaca jendela ruangan yang ada di sebelah kirinya. Menyinari wajahnya hingga semakin terlihat anggun. Tangannya masih asik dengan biolanya. Vito yang duduk agak ke belakang dari lingkaran orang yang sedang berlatih memandang Rena penuh pesona. Dadanya berdegup. Sadarlah ia bahwa ia telah jatuh cinta. 

***
"Rena itu cantik, masih iya kamu nggak naksir sama dia? Aku aja pertama kali lihat dia langsung terpesona. Aneh kamu, Vit, ada cewek secantik dia di depan mata tapi dianggurin." Cecar Danang ketika mereka berdua tengah membahas soal kedekatan Vito dengan Rena.

"Yaa memang kalau cantik harus selalu ditaksir, begitu? Kalau nggak sreg mau gimana lagi sekalipun dia secantik bidadari." Elak Vito. Ia tahu persis dia tengah menipu, bukan saja Danang, tapi juga dirinya sendiri. Ia hanya perasaan serta kehidupan pribadinya soal perempuan yang ia sukai menjadi bahan obrolan dengan orang lain. Ia hanya ingin menyimpannya sendiri, menikmati setiap sensasi yang ada seorang diri. Cukup dirinya sendiri yang tahu. 

"Kalau gitu aku aja, ya, yang ngegebet dia." Ucap Danang. Vito tidak dapat menangkap ekspresi wajah sahabatnya itu. Danang terlihat datar dan tenang, tidak terlihat adanya keseriusan dalam ucapannya juga wajahnya. Pembawaan Danang yang santai membuat Vito tidak bisa menafsirkan setiap ucapannya, apakah serius atau hanya gurauan belaka. 

"Seriusan kamu, Nang?" Tanya Vito penasaran. Juga kentara nadanya seperti yang tidak rela jika Danang menggebet Rena. 

"Biasa aja, Mas, nggak usah kaget gitu. Kamu sendiri yang bilang tadi kalau kamu nggak sreg sama Rena, jadi boleh-boleh aja dong kalau aku yang deketin dia. Is it a big deal for you?

"Yaa memang nggak masalah..." Jawab Vito, merasa 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...