sumber foto: lastcanned.tumblr.com
Bogor, 10
Agustus 2014
20.36 WIB
Padamu yang
masih menyisakan rindu,
Anggap saja
ini adalah sebuah memoar tentang perjalanan kita yang singkat. Kukatakan singkat
karena kita harus berhenti di tengah jalan, sedangkan perjalanan kita masih ada
setengah jalan lagi. Aku, tepatnya, yang harus menghentikan perjalanan ini,
lalu berbalik arah menapaki jejakku kembali sebelum mencapai tempat ini,
bersamamu. Jika kau ingin melanjutkan perjalanan ini, silakan. Bawa harapan
yang pernah kita rangkai bersama di tujuan yang selalu kita impikan. Namun,
maaf jika kini kau harus meneruskannya sendiri. Atau carilah pendamping
pengganti diriku. Dan kurasa dia bisa melakukannya untukmu. Sedarlah, Ar, kita
sekarang bukan lagi sebagai kau dan aku. Maka lepaskan perlahan. Aku pun akan
melepaskanmu.
***
Siang itu
kau datang dengan kehangatan hatimu yang menenangkan. Sedang aku telah
mendingin bersama secangkir cappuccino yang terus kuaduk. Kita duduk di sudut
kedai kopi favorit kita, seperti biasa. Kau tersenyum riang, dan kurang ajarnya
aku malah membalas senyummu itu dengan wajah dingin serta tatapan yang
menerawang. Seketika aku berubah menjadi sosok yang lain bagimu. Kesalnya aku,
kau masih tak mengerti apa yang tengah kita alami. Kau seolah mengelak untuk
tahu. Kau seolah lari, padahal kau tahu jelas kau sedang menghadapi sebuah
persimpangan.
“Kamu harus
memilih, Ar. Suka tak suka.” Tuntutku setelah bungkam menguasai diri kita. Jangan
anggap aku kuat untuk mengatakan semua ini. Berhari-hari kusiapkan hatiku untuk
menghadapi hari ini. Jangan berpikir aku mudah melakukan ini. Karena jiwaku pun
harus ikut mati.
“Aku nggak
bisa, Ay. Setidaknya jangan sekarang.” Ucapmu.
Aku pun tak
ingin berakhir sekarang. Aku masih ingin melewati hari esok denganmu. Namun aku
tak bisa membiarkan ini semakin berlarut. Kau pun tahu, jika kita biarkan, akan
ada hati yang diam-diam terluka. Dan aku sudah jelas-jelas terluka. Di depan
matamu.
“Hati kamu
nggak bisa untuk ditempati dua orang sekaligus. Harus ada yang kau lepaskan. Dan
mungkin itu adalah aku.” Kutatap matamu yang sendu lekat-lekat. Mencari dirimu
yang tengah bersembunyi. Aku menangkap ketakutan pada sepasang mata sendumu. Binarnya
hilang sudah.
“Biarlah
aku yang pergi, Ar. Bebaskan hatimu. Kita cukupi sampai di sini.” Ucapku lagi,
karena bisu telah menjerat suaramu. Kau hanya mengusap-usap rambut dan mukamu. Aku
tahu kau tengah kebingungan dan kalut. Tapi aku mohon, jangan tunjukkan dirimu
yang seperti itu. Aku hancur melihatmu, sama hancurnya denganmu yang tiba-tiba
harus melepaskanku.
“Aku nggak
bisa!” Akhirnya kau geram karena kekeraskepalaanku. Tanganmu mengepal, dan
sudut-sudut matamu mulai membasah. Sedang aku tak gentar memintamu memutuskan
secepatnya. Lalu aku semakin hancur. Biarlah runtuh sekalian hati ini. lalu
menjadi serpihan debu yang akan terombang-ambing ditiup angin hingga aku
menemukan tempat baru untuk membangun kembali semuanya yang telah hancur.
“Kamu
harus, dan kamu bisa, karena aku pun akan melakukannya!” Ucapku tak kalah tegasnya.
Ya, aku akan melakukannya, demi kau, demi aku, dan demi dia. Aku akan
melakukannya karena ingin melihatmu bebas. Agar kau tak merasa terbebani oleh
keberadaanku.
“Bagaimana
mungkin kau bisa melakukannya? Kau mencintaiku, Ay!” Sergahnya, tajam.
“Aku memang
mencintaimu. Tapi orang yang kucintai tak lagi ada di sini. Sebagian hatinya
berada di tempat lain.” Kurasakan ketika mengatakan itu suaraku bergetar hebat
menahan tangis. Aku lelah, Ar, dengan keadaan ini. aku sudah bertahan tapi
waktu membawaku pada sebuah penyerahan. Aku menyerah padamu yang tak lagi
bersamaku, sejak kedatangannya kembali dalam hidupmu. Jelas, masa lalumu masih
kau simpan rapi. Meski kau memilihku dan kini duduk berhadapan denganmu, dapat
kulihat di kedalaman matamu, ia dan masa lalumu tengah menari-nari indah dengan
kenangan yang pernah kalian ciptakan bersama, jauh sebelum aku akhirnya hadir.
“Hatimu
hanya untuk satu orang, dan itu adalah dia.” Lanjutku lagi. Kini ia menggenggam
tanganmu. Mungkin dengan cara seperti itu ia dapat menahanku pergi.
Sungguh,
Ar, aku pun masih ingin berada di sini. Tapi keadaan mengharuskanku beranjak. Tempatku
bukan lagi di sini. Bukan lagi bersamamu. Hatimu masih dipenuhi oleh dia,
sedang aku hanya meramaikan suasana ketika dia pergi. Dan kini saat ia kembali,
maka aku yang harus pergi. Kau memang tak pernah benar-benar bersamaku. Sifatku
hanya sementara. Sialnya, aku malah terbuai dan betah tinggal di sana.
Sungguh,
Ar, kau tak seharusnya merasa benar-benar kehilanganku. Kau masih memiliki dia
yang senang hati kau panggil kembali. Harus ada yang mengalah, dan itu adalah
aku.
“Aya, aku
mohon...” Suaramu lirih. Memohon untuk apa? Tak seharusnya kau memohon. Kau hanya
tidak pergi dan jangan tengok lagi kisah tentang kita.
“Aku nggak
bisa menjalani hubungan kita jika terus menerus dibayangi masa lalumu. Aku hanya
orang baru bagimu, Ar.”
Hening...
senyap...
Awan di
luar sana berarak menjadi satu. Lalu yang kita lihat kelabu. Dan ia menepi di
wajahmu. Mendung. Kemudian hujan.
***
Kemala
sungguh wanita yang menyenangkan. Cantik tapi tak terkesan mewah atau sombong. Ia
terlahir dengan kadar cantik yang pas, anggun. Seperti putri keraton Solo
kataku ketika melihat fotonya di file laptopmu. Yang waktu itu kau
memperkenalkannya sebagai teman baikmu yang sedang kuliah di negeri di mana
tulip-tulip tumbuh subur. Kau juga bilang sudah lama tak mendengar kabarnya,
sudah hampir setahun lebih tak saling bertukar kabar.
Namun lambat
laun kau pun mengakuinya, bahwa Kemala bukan sekadar teman dekat seperti yang
kau ceritakan padaku. Ia adalah seseorang yang pernah mengisi hatimu selama dua
tahun. Ia juga yang telah mencuri cinta pertamamu. Hubungan kalian berakhir di
tahun kedua masa pacaran kalian. Akumu padaku, alasannya adalah karena
kesibukan masing-masing, dan juga tak sanggup menjalani hubungan jarak jauh. Sifatnya
yang ambisius serta keras kepala membuatmu kewalahan menghadapi dirinya, hingga
ia memutuskan untuk menuntut ilmu di negeri seberang itu, kau pun tak berhasil
menahannya. Lalu, perbedaan waktu dan tempat dengan mudahnya membuat kalian
berpisah. Meski hati kalian masih terpaut erat.
Saat dia
pergi, aku hadir mengisi kekosongan hatimu. Aku meriahkan kembali hari-harimu.
Hingga pada suatu malam yang gerimis saat kita menunggu bus di halte depan
kantor kita, kau menyatakan perasaanmu padaku. Tanpa aku memintamu memberi
waktu padaku, kuiyakan tawaranmu. Kekasih Aro tersemat pada diriku.
Semuanya berjalan
baik. Meski tak selalu mulus. Tapi selama setahun ini, kita selalu dapat
mengatasi permasalah yang kita hadapi dalam hubungan ini dengan baik. Sampai akhirnya
Kemala datang begitu mendadak. Sebagian besar hatimu ikut bersamanya selama
bertahun-tahun, hingga saat ia kembali, hati itu seperti disiram oleh air
surgawi yang menyuburkan kembali cintamu, cinta kalian.
Aku tak
bisa menyalahkanmu, yang masih menyimpan asa padanya. Atau dia yang datang
kembali secara tiba-tiba. Aku cuku tahu diri. Dia cinta pertamamu, mana mungkin
kau begitu mudah melupakannya. Karena menangkap binar di matamu saat mengetahui
ia telah kembali, aku tahu sudah saatnya aku pergi. Tugasku menemanimu sudah
selesai.
***
Ar, aku
mohon jangan seperti ini. Lepaskanlah ikatan kita dengan mudah, seperti kita
memulainya dulu di bawah gerimis itu.
Setelah beberapa
hari kita menyepi sendiri, kau akhirnya tak tahan memintaku untuk bertemu. Aku penuhi
permintaanmu. Maka di sinilah aku menantimu, di sudut kedai kopi favorit kita.
Dengan harapan yang masih ada, juga luka menelan pahit kenyataan. Jauh di dalam
hati, aku pun ingin kau menahanku pergi, ingin rasanya kau akhirnya memilih
aku, dan melepaskan dia. Tapi aku teringat kembali pada binar matamu setiap
kali kau menyebut matanya. Jadilah aku meyerah.
Kulihat jam
di tanganku. Ini sudah hampir setengah jam berlalu dari waktu yang kau
janjikan. Aku menjadi resah, dan keyakinan untuk mengakhiri semuanya datang
perlahan. Mungkin ini pertanda, Ar.
Hampir
sejam, tapi tak kulihat tanda-tanda kedatanganmu. Ponselmu pun tak aktif. Di bawah
tik-tok jam dinding yang ada di dinding atas kepalaku, aku meninggalkan pesan
untukmu. Di meja sudut kedai kopi favorit kita.
Aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi. Menunggumu malah
semakin menumbuhkan harapan yang seharusnya kukubur. Maaf jika aku meninggalkanmu
dengan cara seperti ini. Aku hanya tak ingin hancur, Ar. Aku akan melakukannya
sekarang, maka kumohon lakukanlah apa yang kulakukan. Ini hanya untuk kita,
untuk kalian. Dan sekarang tidak ada lagi kita yang berarti aku dan kamu. Kita telah
berakhir. Lepaskanlah aku semudah embun meninggalkan ujung dedaunan kala fajar
datang. Lepaskanlah aku seringan daun jatuh terempas ke tanah. Lepaskanlah aku
sekuat ombak menghempas sang karang. Lepaskanlah aku sesederhana ucapan selamat
pagi yang selalu kau ucapankan untukku.
- Raya
.jpg)
Komentar
Posting Komentar