Langsung ke konten utama

Teruntuk Kau yang Tak Bisa Kusebut Namanya (di sini)


sumber foto: weheartit.com

Bogor, 08 Agustus 2014
19.34 WIB

Teruntuk Kau yang Tak Bisa Kusebutkan Namanya (di sini),

Aku baru saja mendapat kabarmu. Kau jatuh sakit, masuk angin dan mual begitu katamu. Terpaksa kau parkirkan motor Yamaha kesayanganmu di teras rumah. Membatalkan beberapa janji yang telah kau buat hari ini. termasuk rencana bertemu denganku, juga dengan seseorang lain di sana. Sehari sebelumnya kau bilang, “Jangan malam minggu, aku sudah ada janji.” Tanpa kau jelaskan, aku tahu kau akan menemui perempuan lain selain diriku. Jujur, aku menunggu kau bercerita tentang perempuan itu, tapi sayangnya kau tak kunjung bercerita. Kau memilih merahasiakan dia. Dan aku pun mulai bertanya-tanya, tak cukup baikkah aku untuk kau percayai untuk berbagai? Dan maafkan aku jika pada akhirnya aku meragukan pertemanan kita yang sudah berjalan empat tahun ini.

Aku (sangat) ingin tahu, meski sebagain hatiku yang lain menolak untuk mengetahui. Jadinya aku bertengkar dengan hatiku sendiri. Aku sadar, aku belum siap sepenuhnya untuk mendengar sebuah kenyataan baru. Kenyataan yang kutahu pasti akan membuat jarak di antara kita. Perlukah aku cemburu?

Percayalah, aku sudah mengelak perasaan ini. namun semakin kuberpaling, ia semakin mengejarku. Semakin kuhempas, ia semakin erat mendekapku. Dan aku mulai lelah, jadinya kubiarkan saja rasa itu tumbuh semakin subur, lalu beranak-pinak menjadi tunas-tunas harapan, yang celakanya, aku terlena dan lupa untuk membentengi hati ini sebelum hancur lebur. Dan beginilah selanjutnya...aku yang sedang mati-matian menahan pilunya patah hati. Maaf, jika telah membiarkan ini terjadi. Karena kupikir, statusmu yang sendiri tak menjadikan sebuah masalah untukku mengambil hatimu. Nyatanya aku keliru. Kita telah dikekalkan dengan sebuah status yang bernama sahabat.

Kurasa semuanya bermula dari sebuah perjalanan singkat ke kota sebelah yang pernah kita lakukan, tempo hari. Kehadiranmu selalu berhasil membuat dada ini berdegup kencang. Percakapan denganmu, meski sering diselingi dengan salah tingkahku, mampu membuatku nyaman. Diam-diam aku menanti pesan darimu setiap hari, meski selalu berujung dengan aku jatuh tertidur tanpa mendapat pesan darimu. Berapa kali aku berharap kau akan datang ke rumahku tiba-tiba. Dan lagi, itu hanya khayalan yang kuciptakan sendiri hingga ia bersengkokol dengan hati untuk menjadikannya harapan-harapan semu. Jangan bilang aku melakukan ini dengan senang hati, karena sering kali aku mengupat dan memaki pada diriku sendiri. Sungguh, rasanya tak enak. Memualkan, seperti perutku ini sedang ditinju berkali-kali.

Lalu kini...saat semuanya harus diakhiri meski aku belum ingin berhenti. Perasaanku (baca saja ‘cinta’) tertolakkan mentah-mentah, sebelum ia memanen manis buahnya. Ia layu. Ia hancur. Ia telah mati. Meninggalkan jejak-jejak luka yang masih menganga.

Maaf, jika begini jadinya aku...
Maaf, telah mencintaimu tanpa izin...

Kini, aku harus mulai terbiasa dengan keadaan yang baru di antara kita. Mungkin sejak saat ini, tak akan ada lagi deru suara motormu memasuki halaman rumahku, tak akan ada lagi ajakan untuk jalan-jalan meski hanya pergi ke warung pecel lele depan rumah, tak akan ada lagi candaan khas kita, tak akan ada lagi dua cangkir kopi yang mendingin karena kita terlalu asik mengobrol di teras rumah malam-malam. Dan tak akan ada lagi hatimu yang bebas kumasuki.

Memang, pernah kau bilang, jika nanti kau telah bersama yang lain, kita tak akan pernah berubah. Kita akan tetap menjadi kita. Tapi sungguh, meski hal-hal yang barusan kusebutkan tak sepenuhnya hilang, yakinilah akan ada yang berubah. Anggap sajalah jarang, tak sesering dulu. Dan aku harus menerimanya, membiasakan diri. Saat sesuatu bergerak, berpindah, maka akan ada sesuatu yang ditinggalkan. Mungkin dalam kasus kita, kasusku sebenarnya, adalah kebiasaan yang telah kita lakukan sebagai sahabat. Demi menjaga perasaan dia yang baru, kan? Ah, aku benci mengatakannya.

Jadi, cemburukah aku?
Sebegitu patah hatikah aku?
Tapi, aku tak punya hak, kan, untuk melarangmu?

Aku telah keliru menilai perhatian dan caramu memperlakukanku. Aku keliru menganggap 
diriku selalu menjadi prioritasmu.

Maaf, jika sekarang aku tak lekas melepasmu...
Maaf, jika sekarang aku masih berharap kau akan rutin menemiku seperti biasa...
Maaf, jika telah berani menulis surat ini dan membuat pengakuan atas hatiku...

Tapi, bolehkah aku masih memiliki cinta ini? membiarkannya terkoyak dan waktu akan mengobati dengan sendirinya? Bolehkah aku masih mendekapmu dalam harapanku? Membiarkannya mengusik ketenangan hingga nanti harapan itu hilang dengan sendirinya, menguap bersama hembusan napas?

Aku tak akan memintamu melakukan sesuatu untukku, karena aku tak memintanya. Aku hanya ingin kau membiarkanku bermain dengan perasaan ini hingga aku lelah dan kami memutuskan untuk sejenak beristirahat.

Aku akan tetap seperti ini, ada atau tidaknya dirimu. Aku akan tetap menjadi rumah yang kau ketuk pintunya saat malam jika kau berkunjung. Aku akan tetap menjadi secangkir kopi yang kau sesap di teras rumahku. Aku akan tetap menjadi seseorang yang kau panggil sahabat :) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...