Langsung ke konten utama

Dandelion di Senja yang Memudar

Sumber foto: flickr.com



            Aku adalah seorang putri dari Dewa dan Dewi Angin. Namaku Angin Senja, angin paling bungsu dari keluarga anginku. Aku dilahirkan dari rahim ibuku untuk sebuah tugas: menebarkan tangkai-tangkai dandelion di sebuah padang dandelion yang sangat luas di tepi hutan cemara di bawah sana pada suatu senja yang memudar.

            “Turunlah ke bumi, anakku, Angin Senja. Tugasmu sudah menanti. Bersahabatlah dengan dandelion-dandelion itu dan pada suatu senja yang memudar, tebarkanlah mereka dari tangkai-tangkainya dengan hembusanmu.” Begitu perinta Ayah ketika mengantarkan kepergianku di gerbang rumah kami di langit sana.

            Selanjutnya apa yang akan kuceritakan padamu bukanlah kisah tentang diriku, Kawan. Melainkan kisah tentang dua orang sahabatku, Dandelion dan Kumbang, dan cinta mereka. cinta yang terlahir dari kekaguman. Cinta yang tumbuh karena keyakinan dan pengharapan. Cinta yang bersemi dari perbedaan. Cinta yang tak melulu berujung satu.

            Apakah kau mau mendengarkan kisah mereka ini? Namun, jangan berharap kau akan menemukan kisahku di sini. Aku hanya berperan sebagai pencerita untuk dua sahabatku itu. Aku hanya sebuah angin senja. Suatu saat akan menebarkan dandelion dari tangkai-tangkainya di suatu senja yang memudar.

***

            “Halo, selamat pagi, aku Angin Senja.” Sapaku pada setangkai dandelion di tepi sungai yang airnya jernih mengalir gemericik menenangkan hati, sesaat aku tiba di bumi.

            “Halo, aku Dandelion. Senang bertemu denganmu,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kepadaku dan segera kusambut. “Ya, aku pernah mendengarmu dari angin yang lain, kalau kau akan datang menemui kami suatu hari kelak, dan ternyata hari ini.” Dandelion itu kembali berujar.

            “Oh, ia pasti salah satu kakakku yang sedang mampir ke tempatmu.”

            “Apakah sudah tiba waktu bagiku untuk kau tebarkan tubuhku yang rapuh ini, Angin Senja?” tanya Dandelion dengan sedikit rasa gugup.

            “Tidak, Dandelion. Bukan sekarang. Aku ingin kita menjadi sepasang sahabat terlebih dahulu, maukah kau?”

            “Ah, tentu saja! Memang begitulah seharusnya, Angin Senja. Dandelion memang ditakdirkan untuk bersahabat dengan angin senja. Ia yang kelak akan menebarkanku untuk terbang bebas.” Kedua mata jernihnya seperti tengah menerawang pada satu khayalan. Kutahu pasti apa yang ia khayalkan. Suatu senja yang memudar ketika ia kuhembuskan dan melayang bebas, terbang ke tempat lain yang belum ia datangi. Menjadi hamburan dandelion yang bebas.

Sepasang mata jernih itu terbingkai dalam wajah yang manis dan ceria. Seulas senyum terkembang di sudut-sudut bibirnya yang mungil merona. Ia benar-benar setangkai dandelion yang sangat cantik. Aku bahkan iri melihatnya, bagaiman mungkin setangkai dandelion yang rapuh memiliki paras yang begitu rupawan. Adakah pria yang menyukainya? Ah, tentu saja ada. Kelak ku akan tahu siapa pria yang telah dibuatnya jatuh cinta.

“Apa kau memang tinggal menyendiri seperti ini di tepi sungai?” tanyaku setelah memerhatikan sekelilingnya yang tidak ada dandelion lain yang tumbuh di sekitarnya. Kawanannya berkumpul di padang dandelion jauh di depan sana.

“Ya. Aku lebih senang menyendiri,” Jawabnya sambil duduk di tepi sungai dan menenggelamkan separuh kakinya ke dalam air sungai yang sejuk. Aku mengikuti duduk di sampingnya.

“Kenapa?”

“Mereka—kawan-kawanku itu—terlihat sangat cantik, tapi aku merasa tak sebanding dengan mereka. Aku tidak cantik dan juga tak berharap ada yang mengakuiku cantik. Cantik hanya akan membuat dirimu sombong lantas lupa diri, seperti kawan-kawanku itu.”

Kulihat raut wajahnya yang berubah sedikit muram. Bukan, bukan karena ia tak mendapatkan pengakuan bahwa ia cantik. Ia tidak butuh untuk hal satu itu. Ia hanya merenungi tentang kesendiriannya. Ia pasti sudah terlalu lama sendiri dan kesepian. Ia ingin ada seseorang yang menjadi temannya. Yang tidak hanya ingin berteman karena kecantikannya, namun karena kebaikan dan ketulusan hati yang ia miliki. Aku dapat melihat itu dengan jelas. Melalui tatapan mata dan senyumnya yang tulus.

“Aku akan menetap bersamamu. Aku tak akan lekas pergi. Kita akan melakukan banyak hal menyenangkan bersama di sini. Tak usah kau risaukan lagi kesepianmu.”

“Benarkah itu, Angin Senja? Apa tak mengapa jika kau tinggal denganku terlalu lama? Bagaimana dengan tugasmu? Apa kata ayahmu jika ia tahu rencanamu ini?”

“Tentu saja. Aku, kan, sudah berjanji akan menjadi sahabatmu, hingga tiba waktumu kutebarkan dari tangkaimu. Ayahku akan mengerti, tenang saja, Dandelion.”

Di luar dugaanku, Dandelion langsung saja merangkul tubuhku erat. Aku sedikit terkejut dengan aksinya yang begitu tiba-tiba itu. Namun, ketika ia merangkulku, dapat kurasakan dadaku terasa hangat. Aku dibalut rasa nyaman karena rangkulannya.

“Apa kau mau kuajak bertemu dengan seorang temanku, si Pohon Tua?” Tanyanya setelah melepaskan rangkulannya di tubuhku. Langsung saja kuanggukkan kepalaku tanda setuju. Saat ia bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya untuk menyambutku berdiri, dari arah kejauhan kulihat seekor kumbang terbang mendekat ke arah kami.

“Halo, Dandelion, apa kabarmu senja ini?”

Dandelion tak menjawab sapaan kumbang itu. Wajahnya tampak gugup dan bibirnya terbuka sedikit hendak mengatakan sepatah kata namun tak berhasil ia ucapkan.

Mungkinkah kumbang ini yang telah terpana dengan kecantikan Dandelion?

***

“Ah, ya, aku tahu beberapa saudarmu. Mereka pernah mampir ke mari beberapa kali dan berbincang sejenak denganku. Mereka menyenangkan tapi tak semanis dirimu, Angin Senja. Terkadang mereka sangat ribut dan berisik sekali,” kata Pohon Tua setelah Dandelion mengenalkan kami berdua. Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya.

“Aku pun ikut senang jika kau akan menatap sedikit lebih lama sebelum tugasmu terlaksana di sini. Setidaknya aku tenang kini Dandelion ada yang menemani. Aku kasihan padanya yang selalu sendirian, Angin Senja. Sedang aku tak mampu menemaninya selalu. Tubuhku sudah terlampau tua untuk mengajaknya bermain. Hahaha.” Tawa Pohon Tua membahana membuat tubuh kecil kami ikut bergoyang mengikuti hentakan tawanya.

“Apa kau senang sekarang, Dandelion?” Tanya Pohon Tua kemudian.

“Sungguh, Pohon Tua!” Dandelion menatapku gembira dan menggenggam tangan kananku erat. Aku balas genggaman tangannya.

“Ah, bagaimana dengan si Kumbang itu? Apa dia masih sering mengunjungimu saat senja?” Kutangkap nada godaan dari ucapan Pohon Tua kepada Dandelion. Yang ditanya hanya tersipu malu dan tak menjawab. Ada sesuatu yang sedang Dandelion sembunyikan dariku. Tentang si Kumbang itu.

“Aku berharap ia tak akan menemuiku lagi.” Dandelion beranjak dari duduknya di bawah tubuh Pohon Tua. Wajah cerianya kembali muram.

***

“Apa yang tak kutehaui tentang sahabatku itu, Pohon Tua?” Tanyaku saat berkunjung pada satu pagi yang hangat sambil membawakan sekotak sarapan untuknya. Saat itu aku berkunjung seorang sendiri. Dandelion tengah pergi ke salah satu sanak keluarganya di padang dandelion sana.

“Tentang apa yang tak kau ketahui itu, anakku?” Pohon Tua malah berbalik bertanya kepadaku. “Kau sungguh sudah tahu bagaimana wataknya, bukan? Kau hapal sudah apa yang ia sukai dan tak ia sukai, mulai dari makanan kesukaannya, film yang sering ia tonton, apa yang senang ia lakukan saat waktu senggang, bahkan selera pakaiannya, bukan?”

“Tidak, Pohon Tua. Bukan tentang itu. Ya, aku sungguh sudah mengenal ia selama beberapa minggu bersamanya. Namun, kurasa ada hal lain yang tengah ia sembunyikan. Tentang si Kumbang itu. Mungkinkah mereka memiliki hubungan spesial? Ehm..maksudku berpacaran, begitukah?” Aku ragu saat mengucapkan hal terakhir itu. Rasanya tak pantas aku menanyakannya begitu lekas seperti ini.

            “Hohoho...rupanya Dandelion belum menceritakannya padamu, ya? Bagaimana, ya, ceritanya? Ah, biarkan saja ia yang langsung menceritakannya padamu, anakku. Yang pasti, sahabatmu itu tengah dirundung pilu karena cinta. Bukan karena ia jatuh hati pada seorang pemuda. Bukan pula karena ia patah hati karena cintanya sendiri. Hmm...” Pohon Tua tampak menimang-nimang apa yang perlu ia katakan padaku dan mana yang tidak. Ada jeda dalam kalimatnya. Aku berhasil dibuatnya penasaran atas kelanjutan kalimatnya.

            “Bagaimana jika kukatakan bahwa ia hampir mati karena cinta yang bukan miliknya?”

            “Maksudmu, Pohon Tua?” Aku mengerutkan keningku tanda tak mengerti atas ucapannya. Ia hampir mati karena cinta yang bukan miliknya?

            “Aku sungguh tak mengerti kata-katamu barusan, Pohon Tua. Tak bisakah kau saja yang menjelaskannya padaku?”

            “Hmm...baiklah, anakku. Dande—ah, ini dia pelaku utamanya datang!” Pohon Tua tak melanjutkan penjelasannya dan malah mengalihkan obrolan kami pada yang lain. Pada sosok yang terbang mendekat ke arah kami. Kumbang itu. Ia tampak berseri-seri dan ditangannya ada setangkai aster putih. Bunga kesukaan Dandelion.

***

       “Aku sangat mencintainya, Angin Senja.” Aku Kumbang setelah kami banyak mengobrol mengenai hubungan ia dan Dandelion.

            “Karena ia cantik.” Ucapku singkat.

            “Sebuah pertanyaan, kah, itu?”
           
           “Bukan. Aku tahu, kau mencintainya karena ia cantik bukan?” Kurasakan ada kekesalan dalam nada suaraku barusan. Aku tak begitu suka jika alasannya mencintai Dandelion semata karena rupanya yang cantik. Sungguh, Dandelion tak butuh hal seperti itu. Ia bukan dandelion kebanyakan yang merasa cantik lantas menjadi angkuh karena pesona rupanya.
           
           “Kau salah besar jika kau mendugaku begitu, Angin Senja,” kata Kumbang dengan tenang.
            
            “Lantas?”

            “Aku mencintainya karena ia berbeda. Karena kerendahan dan ketulusan hatinya. Karena kebaikan hatinya. Karena keceriaannya. Karena ketangguhannya hidup sendiri sebagai dandelion yang rapuh.” Kutangkap gurat-gurat kasmaran di wajah Kumbang yang tertimpa sinar keemasan langit senja.

            “Klise.”

           “Memang, dan biarlah begitu adanya. Kau tak bisa menyebutkan secara jelas bukan bagaimana dan karena apa kau jatuh cinta? Terkadang ada hal yang tak butuh alasan untuk terjadi, bukan? Dalam kasusku, jatuh cinta pada Dandelion.”
           
            Ada jeda yang hadir di antaraku dan Kumbang. Aku setengah jengkel dengannya, sebenarnya. Hampir saja kutinggalkan ia di tepi sungai jika ia tak segera menahan langkahku.

        “Tunggu! Maukah kali ini kau menemaniku mengobrol? Mungkin kau dapat membantuku keluar dari masalah ini, setidaknya menemani dan mendengarkan kisahku sekarang.”

            ‘Masalah’ ucapnya? Masalah apa?

            Kubalikkan badan dan berjalan kembali ke tempatnya berada.

        “Maafkan aku jika aku telah melukai hati sahabatmu itu. Aku telah keliru dengan cintaku padanya. Kupikir cintaku mampu membuatnya bahagia tapi aku malah membunuhnya perlahan.” Kumbang mengucapkan hal yang hampir sama dengan apa yang dikatakan Pohon Tua padaku pagi kemarin. Cinta yang perlahan membuat Dandelion mati. Cinta yang perlahan membunuhnya.
            
            “Aku begitu mencintainya. Kuutarakan perasaanku padanya pada satu hari yang gerimis, tepat di bawah naungan daun rindang Pohon Tua. Sayangnya, aku tak mendapatkan apa yang aku harapkan selama ini. Ia menolak cintaku. Alasannya? Karena ia tak mencintaiku seperti diriku padanya. Ia bahkan bilang tak bisa memaksakan hatinya untuk mencoba mencintaiku pula. Patah hati? Tentu. Sangat.” Ada kegetiran yang kuhirup dari suaranya. Ia bersungguh-sungguh akan hal ini. Ia tak sedang menarik simpatiku sebagai jalan untuk mendapatkan Dandelion. Tidak, perasaannya ini sangat kuat dan dalam. Tak urung aku didera rasa pilu juga karenanya.
        
          “Namun, kupikir setelah itu akan baik-baik saja. Nyatanya tidak, Angin Senja. Dandelion tampak biasa saja, ceria seperti biasanya. Namun tidak pada diriku. Perlahan cintaku padanya menggerus akal sehatku dan mengubahku menjadi sosok yang berbeda di mata Dandelion.”
            
               “Sosok yang berbeda bagaimana maksudmu, Kumbang?”

          “Aku berubah menjadi sosok pengatur baginya. Sering kali aku melarangnya pergi jauh, cemburu berlebihan ketika melihat ia sedang bercakap-cakap dengan teman prianya yang lain. Tak jarang pula aku menuntut perhatian lebih darinya. Tak jarang aku ketakutan jika ia tak mengabariku atau membalas pesan-pesanku yang kutitipkan pada kawanku seekor burung. Yang membuat keadaannya semakin rumit adalah aku menunjukkan sikapku itu secara langsung di depannya. Padahal siapa aku baginya? Ia tampak ketakutan dan juga marah. Aku dapat melihat jelas dari matanya yang jernih. Ia membenciku sekarang.”
            
                  Aku tak dapat mengatakan apa-apa selain diam di tempatku. Kulihat raut wajah Kumbang yang tercermin di permukaan air sungai. Ia menyesal tapi tak tahu harus melakukan apa. Ia kalut tapi tak ada jalan keluar yang ia punya. Kuyakin ia punya jalan keluarnya jika ia ingin menyelamatkan Dandelion agar tak sepenuhnya terbunuh oleh cintanya. Ia hanya tak ingin melakukannya, karena jika melakukannya ia akan kehilangan Dandelion selamanya.

       Awan mendung mulai berarak di langit atas kami. Tetetas hujan mulai jatuh satu per satu. Semakin banyak, semakin deras. Tubuh kami seakan terpaku di tempat kami masing-masing hingga memasrahkan diri dikuyupi hujan.

     “Lepaskan ia dari genggamanmu, Kumbang. Ia ingin bebas. Bebas pergi ke tempat yang ingin ia kunjungi. Bebas untuk memilih cintanya sendiri. Lepaskanlah.”

        Di balik suara hujan yang menderas, kudengar Kumbang mulai terisak.

***

Di pagi yang dingin karena mentari telat bangun, beberapa hari setelah percakapanku dengan Kumbang berlalu, Dandelion mengajakku piknik ke padang rumput seberang sungai. Katanya di sana tempatnya sangat nyaman. Hijau sejauh mata memandang. Udaranya pun sejuk, lebih sejuk dari tempat kami. Aku sempat tak yakin dengan ajakan Dandelion itu. Kulihat hari sedang tak begitu cerah untuk pergi piknik. Namun, dasar Dandelion yang keras kepala ia tetap memaksaku. Kalau hujan turun kami bisa berteduh di salah satu pohon kerabat si Pohon Tua katanya. Maka kumenurut saja apa katanya.

Begitu sampai di salah satu sisi padang rumput itu, kami langsung menggelar kain sebagai alas duduk kami dan mengeluarkan beberapa kotak bekal yang kami bawa. Dandelion banyak cerita tentang sahabatnya kali ini. Namun ceritanya lebih banyak tentang si Pohon Tua itu.

“Ia itu sungguh senang tertawa. Namun kutahu sebenarnya ia masih menyembunyikan lukanya karena ditinggalkan kekasihnya, setetes embun. Tertawa hanya menjadi pelariannya saja.”

“Lalu bagaimana dengan si Kumbang, Dandelion?” tanyaku begitu saja, bahkan tanpa kuduga-duga sebelumnya akan bertanya mengenai itu.

“Ah, dia...dia pria yang baik, menyenangkan.” Hanya itu yang Dandelion katakan tentang Kumbang. Aku masih penasaran kelanjutan kisah mereka setelah mendengar satu pihak dari Kumbang. Aku ingin tahu, apakah Dandelion pun merasakan pilu yang sama dengan Kumbang atau bahkan lebih dalam dan lebih pahit.

“Aku tahu, kau pasti sedang menerka-nerka tentangku dan Kumbang, kan, Angin Senja?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, aku merasa sungguh tak enak hati. Namun, aku pun perlu mengatakkan padanya tentang percakapan aku dengan Kumbang tempo hari.

“Maafkan aku, Dandelion. Tanpa seizinmu terlebih dahulu, aku telah mengetahui kisahmu dengan Kumbang. Beberapa hari yang lalu, saat kau pergi berkunjung ke sanak keluargamu di padang sana, kami—aku dan kumbang—bercerita banyak mengenai hubungan kalian.”

“Benarkah, Angin Senja? Tak masalah jika kau sudah mengetahuinya. Karena cepat atau lambat kau pasti akan mengetahuinya juga.”

“Apa kau baik-baik saja?” Tanyaku sedikit ragu jika ucapannya barusan tak seperti isi hatinya.

“Bohong jika aku baik-baik saja. Aku sudah lama tak baik-baik saja, Angin Senja. aku telah lama dibalut rasa takut, amarah, juga bersalah.”

Bersalah? Bersalah untuk apa? Bukankah wajar jika ia menolak cinta Kumbang karena ia memang tak bisa mencintainya?

Seakan tahu apa yang tengah bergumul dalam pikiranku, Dandelion melanjutkan kalimatnya.

“Aku merasa bersalah pada diriku karena akulah yang telah menjadikan ia seperti sekarang ini. Karena ia mencintaiku makanya ia berubah seperti sekarang. Mungkin akan berbeda ceritanya jika yang ia cintai bukanlah aku. Mungkin ia tak akan sesakit ini jika mencintai dandelion yang lain. Mungkin ia akan tetap menjadi dirinya seperti dulu jika tak mencintai diriku. Akulah satu-satunya penyebab yang mengubahnya sekarang. Bodohnya aku, aku sendiri tak bisa menyembuhkan rasa sakit hatinya. Akulah yang pantas disalahkan, Angin Senja. Aku tak bisa membalas cintanya, sungguh tak bisa. Maafkan aku.”

Dandelion mulai terisak dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Beginikah ceritanya? Inikah yang Kumbang dan Pohon Tua maksud dengan “membunuhnya perlahan”? Kuingat beberapa kali waktu malam, kumemergoki Dandelion tengah menangis di tepi sungai tempat biasa kami menghabiskan waktu luang. Mungkin karena ini ia amat terluka. Bahwa tak hanya Kumbang yang terluka, Dandelion pun sama terlukanya.

“Makanya aku senang ketika kau datang, Angin Senja. Aku ingin segera kau tebarkan tubuhku hingga terlepas dari tangkaiku dengan hembusanmu. Aku sangat menanti hari itu tiba,” ucapnya di sela isak tangisnya yang mulai mereda.

“Kenapa begitu, sahabatku?”

“Karena aku ingin segera bebas. Terbang melayang tanpa ikatan apapun lagi. Aku ingin pergi dari hadapannya, agar ia tak perlu lagi mencintaiku, dan tersakiti karena cintanya padaku yang tak bisa kubalas. Agar ia tak benar-benar hancur karenaku. Biarkan aku yang pergi, Angin Senja, karena akulah penyebab perkara ini terjadi.”

***

Lusa keesokan harinya, pagi sekali seorang kakakku mampir ke tempatku dan Dandelion. Ia membawa pesan dari ayah kami bahwa tugasku sudah tiba. Pada senja yang hampir memudar hari itu, aku harus menghamburkan dandelion-dandelion itu dari tangkainya. Berbeda denganku, Dandelion menyabut kabar itu dengan gembira. Sebaliknya aku sangat gusar dan sedih.

“Sudah tiba waktumu, Angin Senja. Hembuskanlah aku dengan tiupanmu itu. Aku akan bebas, dan biarkan aku bebas.”

“Tak bisakah aku menyisakanmu untuk tetap di tangkaimu, Dandelion?”

“Mana bisa, Angin Senja. Kau ini mengada saja,” jawabnya dengan gurauan. Ia sangat terlihat antusias sekali hari itu. Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya ketika ia terlihat murung.

“Kau angin senja dilahirkan untuk menebarkan dandelion-dandelion dari tangkainya, sahabatku. Dan aku adalah dandelion yang terlahir untuk kautebarkan. Kita sudah ditakdirkan untuk kisah seperti ini, Angin Senja.”

Ya, aku angin senja yang terlahir dari rahim Dewi Angin dengan mengemban tugas menebarkan dandelion-dandelion dari tangkainya di suatu senja yang memudar. Di senja pada hari itu. Beberapa saat sebelum kutunaikan tugasku, aku, Dandelion, dan Pohon Tua menghabiskan hari terakhir kami bersama-sama dengan mengadakan pesta kecil sebagai pesta perpisahan kami. Kumbang telah kuundang juga, tapi rupanya ia tak akan datang. Kami berbicara banyak hal, tentang masa lalu, mimpi-mimpi kami, kehidupan kami setelah hari ini, hingga tentang cinta.

“Kau perlu tahu, Angin Senja, cinta tak melulu perkara manis dan terang. Kadang ia sangat pahit dan gelap. Cinta seharusnya dapat membebaskan tubuh-tubuh yang tengah dikuasai oleh dirinya. Namun, karena hebatnya arus cinta, ada yang terlalu terbuai karenanya lalu tersesat di dalamnya hingga lupa jalan pulang. Mereka yang tak bisa mengendalikan cintanya akan mati perlahan.”

Aku dan Pohon Tua begitu khusyuk mendengarkan ucapan Dandelion. Kami tahu, ini akan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia pergi. Tak lama Dandelion melanjutkan kembali ucapannya itu.

“Cinta seharusnya membebaskan. Membebaskan hati yang pada suatu hari nanti akan kembali ke pangkuanmu juga. Cinta tak perlu ikatan erat, itu hanya akan melukaimu. Cukup bebaskan dan lihat ketika ia kembali lagi padamu. Cinta terkadang cukup dengan sebuah pernyataan bukan pertanyaan. Cinta terkadang cukup hanya dengan dipendam seorang diri. Bahkan cinta terkadang cukup dengan keberadaannya saja di sisimu tanpa perlu benar-benar ‘ada’. Dengan keberadaannya saja tanpa perlu kau lihat sepanjang waktu, itu sudah cukup.”

Kulihat semburat jingga mulai menampakkan dirinya di ujung barat sana. Aku menahan napasku persekian detik. Inilah waktuku. Namun, Dandelion belum selesai dengan ucapannya.

“Jika orang-orang berkata cinta tak melulu perkara memiliki, aku sependapat dengan itu. Jika orang-orang berkata bahwa hal itu klise, memang begitu adanya.”

Langit jingga kian merambat ke langit di atas kami.

Satu...

“Bagiku cinta bukan perkara memiliki atau tidak. Tapi lebih dari itu. Bagiku cinta mampu menguatkan meski kau berjalan sendiri. Cinta tak juga melulu kau harus bersamanya, tak juga harus berujung satu.”

Dua...

“Bagiku cinta bukan perkara dimiliki atau tidak. Tapi bagiku cinta adalah perkara kau mengikhlaskan, melepaskan.”

Tiga...

Dalam satu hembusanku, Dandelian terberai dari tangkainya. Di senja yang hampir memudar. Lalu tubuhnya melayang ringan dan bebas ke angkasa. Ia telah bebas bersama rasa cintanya yang besar untuk seorang sahabatnya yang bernama Kumbang. Ia menunjukkan cinta dalam bentuk yang lain: kepergian. Kulihat di tengah padang dandelion yang berhamburan, Kumbang tengah manatap Dandelion yang melayang-layang.

“Terima kasih telah membebaskanku dengan kepergianmu.”
            
             Pergilah ia, Dandelion di senja yang memudar.

Komentar

  1. Ti, aku nangis baca tulisan kamu. Background sama tulisannya bikin nangis. Ganti warna backgroundnya, Ti. :(

    BalasHapus
  2. seriusan, Da, sampe nangis??? hahaha :D
    itu aku baru ganti template, Da, masa iya ganti lagi... :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...