Sumber foto: @NeazzaID | Arbin Fipel
Tiba-tiba
saja masa lalu sepaket dengan kenangannya menyapaku kembali. Kukira mereka
telah mati dikubur sang waktu. Nyatanya kini mereka bangkit dari tidur
panjangnya dan sedang mencoba menggapai ingatanku lagi tentang dia. Katakan
saja mereka—si masa lalu dan kenangan itu—tengah mengusahakan sebuah perdamaian
denganku, agar aku mau membuka sedikit pintu ingatanku tentang mereka. Mereka
tak benar-benar mati, karena memang dari awal aku tak pernah membunuhnya.
Mereka hanya sejenak terlupakan dan terabaikan olehku.
Kenangan itu kembali datang bersama
sebuah pesan singkat di ponselku. Tak ada nama yang tertera di layarnya, hanya
dereta sebelas angka yang kutahu pasti siapa pengirimnya. Dua tahun lalu, saat
kurasa semuanya harus terhenti, aku telah menghapus nomor itu dari contact list ponselku. Sudah terlanjur
hapal, karena sering diingat dan itu adalah satu-satunya nomor ponsel yang
setia mengirimiku pesan setiap hari, otakku tak benar-benar menghapusnya dalam
memori ingatan, meski tak ada nama si pengirim sekalipun. Ajaibnya cinta dapat
membuat seorang pelupa sepertiku dapat mengingat dereta angka itu. Ibu pernah
sampai iri kepada si pengirim pesan ini karena anaknya lebih hapal nomornya
dibanding nomor ponsel ibunya sendiri.
Kupastikan apa yang baru saja
terjadi bukanlah sebuah kekeliruan dalam pandangan mataku yang minus dua.
Diam-diam dada ini menyerukan suaranya, deg...deg...deg....
Menyelinap di antara tik-tok jarum jam. Dan lagi-lagi rindu bersorak riang,
berhasil membuatku bungkam. “Jangan
berpura-pura kalau aku telah lama padam. Akhirnya aku kembali! Hahaha,”
begitu katanya, sang Rindu, jauh dari dalam hati. Memang harus kuakui, aku
rindu pada seseorang yang mengirimiku pesan yang hanya berisi panggilan namaku
saja: “Van?” dari Devani.
Ya, hanya tiga huruf dan satu tanda
baca tanya saja mampu membuat mata yang tadinya sudah berat digelayuti kantuk
menjadi segar, melotot. Akupun kehilangan kemampuan jariku untuk mengetik pesan
balasan. Semua kata yang kutahu selama 21 tahun ini bagai lenyap seperti buih
di lautan dihempas ombak. Mereka lari meninggalkanku bersama deru jantung yang
suaranya mengalahkan bunyi nyaring binatang-binatang malam di luar jendela
kamarku.
Potongan-potongan masa lalu tumpah
ruah di dinding kamar di hadapanku. Memantulkan adegan demi adegan yang pernah
terlewati bersamanya. Kupejamkan mata, kucari sosoknya dalam gelap pandanganku.
Wajah yang terakhir kulihat dua tahun lalu itu perlahan muncul dan semakin
jelas. Aku didera rasa penasaran yang dibumbui ketidaksabaran untuk melihat
wajahnya kembali. Aku ingin bertemu. Lalu lamunanku dibuyarkan oleh suara
dering dari ponselku. Kini si pengirim pesan tadi meneleponku. Mungkin tak
sabar menanti balasan dariku. Dengan suara tercekat, aku menyapanya kembali.
“Bagas?”
***
Apa yang sebenarnya aku harapkan
dari pertemuan kami kembali? Masa lalu yang ditaburi kenangan manis yang begitu
menggiurkan bagai setangkai gulali yang membinarkan mata seorang bocah? Atau
harapan di masa depan yang mungkin dapat kurajut kembali untuk dapat bersamanya?
Namun satu yang pasti dari pertemuan ini hanya...aku ingin menikmati kembali
hari bersama seorang sahabat yang telah mengenal diriku sebaik dirinya sendiri.
Yang telah mengisi setiap jengkal waktu dengan cerita konyol dan gelak tawa.
Yang menghujaniku dengan doa-doanya yang tulus. Aku hanya ingin menebus hutang
waktu kepada rindu yang tak tertanggungkan selama dua tahun ini. Memang, aku
telah keliru meninggalkannya dulu. Kukira menjauhinya adalah cara terbaik untuk
membuat semuanya tampak baik-baik saja—hatiku, hatinya, juga persahabatan kami.
Nyatanya, setelah lama terbiasa menjalani hari-hari tanpa dirinya lagi, aku
lupa bagaimana caranya memulai kembali. Seperti ada batas yang tak terlihat di
antara kami.
Mulanya ia pun tak memahami situasi
yang tengah terjadi. Dia tahu, tapi menolak untuk paham tepatnya. Ia memburuku,
namun aku semakin jauh. Semua kontaknya—mulai dari nomor ponsel, hingga akun
media sosialnya—aku hapus dan blokir. Aku sangat patah hati yang membuatku lari
dari keadaan. Aku paksa kakiku untuk meninggalkan tempatnya selalu berpijak.
Aku selalu bersembunyi jika tahu ada ketukan di pintu rumah dan suaranya yang
memanggil namaku. Lagi-lagi Ibu kujadikan tameng atas persembunyianku. Entah
sudah berapa kebohongan yang Ibu lakukan untukku dengan mengatakan pada Bagas
kalau aku sedang tidak berada di rumah dan berbagai alasan lainnya. Dan sudah
berapa kali pula Ibu marah menghadapi sikapku yang macam bocah SMP itu. Ia
geram, namun aku tetap bergeming.
Sampai akhirnya, baik Bagas maupun
Ibu, lelah menghadapi sikapku yang seolah tampak biasa saja di luar, namun
remuk redam dalam hati. Bagas berhenti mencariku, ia menyerah. Ia pun lalu
menghilang. Tak ada lagi kabar yang dibawa teman-temanku yang lain tentangnya.
Ibu pun mengakhiri ceramah panjangnya setelah setiap kali Bagas datang
mencariku. Ia membiarkanku bermain dengan sandiwara yang kubuat sendiri. Ibu
memang tak tahu apa-apa tentang apa yang telah terjadi pada anak bungsunya ini,
tapi aku yakin instingnya sebagai seorang ibu tengah bekerja atas diriku. Ibu
tak akan semudah itu menerima alasanku begitu saja. Ia pun pernah melalui masa
seperti yang sedang kualami sekarang. Bodoh jika aku menganggap Ibu tak tahu
apa-apa. Ia hapal dengan gelagat dan binar di mata anaknya. Tanpa aku harus
cerita banyak, Ibu tahu pasti kapan aku jatuh cinta dan kapan aku sedang patah
hati. Dan saat ia menangkap keadaanku yang sedang patah hati terhadap sahabatku
sendiri, Ibu tak banyak bertanya atau menuntut penjelasan dariku. Aku sendiri
enggan menjawab jika ditanya tentang hal itu.
Sebenarnya aku ragu mengiyakan
ajakan Bagas untuk bertemu. Aku hanya tak yakin jika pertemuan ini bisa
berjalan selayaknya pertemuan pada biasanya antara dua orang sahabat yang sudah
lama tidak berjumpa. Aku mengendus adanya rasa canggung yang mungkin terjadi.
Tak mudah memulainya kembali setelah sekian lama terhenti. Dan memang tak ada
yang menjamin jika hal itu pasti terjadi. Ini hanya sebatas perasaanku yang
terlampau diliputi kekhawatiran. Namun Bagas pun meyakinkanku bahwa ini adalah
mengenai pekerjaan. Agar tak dicap tidak profesional, aku pun mengiyakan.
***
Aku tak lekas menghambur di
hadapannya. Kakiku tertahan saat kali pertama melihatnya sudah duduk di kursi
dekat jendela kedai. Tangan kanannya memegang pegangan cangkir dan tangan
kirinya asyik menekan-nekan layar ponselnya. Segera kuterima pesan yang
sepertinya baru saja ia ketikkan itu.
From: Bagas
Sudah di mana? Kamu nggak lupa kan, Van?
Kubiarkan pesan itu untuk tidak
segera dibalas. Selain karena kakiku masih lemas akibat efek melihat Bagas, aku
masih ingin menikmati momen ‘memandanginya diam-diam’ ini. Gaya minum kopinya
belum berubah. Tangan kanan memegang pegangan cangkir, sebelum meneguk kopinya
ia akan menghirup dalam-dalam aroma kopi yang dibawa liukan uap dari dalam
cangkir ke udara, setelah itu ujung bibirnya akan melancip karena
meniup-niupkan permukaan kopi yang mengepul panas, kedua bola matanya pun ikut
menelisik isi cangkir, seperti ada tontonan asyik yang menarik perhatiannya
yang sayang jika dilewatkan. Lalu setelah meniup-niup khidmat kopi itu, ia akan
meneguknya perlahan, cukup satu tegukan kecil. Begitulah seni minum kopi, kata
Bagas. Aku menyetujui saja kata-katanya itu ketika ia menjelaskan terperinci
mengenai kopi, dan sebelum aku pun mulai jatuh cinta dengan minuman seribu umat
itu. Dan setelah mengenal si hitam pekat itu, aku pun jadi ikut-ikutan meniru
gaya Bagas jika minum kopi, dihirup dalam-dalam, dipandangi airnya yang pekat,
lalu meneguknya perlahan.
Sedang tangan kanannya menggenggam
cuping cangkir, biasanya tangan kirinya tak diam begitu saja. Entah ponsel,
novel, atau koran selalu hadir menemaninya menikmati waktu senggang bersama
secangkir kopi. Dan saat ini, tangannya itu tengah sibuk mengetik-ngetik sesuatu
pada layar touch screne ponselnya.
Mungkin sebuah pesan entah untuk siapa, karena tak ada pesan yang kuterima lagi
darinya. Juga tergeletak sembarangan sebuah novel di dekatnya. Memandanginya
lama seperti ini membuat rindu itu semakin deras mengalir bagai riak sungai
kecil yang menemukan muaranya. Aku ingin segera menghambur di hadapannya, kalau
boleh ke dalam pelukannya juga sekalian. Biar kubayar lunas segala rindu,
penyesalan, dan kehilangan ini. Agar mereka berhenti menuntutku mencari
obatnya: Bagas.
Kurasakan tenaga yang sempat lari
dari diriku ketika melihat Bagas, kini terisi kembali. Memenuhi setiap jengkal
ruang dalam tubuhku. Kupercepat langkah yang membuatku hampir menabrak seorang
bapak yang membawa berkotak-kotak kue dalam kantong plastik besar di pintu
masuk kedai. Sempat kudengar sekilas ia mengumpatku sebelum aku berlalu setelah
menabraknya. Kurang ajarnya aku lupa meminta maaf karena saking tergesanya,
padahal Bagas masih duduk tenang di kursinya. Ia tak akan lari kemana hingga
membuatku harus tergesa-gesa. Kini kulihat pemilik sepasang mata teduh itu
sedang memandangiku. Dahinya berkerut, seperti tampak sedang terheran.
Tatapannya jauh menyelami mataku hingga ke hati. Aku dibuat jengah olehnya.
Dari balik kacamata full frame
hitamnya, kutahu sepasang mata itu tengah menunjukkan binar-binarnya. Kini
kerut di keningnya tergantikan dengan seulas senyum yang terkembang penuh di
ujung-ujung bibirnya. Senyum itu seperti memiliki kekuatan magis yang merambat
melalui tatapan kami yang membuatku tak punya alasan untuk tidak ikut tersenyum
juga. Kuhampiri Bagas dengan dada yang sebentar lagi meletup menghamburkan
rindu dan kisah-kisah yang kami lewatkan selama dua tahun ini. Tak lupa sebuah
maaf pun telah disiapkan beserta penyelasan.
“Jalan, tuh, hati-hati. Nggak perlu
pakai grasak-grusuk segala.”
Belum juga pantatku benar-benar
menempel di kursi di depannya, ia sudah memberondongku dengan kata-katanya.
Tatapannya yang teduh tadi sekarang berganti dengan tatapan jenaka. Senyumnya
tampak menggoda.
“Biarkan aku duduk dan mengambil
napas terlebih dahulu,” aku mendengus sebal. Melihatku memasang wajah seperti
itu, Bagas malah terkekeh-kekeh. Senang benar ia menggodaku. Atau membangkitkan
emosiku, heh?
“Sabar, Nona, nggak usah sewot
begitu. Hahaha!” Sekarang ia terbahak hingga memegangi perutnya, ujung-ujung
matanya tertarik seiring bibirnya yang melebar, kepalanya menggeleng-geleng.
Heran...tak pernah berubah, hal sekecil apapun bisa membuatnya tertawa, bahkan
hanya sekadar melihat ekspresi wajahku. Terbuat dari apa dia hingga mudah
sekali tertawa?
Aku tidak menanggapi ocehannya,
malah mengambil cangkir kopi miliknya dan menyeruput isinya. Dua tenggukkan
untuk meloloskan tenggorokanku dari dahaga sedari tadi kutahan. Air mineral di
tempat minumku sudah habis dalam perjalanan di bus menuju kedai ini. Tawa Bagas
terhenti melihat tingkahku. Kini matanya membesar dan mulutnya sedikit
menganga.
“Hei! Nggak sopan sekali kamu
datang-datang main minum kopi orang?” Bagas menarik cangkir dari tanganku.
Sekarang aku yang terkekeh.
“Pelit benar kamu, Gas. Aku haus
tahu!” Aku merajuk, memanyunkan bibirku dan memasang wajah sedih. Sebagai
responsnya hidungku dijepit jarinya. Sontak, aku menjerit kecil, namun cukup
membuat seorang bapak dari meja sebelah menoleh ke arah kami. Hidungku seperti
hidung badut sehabis dijepit oleh Bagas. Merah.
Lalu hening. Pendingin ruangan yang
berada di dinding atas tidak jauh dari meja kami seakan bersenyawa dengan udara
dalam ruangan menciptakan lapisan es tipis—transparan bahkan—yang merambat di
meja kami, lalu merayapi setiap jengkal tubuh kami, hingga mencapai bibir kami
hingga membuat kelu. Kata-kata berlarian meninggalkan kami. Memberi ruang dan
kesempatan untuk kenangan kembali merasuki ingatan. Kudongakkan kepala melihat
Bagas di depanku. Matanya menjadi sendu, jari telunjuk tangan kirinya bermain
di atas permukaan cangkir, menjalari lingkaran cangkir, berkali-kali. Aku tahu,
ia pun sama denganku. Sama-sama tak tahu bagaimana harus memulai kembali
setelah sempat terhenti. Canggung. Tentu saja. Terlalu banyak kisah yang telah
kami lewatkan bersama. Dan mungkin pertemuan hari ini tak cukup untuk
mengurainya. Perlu berjam-jam, berhari-hari, dan bercangkir-cangkir kopi.
Maaf,
Gas.... Dan terasa ngilu ketika kuucapkan kata itu. Maaf.
“Aku pesankan kopi untukmu, ya?” Katanya
meloloskan kata-kata yang sempat terperangkap di kerongkongan. Namun, tetap
saja masih terasa canggung. Tidak tahu harus menimpali dengan apa, aku hanya
mengangguk mengiyakan. Lalu Bagas memanggil seorang pelayan dan memesan
secangkir kopi. Kopi Bali.
“Uhm...jadi
gini, Van, kantorku berencana untuk launching
sebuah majalah travelling bulan
depan, dan kami butuh EO untuk menangani acara ini. EO-mu bisa nggak? Ini aku
bawa konsep acaranya yang diinginkan oleh boss-ku.”
Bagas mengeluarkan tablet dari tas
ransel hitamnya yang selalu ia bawa kemana-mana saat kuliah atau bekerja.
Ukurannya tidak begitu besar dengan empat sudutnya yang menyiku sehingga
membentuk sebuah persegi panjang yang kokoh jika digendong di balik
punggungnya. Di salah satu resleting tas itu tergantung sebuah gantungan kunci
berbentuk boneka laki-laki yang terbuat dari kain flanel. Di kaos si boneka
tertulis nama BAGAS yang disulam oleh benang warna merah.
Itu gantungan kunci yang kubuat untuknya ketika
pertama kali aku bisa menjahit dan menyulam.
Pandanganku
tertancap pada gantungan boneka laki-laki yang sudah kumal itu. Bagas masih
menyimpan pemberianku. Mataku mulai beralih ke tablet yang digenggam Bagas ketika ia mulai menerangkap konsep
acara yang kantornya inginkan.
“Bagaimana, Van, sanggup menangani
acara kami? Boss-ku memang aga rewel
orangnya, dia pengin launching
majalah kami nanti berjalan sempurna. Makanya aku minta kamu yang pegang,
soalnya aku tahu kamu itu orangnya detail mengerjakan sesuatu. Selain itu, aku
nggak punya lagi kenalan teman yang memiliki EO selain kamu.”
Aku hanya mengangguk-angguk menatap
layar tablet Bagas yang dipenuhi
konsep acara sambil terus mendengarkan dengan baik ucapannya. Hanya itukah
tujuannya ingin menemuiku? Tidak ada ‘misi’ lainkah yang ia rencanakan dalam
pertemuan kami kembali? Ah, sial! Mengapa berpikiran semacam itu? Apa hanya aku
yang menginginkan suatu yang lebih dari pertemuan ini selain masalah pekerjaan?
Egoiskah aku mengharap ia akan meminta memulainya kembali setelah aku
menghindarinya, atau bahkan memusuhinya secara sepihak?
Kemudian yang kurasakan adalah dada
yang mulai menghangat dan bergemuruh. Aku ingin ia kembali sebagai sahabatku,
sahabat masa kecil hingga tuanya nanti, mungkin. Kupegangi dadaku yang berdebar
tidak tahu malu, meski otakku telah menyuruhnya melambat—sekalian berhenti
kalau bisa. Debar apakah ini? Debar karena canggung? Atau debar yang menandakan
bahwa aku masih menyimpan cinta untuk sahabatku ini? Otakku bekerja keras
memerintah hati untuk tunduk kepadanya. Agar ia tak meletup-letup. Agar ia diam
saat mataku ingin memandangnya. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Aku
ingin pastikan setelah pertemuan kami ini terjadi—sekarang, sudah tak ada lagi
perasaan ataupun permasalahan masa lalu yang harus kubawa-bawa lagi. Bagas
bukanlah pria bodoh yang tidak bisa membaca situasi, ia akhirnya menangkap
gelagat anehku sedari tadi dan langsung menghentikan ocehannya tentang acara launching majalah travelling perusahaan tempatnya bekerja.
“Kenapa? Nggak nyaman, ya, Van?” Dengan
halus ia meraih tanganku dan mengelus-elusnya. Aku dijalari rasa hangat yang
menenangkan, yang menjalar dari jari-jemarinya ke permukaan kulit tanganku. Aku
hanya tersenyum simpul. Betapa aku merindukan kontak fisik dengan lelaki di
depanku ini. Otakku diserbu kata-kata yang berjejalan minta diloloskan dari
kenaifan diriku selama ini. Namun, aku sendiri pun masih diliputi rasa takut
jika ternyata kejadiannya akan sama seperti dua tahun lalu. Saat aku
mengungkapkan isi hatiku pada Bagas dan yang ada hanya kekecewaan dari
sahabatku itu, yang kemudian membuat jarak dengan diriku sampai aku memutuskan
untuk menghindari dirinya juga. Aku tahu diri. Dengan statusku hanya sebagai
sahabat dan ia yang tengah mengejar perempuan yang bukan aku.
Aku hanya menggeleng. Aku belum
benar-benar melepas cinta ini untuknya. Hatiku masih mengukir namanya dengan
ejaan yang jelas. Dan kuyakini, debar ini pun masih sama dengar debar dua tahun
yang lalu. Cinta.
“Ada yang salah, ya, dengan
pertemuan ini?” Tanya Bagas lagi. Sorot matanya mengisyaratkan permintaan
sebuah penjelasan dariku. Ia ingin aku merapal semua pikiran-pikiran yang sejak
dua hari kemarin memenuhi otakku untuk menjadi sebuah narasi panjang dariku.
Tepat saat aku ingin berucap, seorang pelayan mengantarkan kopi pesanan Bagas
untukku. Setelah ucapan “terima kasih” dari Bagas, pelayan segera berlalu yang
diiringi dengan tatapanku padanya, memastikan ia telah berada di jarak yang tak
memungkinkan untuk menangkap isi perbincanganku dengan Bagas selanjutnya.
Setelah dirasa si pelayan benar-benar telah menghilang, mungkin ke dapur, aku
kembali mengarahkan kepala dan juga mataku pada Bagas. Namun uap kopi yang meliuk-liuk
di depanku begitu menggiurkan untuk tidak segera kujamah dirinya dengan
hidungku yang menyesap aroma tajamnya yang harum. Bibirku sudah tak tahan untuk
berlama-lama membiarkannya mendingin oleh udara.
“Aku minum, ya? Aromanya harum
sekali.” Dapat kurasakan mataku pasti berbinar-binar dan akan tampak jenaka di
hadapan Bagas, karena ia kemudian tertawa kecil.
“Silakan, Nona. Mana bisa, sih, kamu
tahan sama kopi ini?” Bagas seperti mengingatkan sesuatu yang aku sukai. Kopi
Bali. Kopi yang selalu membuatku merasa nyaman dan tenang setelah meneguknya,
meski hanya seteguk kecil. Kopi yang selalu mengingatkanku pada memori-memori
yang tak sanggup ditanggung ingatan, hingga ia—dengan cangkirnya—bisa dengan sabar
menuntun ingatan untuk mengingat momen sederhana namun indah. Antara aku dan
Bagas. Kopi yang pertama kali membuatku jatuh cinta untuk meminumnya lagi dan
lagi.
“Enak banget!” Seruku. Karena kopi
Bali ini memang terasa lebih nikmat di lidahku. Ini karena memang cita rasanya
yang berbeda, atau karena aku sudah lama tak minum kopi ini, atau karena ada
Bagas di sini—yang seakan-akan kehadirannya bisa membuat hidangan yang biasa
saja, apa saja, berubah jadi nikmat??
“Sudah berapa abad nggak minum kopi,
Non?” tanyanya yang diiringi gelak tawa.
“Hampir dua bulan mungkin,” jawabku
asal, masih dengan cangkir dalam genggaman tanganku dan mataku yang menatap ke
luar jendela besar di sebelah kiriku, memandang jalanan yang sedikit lengang di
siang menjelang sore ini.
“Tumben? Kenapa? Ada yang membuatmu
berhenti ngopi?”
“Ada, kamu. Aku berhenti ngopi karena nggak ada yang mentraktir
lagi,” jawabku datar, namun bisa membuatnya tergelak. Lagi.
“Oh, jadi itu alasannya? Dasar cewek
pengeretan!” Bagas mengacak-acak rambutku dengan gemas. Aku pun tertawa lepas.
Sangat lepas.
“Habis, selain kamu siapa lagi yang
mau mentraktirku secangkir kopi. Kalau beli sendiri malas.”
“Pengeretan tingkat kuadrat kamu,
Van!”
Satu per satu kenangan masa lalu
yang sempat retak, pecah, dan berhamburan, kini mulai menemukan kerangkanya
kembali untuk bersatu. Kenangan yang terserak padaku, dan kenangan yang
terserak padanya. Kami kembali merajut sulaman kisah persahabatan yang sempat
tertunda. Dan itu semua dipersatukan oleh dua cangkir kopi Bali di atas meja
kami. Dua cangkir kopi Bali yang dulu sempat kami nikmati bersama di sebuah
kedai kopi dan roti dekat kampus kami. Yang kami nikmati kala pagi kami mengisi
perut kami dengan sarapan atau senja saat tubuh kami lelah sehabis kuliah, atau
juga saat malam semakin pekat yang kami habiskan berdua untuk sekadar mengobrol
atau sambil mengerjakan tugas dalam diam dan hanya ada bunyi tik-tik dari
keyboard laptop kami masing-masing.
“Aku rasa soal pekerjaan kita sudah deal, ya? Kamu siapkan menggerakkan
rekan-rekanmu bulan depan?”
“Yup, siap! Ada tambahan lagi selain
konsepnya? Tempat mungkin?” Sambil melanjutkan perbincangan ini, aku masih saja
menyesap kopi di cangkirku. Aku tak rela membiarkan mendingin dengan
sendirinya. Aku ingin hangatnya menyapu ujung bibirku dengan lembut nan nikmat.
“Soal tempat aku percayakan padamu,
yang penting tak jauh dari kawasan kantorku,” pinta Bagas.
“Siap, Pak Reporter. Atau Pak
Editor? Atau Pak Fotografer, ya tepatnya? Hahaha!” Ujarku yang disambut tawa
lebarnya. Bagas memang menyukai bidang-bidang itu, tergila-gila malah. Berawal
dari hobinya menulis dan memotret dari sejak SMA, membuatnya menekuni dengan
serius bidang-bidang itu saat kuliah. Dan sebagai hasilnya, ia bekerja di dua
tempat sekaligus, di sebuah koran lokal yang cukup bergengsi sebagai repoter
juga di sebuah penerbitan buku skala nasional sebagai editor. Aku sempat heran
dengannya saat mengetahui bisa-bisanya dia melamar dan sampai diterima bekerja
di dua tempat sekaligus. Penggila kerja yang edan, kataku padanya waktu itu. Dan
seperti biasanya, Bagas hanya tertawa kusebut ia begitu. Tapi, selama
ini—selama melihatnya bekerja—ia tampak sangat menikmati pekerjaannya itu. Jadi
pepatah yang mengatakan “love we do and
do we love” itu berlaku pada dirinya.
“Van?” Bagas menatapku serius. Dan
aku pun langsung bisa menangkap sinyal-sinyal yang mengarah pada pembicaraan
seputar diri kami.
“Uhm?”
kakiku lemas kembali akibat tatapannya itu.
“Kemana saja dua tahun ini? kamu
menghindar, lalu menghilang begitu saja.” Ucapnya dengan suara lirih. Aku tahu,
aku telah melukai hati lelaki di depanku yang kusebut sahabat ini.
“Maaf, Gas, aku memang yang
keliru...” kalimatku menggantung. Kata-kata tak lagi kuasa untuk melanjutkannya
hingga titik.
“Aku juga minta maaf. Karena aku
yang menghindarimu duluan, kamu pasti mengira kalau aku akan menjauhimu
selamanya, marah besar malah jika kamu mengira begitu. Mungkin.”
Aku menatap cangkirku yang hampir
kosong. Dan dingin. Bagas pun melakukan hal yang sama sepertinya. Mata kami
sama-sama terperangkap pada isi di dua cangkir kopi Bali itu. Pun, mata kami
sama pekatnya seperti isi cangkir itu. Pekat oleh rindu. Pekat oleh penyesalan.
Pekat oleh kenangan.
“Tapi aku nggak bermaksud menjuahi
atau marah besar padamu, Van. Jujur, aku memang kecewa padamu waktu itu. Kamu
tiba-tiba saja mengatakan hal yang sebelumnya nggak pernah aku perkirakan. Tapi
aku salah, aku juga keliru. Untuk meredam emosiku, maka kuputuskan untuk
menghindarimu beberapa hari yang malah kau artikan bahwa kamu juga harus
menjauhiku. Aku tahu, itu kamu lakukan karena kamu merasa tahu diri, merasa
kamu harus menjaga hatimu agar tak lekas hancur berantakan ketika itu. Mungkin
kamu berhasil melakukannya, namun nggak denganku. Aku yang terluka, aku yang
kesakitan. Tindakanku yang kukira akan menyelamatkan hati kita, malah
membuatnya menusuk hatiku sendiri. Aku kehilangan. Kehilangan sahabat yang
selama ini nggak pernah aku kehendaki kepergiaannya.” Bagas melempar pandangan
ke luar jendela. Menatap jauh melewati kendaraan yang mulai memadati jalanan
sore hari. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Mega-mega di atas sana telah
menjelma menjadi jingga. Sulur-sulur cahaya emasnya menembus kaca jendela di
sebelah kami, menepi di meja kami, dan sebagian merayapi pinggiran full frame kacamata Bagas. Tak terasa
sudah berjam-jam kami berada di kedai ini. Menyaksikan berpuluh-puluh wajah
pengunjung kedai berganti.
“Aku kira, kamu nggak akan merasa
kehilangan, karena kukira lagi, kamu sudah mendapatkan perempuan yang bisa
menemanimu, mengisi hatimu. Jadi keberadaanku nggak perlu lagi.” Ucapku lemah.
“Tapi bukan berarti aku nggak butuh
seorang sahabat, kan, Van?! Aku tetap membutuhkan kamu, menginginkan kehadiran
kamu. Bagaimanapun kamu juga telah mengisi satu ruang di hatiku, berdampingan
dengan ibuku, juga kekasihku...”
Mendengar kata kekasih hatiku
kembali terasa ngilu. Kenapa aku tak bisa
juga menjadi kekasihmu? Mengisi ruang lain yang kau labeli dengan cinta atau
pacar?
“Lagi pula ketika itu aku masih
berpikir bahwa komitmen hanya akan mengurung kebebasanku, bahkan dengan Lena
yang ketika itu aku kencani. Dan aku pun masih nyaman dengan hubungan kita
seperti itu. Hanya sahabat. Namun nyatanya, saat kamu menghilang aku
kelimpungan mencarimu, bahkan ibumu juga ikut menutupi keberadaanmu. Dan
perasaan lain pun mulai bermunculan, Van. Salah satunya adalah perasaan yang
juga kamu rasakan ketika itu.”
TAP!
Kontan aku mendongak dan menatapnya lekat-lekat. Mengunci sepasang mata teduh
yang kini diliputi kegetiran hatinya. Dari tatapannya, Bagas tidak sedang
berbohong atau merayu. Kudapati kejujurannya di kedua bola matanya yang hitam.
Pendengaranku pun tidak sedang terganggu. Aku masih dapat mengulang perkataan Bagas
tadi dalam ingatan. Diputar ulang beserta suara lemahnya. Seakan mengerti
tatapanku yang minta penjelasan lebih banyak, Bagas pun melanjutkan
kalimat-kalimat pengakuannya.
“Iya...aku
mulai merasakan ada perasaan lain selain sayang yang kutujukan untuk seorang
sahabat. Saat kamu menghindariku itu, aku mulai merasa ingin memilikimu, lebih
dari seorang sahabat. Bukankah cinta namanya jika ada hasrat untuk memiliki
seutuhnya?”
Dan
lagi, aku ditelan bungkam. Hatiku seperti diloloskan dari sebuah vonis hukuman
mati. Melunturkan setiap harapan semu yang apik kusimpan sendiri dalam doa-doa
di akhir sujudku. Haruskah aku merasa senang? Bolehkah aku memiliki perasaan
bahagia itu?
“Aku
berusaha menghilangkan perasaan itu—mungkin sama denganmu yang ingin membunuhnya
ketika itu juga. Tapi yang kuhadapi adalah bahwa ketika kucoba melepaskan, aku
semakin ingin mencarimu. Akhirnya aku menyerah, Van, pada perasaan yang kita
sebut cinta itu. Aku merawatnya dengan sabar sambil terus mencarimu dan
berusaha menghubungimu. Seperti juga kamu yang telah dengan sabar menjaga cinta
itu untukku sampai akhirnya kau menyerah untuk menyimpannya sendirian dan mau
membaginya denganku. Selama dua tahun ini, aku belajar untuk menggeser posisimu
sebagai sahabat dan menempatkan dirimu dalam ruang yang kita sebut cinta di
hatiku. Aku sadar, aku nggak membutuhkan orang lain untuk mengisi ruang itu,
kalau kau saja sudah cukup. Sahabat sekaligus kekasih. Aku mengenalmu sebaik
kamu mengenalku, jadi buat apa aku merepotkan diriku untuk mencari yang lain.”
“Kamu
nggak pantas bicara serius begitu. Jangan mencoba menggombal di depanku, aku
mual jadinya.” Aku berusaha melepaskan ketegangan yang dari tadi ditanggung
Bagas. Karena memang tidak mudah baginya untuk mengatakan ini. Sifat cueknya
membuatnya jarang sekali membahas soal hati dan perasaan. Maka jika sekalinya
ia melakukan hal tersebut, ia seperti singa vegetarian. Tidak pantas. Out of the box.
Ketika
menatapku, kuberi ia seulas senyum jahil dan kuputar-putar bola mataku juga
menjulurkan lidahku. Dan berhasil. Ia tergelak.
“Aneh,
ya?” Tanyanya sambil mengusap-usap rambut ikalnya yang menggondrong dan mencuat
ke atas. Lengan kemeja panjangnya yang berbahan flanel dan bermotif kotak-kotak
biru putih ia gulung hingga siku. Tanda bahwa ia sedikit lebih relaks sekarang.
“Banget!
Norak!” Ejekku yang membuatnya mendaratkan sebuah cubitan di pipiku yang
sedikit tembam.
“Jadi,
kalau aku tanya sekarang, apakah kamu masih menyimpan cinta itu untukku atau
kamu sudah membuangnya jauh-jauh?” Tanyanya serius, namun ia sampaikan dengan
sikapnya yang santai. Kurasakan pipiku menghangat. Pasti warnanya telah merona.
Halah macam ABG saja aku ini tersipu-sipu seperti ini!
“Sayang,
kamu sudah terlambat, Gas.” Aku berpura-pura serius dan menyesal. Sontak ia
terperanjat mendengar ucapanku. Karena ia tak kunjung menimpali maka kugoda ia
lagi. “Kamu terlambat sama Mang Udin tukang nasi goreng depan kampus kita itu.
Dia baru saja nembak aku dengan
sepiring nasi goreng spesialnya. Aku bisa apa jika sudah disuguhi makanan lezat
itu.” Aku terbahak.
“Sial!
Jantungku hampir copot dan melompat keluar tahu! Dasar jahil!” ia mengusek-ngusek kedua pipiku. Aku malah
senang diperlakukan seperti itu.
“Jadi
bagaimana?” Tanyanya lagi penasaran.
“Apanya?
Mang Udin?”
“Jangan
menjawab dengan bertanya balik.”
“Hmmm....traktir
secangkir kopi Bali lagi!” ucapku dengan mata menggoda yang jahil.
“Sepuluh
cangkir pun aku belikan buat kamu. Puas, heh?”
Aku
hanya tertawa. Yang keluar dari hati yang terbebaskan dari cinta yang sempat
bertepuk sebelah tangan. Ia juga ikut tertawa. Tawa pertama kami setelah semua gairah
hidup kami lenyap dua tahun kemarin. Cangkir-cangkir kopi kami terisi kembali.
Kali ini ditambah dengan dua piring roti bakar keju kacang, ikut merayakan
perayaan cinta kami yang berhasil menemukan muaranya. Di hari ini, di malam
yang semakin pekat, di bawah bintang yang berpendar, di antara udara ruangan
yang mendingin, dan hati kami semakin menghangat.
Tak
ada ungkapan I love you dan I love you too dari kedua bibir kami
yang tak lelah menebar senyum dan tawa. Cukup sebuah genggaman tangan kami yang
menarasikan momen ‘jadian’ kami ini. Sebuah genggaman tangan biasa dari
tangan-tangan yang merindu untuk bertaut.

Komentar
Posting Komentar