Langsung ke konten utama

Ketika Tak Ingin Terbangun Lagi

Ia menyapaku lewat mimpi semalam,
tak benar-benar menyapa sebenarnya.
Ia hanya tersenyum simpul, lalu berlalu.
Jadinya aku mempercepat langkahku, 
mencoba menjajari langkahnya.
Aku ingat betul bagaimana penampilannya,
dengan kebaya berwarna hijau tua, kerudung dengan warna senada,
serta samping songket 
juga selop hitam yang ia gunakan di hari pernikahannya 23 tahun lalu.
bibirnya seperti biasa ia poles dengan lipstik merah kesukaannya.
Ada hal lain yang kutangkap dari penampilannya.
Ia tampak jauh lebih muda dari usianya. 
Aku masih terus menjajari langkahnya. Hatiku ngilu, ketika berkali-kali kupanggil,
namun ia tidak ada menoleh barang sedetik. 
Namun aku mengikuti saja lagkahnya, 
hingga sampai di suatu rumah yang sangat asing bagiku.
"Ini bukan rumah kita", kataku keheranan mengapa ia membawaku ke sini.
Tetap tak ada jawab. Meski keheranan, 
tak urung aku ikuti juga ia masuk ke dalam rumah asing itu.
Lalu aku lupa bagaimana selanjutnya, yang aku ingat hanya ketika aku mulai menangis di pangkuannya, memohon kepadanya untuk kembali. 
Lagi-lagi ia hanya tersenyum, lalu berkata, "Nggak bisa, tempat Mama di sini."
Lalu aku lupa bagaimana selanjutnya, yang kuingat hanya terus menangis di pangkuannya.

***
Bogor, 15 Juli 2014

Aku terbangun dengan air mata yang masih mengalir deras, dadaku sesak, dan napasku masih memburu. Sudah lama aku tak bermimpi seperti itu. Namun mimpi tadi seperti nyata, dan ia terasa sangat begitu dekat. Cepat-cepat kubaca istigfar berkali-kali. Beberapa detik kemudian, tubuhku sudah dapat kukendalikan. Deru napasku mulai tenang dan air mata telah mengering. Lalu kulirik jam di ponselku, sudah hampir pukul 06.00 dan aku belum solat subuh. Dengan terburu-buru ku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Mungkin ini cara Mama membangunkan anaknya yang kesiangan solat subuh, pikirku. Karena jika tidak bermimpi seperti tadi aku benar-benar kesiangan dan melewatkan kewajibanku.

Dalam sujud terakhir kusebut namanya beberapa kali, dan tidak lupa kukirim pula sebuah doa...

Allaahummagh firlii waliwaalidayya warhamhumma kamma rabbayaanii shaghiiraa. Amiin..

Lalu, ada kerinduan yang semakin membuncah di dada. Mimpi tadi bukanlah sebuah mimpi biasa bagiku. Lebih dari itu. Seperti sebuah perjumpaan yang sudah sekian lama tidak terjadi, sebuah reuni. Tidak sering aku mengalaminya, apalagi yang benar-benar bertemu dengan Mama, dan hanya ada kami berdua di sana. Biasanya aku hanya melihatnya sekilas dalam mimpi. Namun mimpi semalam terasa beda. Ia terasa sangat dekat. Ia seperti kembali. Atau aku yang terlalu terbawa alam mimpi. Namun, rasanya aku tidak ingin terbangun. Biarlah aku menangis sejadinya, yang penting aku ada dalam pangkuannya, aku dapat merengkuh kakinya selama yang aku inginkan. Aku tidak ingin terbangun kembali.

Perjumpaanku dengan Mama dalam mimpi semalam seperti obat penawar rindu yang sudah lama aku derita. Hampir setiap malam kuberharap ia datang dalam mimpiku. Tak usah mengobrol denganku, cukup melempar senyum, itu sudah cukup. Hingga semalam aku lupa dengan harapan bertemu dengannya di mimpi, dan akhirnya ia datang, dengan sebuah senyum, senyum penuh ketenangan. Mama terlihat lebih muda. Gurat-gurat keriput dan kesakitan yang kulihat terakhir kali ketika ia menghembuskan napas terakhirnya empat bulan lalu, hilang sudah tergantikan dengan wajah yang senantiasa memancarkan cahaya dan kebahagiaan. 

Aku tidak ingin terbangun, Ma. Biarkan aku diam dalam mimpiku sendiri, asalkan di sana ada Mama. Biarkan aku tetap tertidur, asalkan aku bisa bersama Mama. Tanpa sadar air mata telah membuat genangan kembali di pelupuk. Siap untuk meninggalkan jejak di kedua pipi yang setengah kering dari air wudhu. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dulu kamar ini menjadi tempat kita saling bertukar kisah sebelum tidur. Kita saling melemparkan cerita tentang kisah masing-masing seharian tadi. Aku dengan kuliahku, dan Mama dengan warung Mama. Di sini pula kita sering mengenang almarhum Papa. Dan bahkan ketika Papa masih ada, kamar ini pula menjadi tempat kita bertiga saling berbagi cerita. Kini kamar ini kehilangan dua penghuninya, meninggalkan jejak-jejak kenangan di setiap sudutnya. Kini kamar ini hanya menampung kesedihan serta kerinduanku. Kuharap Mama dan Papa ada di sini bersamaku saat ini.

Mimpi semalam seperti pengingat. Pengingat setiap kenangan yang Mama juga Papa tinggalkan kepada anak perempuan satu-satunya Mama Papa. Maaf karena tak seharusnya aku kembali menangis, meratapi kehilangan yang tak bisa satu orang pun kembalikan seperti sedia kala. Tapi, biarkan aku memeluk sebentar kesedihan dan juga rindu ini. Biarkan tangis ini yang kemudian menguatkanku. 

Ma, Pa...

Kupejamkan mata rapat-rapat, kubayangi setiap wajah dua orang malaikat terkasihku ini. Pinjami aku kekuatan kalian. Pinjami aku ketegaran kalian. 

Ma, Pa...

Kusebut namanya lengkap dengan bin dan bintinya, kupajatkan kembali sebuah doa.

Semoga Allah menyayangi Mama dan Papa di sana, melindungi Mama dan Papa dalam karunia-Nya, melingkupi Mama dan Papa dengan keselamatan dari-Nya. Semoga surga firdaus adalah tempat yang Ia sediakan untuk Mama dan Papa. Semoga malaikat senantiasa menemani perjalanan kubur Mama dan Papa. Semoga Mama dan Papa dipertemukan kembali di surga-Nya sebagai pasangan suami istri, dan semoga di hari akhir nanti aku pun bisa bertemu dengan Mama dan Papa.



Komentar

  1. aamiin...
    semoga Tuhan mengabulkan doa baik dari anak yang baik. :))

    BalasHapus
  2. aamiin.. makasih :))
    dan salam kenal

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

"Masih Beranikah Kau untuk Jatuh Cinta?"

Jatuh cinta pada pandangan pertama saat membaca kumpulan cerpennya yang pertama: Milana , membuatku ketagihan buat mengikuti semua karya-karya penulis yang akrab dipanggil Bara ini. Cuma dua bukunya yang belum sempat dibaca, Angsa-Angsa Ketapang (puisi) dan Radio Galau FM (novel). Setelah jatuh cinta, emm...mungkin rasa yang selanjutnya itu adalah penasaran. Penasaran sama cerita apalagi yang Bara suguhkan buat para pembacanya. Penasaran apakah ceritanya bakal semenarik karya sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan penasaran apa ada something new yang Bara kasih ke pembacanya di setiap karyanya yang baru. Something new ini akhirnya aku temukan di bukunya yang ketujuh: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri , kumpulan cerpennya yang kedua. Selain judulnya yang lumayan panjang, dari segi isi cerita pun ada sesuatu yang beda dari buku-buku sebelumnya. Kelimabelas cerpen yang ada di dalamnya, semuanya mengusung satu tema utama. Bisa dilihat dari judulnya, cerpen-cer...

Secangkir Cappucino

Kita tidak pernah menyangka akan menjadi seperti sekarang ini, sejak perkenalan kita dua tahun lalu. Dan kita pun tak pernah tahu, sejak hari itu, waktu terus membawa kita untuk saling mendekat. Kita bukanlah dua orang yang dipertemukan oleh hal yang sama. Kita bertemu dengan apa adanya diri kita. Aku begini. Kamu begitu. Kita dipertemukan tanpa ada satu hal pun alasan kenapa kita dipertemukan. Aku pikir itu adalah hasil dari konspirasi alam dan semesta terhadap kita. Kita hanya dipertemukan oleh rasa nyaman yang timbul ketika kita berjalan bersama. Waktu yang bergulir di samping kita membuat rasa nyaman itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kita terbiasa untuk selalu bersama dalam segala kesempatan. Jika ada kamu, sudah pasti aku pun ada di sana. Begitu juga sebaliknya.  Kita tetap menjadi diri kita sendiri, bahkan setelah dua tahun bersama. Kita tetap dua orang yang berbeda. Dan kita tidak perlu menjadi sama dan satu. Kita hanya berusaha untuk saling melengkapi. Jadilah ...