Langsung ke konten utama

Happily Ever After

Sumber foto: pixgood.com


Hallo, Guys! :)

Kali ini aku mau berbagi cerita sedikit tentang kegiatanku selama tiga hari kemarin. Jadi selama tiga hari kemarin itu, Gagas Media kembali hadir dalam sebuah event yang mereka adakan untuk memeriahkan liburan panjang Natal dan Akhir Tahun. Berbeda dengan event sebelumnya, yaitu Kumpul Penulis dan Pembaca 2014 dua pekan lalu, kali ini Gagas Media mengusung event dengan judul Vitual Book Tour yang melibatkan editor, penulis, blogger dan para Gagas Addict sebagai host acaranya.

Jadi, sebenarnya ngapain, sih, Virtual Book Tour itu??

Para host yang udah ditunjuk oleh Gagas tersebut, diberi kepercayaan untuk mengemukakan pandangan dan pendapat mereka mengenai cerita dari tiga novel terbaru Gagas di blog-nya masing-masing. Novel-novel itu antara lain Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (Bernard Batubara), Happily Ever After (Winna Effendi), dan Walking After You (Windry Ramadhina). Akan ada tiga host setiap harinya, terhitung dari tanggal 26 Desember kemarin, yang akan curhat sama kita-kita soal kisah mereka masing-masing terkait dengan cerita yang ada pada setiap novel. Satu host akan menangani satu novel. Jadi, para Gagas Addict yang lain bisa 'tour' ke setiap blog dari para host tersebut, Guys. Inilah mengapa event-nya dinamakan Virtual Book Tour, jalan-jalan ke blog orang-orang kece dan saling sharing soal buku dan pengalaman yang terkait dengan cerita dari novel-novel tersebut.

Seperti yang dikutip dari akun Twitter Gagas Addict (@GagasAddictInd), Virtual Book Tour nggak hanya sebagai ajang kumpul dan sharing pengalaman para Gagas Addict, tapi ada juga giveaway berhadiah novel Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, Happily Ever After, dan Walking After You. Giveaway ini udah pasti nggak dikasih cuma-cuma gitu aja, Guys. Tapi dari setiap posting-an para host di blog-nya, masing-masing host akan memberikan semacam pertanyaan atau tantangan yang dilemparkan ke para Gagas Addict. Kalau beruntung akan mendapat satu eksemplar novel sesuai dengan novel apa yang mereka bawakan dalam posting-annya. Gratis langsung kirim ke rumah! So, jadi semakin meriah, kan, 'tour'-nya? ^_^

Sebagai salah satu Gagas Addict, dari hari pertama Virtual Book Tour ini berlangsung, aku langsung berselancar ria dari satu blog ke blog lain dari para host. Meski lagi diburu revisian skripsi dan persiapan presentasi seminar di kampus, nggak menghalangi keinginanku untuk ikutan nimbrung bersama Gagas Addict yang lainnya. Di hari pertama, keberuntungan belum memihak samaku kayaknya, Guys. Karena setelah mantengin timeline Twitter Gagas Media, nggak ada namaku disebut di sana. Kecewa? Pastilah, namanya juga berharap bisa menang dan dapet novel gratisan, hahaha :D

Tapi, aku nggak berhenti di hari pertama, aku ikutan lagi di hari kedua. Di hari kedua itu, aku cuma tour ke salah satu blog host aja, yaitu blog-nya Kak Titiw Akmar (titiw.com/@titiwakmar). Di dalam blog-nya, Kak Titiw berbagi mengenai makna happily ever after bagi dirinya. So, pasti novel yang ia bahas adalah novel terbarunya Kak Winna Effendi, Happily Ever After. Dengan mengungkapkan beberapa pendapat tentang happily ever after, Kak Titiw pun nggak lupa untuk menghubungkan pandangannya dengan kisah di dalam novel tersebut. Kalau teman-teman mau baca bagaimana Kak Titiw bicara soal happily ever after-nya, teman-teman bisa kunjungi link-nya di sini :)

Di akhir tulisannya itu, Kak Titiw melempar pertanyaan pada Gagas Addict, "apa, sih, arti happily ever after menurut kamu?". Tak perlu lama-lama, tak perlu banyak tenaga (eeaakk, jadi nyanyi :p), aku langsung aja, deh, ungkapin happily ever after versiku itu di kolom comment. Begini, nih, kataku,

"Arti “happily ever after” buat aku itu adalah aku telah mencapai titik di mana aku nggak mau kemana-mana dan berusaha menjadi siapa-siapa lagi. Saat di mana aku telah sepenuhnya menjadi diriku sebenarnya dan bisa mencapai juga melakukan hal-hal yang aku inginkan dan sukai. Seperti kata Kakak dalam tulisan di atas, sebelum kita mencapai keadaan yang ‘happily ever after’ itu, terlebih dahalu kita perlu melewati berbagai proses yang nggak mudah dan bahkan menyakitkan. Nah, sekarang aku lagi berada di proses-proses yang menyakitkan itu, Kak. Proses itu harus aku lewati sebagai pembuktian diri bahwa aku juga berhak mendapatkan hidup yang ‘happily ever after’ itu. Ya, bisa dibilang ‘happily ever after’ itu jadi semacam reward setelah kita bersusah-susah dan nggak jarang berdarah-darah buat melaluinya, hehehe :P
Selain itu, aku juga berpendapat kalau ‘happily ever after’ itu nggak melulu karena kita telah melakukan hal yang ‘wah’ dan sempurna. Menurutku ‘happily ever after’ juga bisa didapat dari bentuk kekurangan yang ada pada diri kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi hidup kita dengan baik dan tetap bersyukur pada Tuhan, rasanya kita udah bisa mencapai kebahagiaan selama-lamanya. Cukup menerima kekurangan dan kelebihan diri kita dan nggak terus-menerus mengikuti orang lain.
Dan yang terakhir menurutku soal ‘happily ever after’ adalah ketika aku udah menemukan orang-orang yang mencintaiku, baik pasangan, keluarga, maupun sahabat yang mampu menerima segala kekuranganku dan mau berbagi untuk saling melengkapi tanpa saling mengungkit kejelekan diri masing-masing. Saat di mana aku berada bersama orang-orang yang mampu membuatku terus berkembang dan memperkaya diri. Saat di mana aku percaya bahwa diriku layak untuk mereka cintai dan banggakan."
And, after that...aku nggak nyangka ternyata Kak Titiw memilih jawabanku yang keluar jadi pemenangnya. Sekarang sebuah novel Happily Ever After lagi dalam perjalanan sampai ke rumahku, yeeaaayy \^_^/
By the way, setuju nggak, sih, kalian...untuk mencapai hidup yang happily ever after itu, terlebih dulu kita harus mengalami banyak hal yang menyakitkan, jatuh berkali-kali sebelum akhirnya kita memutuskan untuk bangkit kembali, menghadapi banyak kesulitan yang sering banget membuat kita patah arang dan bahkan sampai memutuskan untuk berhenti aja, atau mengalami situasi yang namanya kehilangan. Nah, biasanya point yang terakhir itu yang sering membuat kita merasa, "kayaknya hidup gue nggak akan bahagia, deh, setelah kepergian doi :("
Okay, I'll tell you something, sedih karena kehilangan itu wajar. Yang nggak wajar itu adalah ketika kalian nggak bisa bangkit setelah kehilangan itu. Bahkan sampai nggak peduli lagi sama arah, tujuan, dan rencana yang udah direncanakan dalam hidup. Jadi mau berhenti nyoba apply beasiswa ke luar negri cuma karena putus pacaran? Jadi nggak mau nulis lagi setelah tau doi mengkhianati kamu? Jadi nggak mau kerja lagi seudah tau kalau doi nggak cinta-cinta amat sama kamu?
Stop, thinking about that! Sedih karena kehilangan pasangan yang menurut kalian udah cocok banget itu nggak akan membawa kalian pada happily ever after kalian. Justru karena mereka ninggalin kalian, atau Tuhan memberikan kalian jalan lain untuk nggak bersama lagi, itu tandanya bukanlah dengan mereka kalian akan bahagia, itu tandanya akan ada orang lain yang lebih layak membahagiakan kalian, itu tandanya kalian akan naik satu anak tangga lagi untuk mencapai happily ever after kalian. Bukannya happily ever after itu adalah titik di mana kalian benar-benar merasa bahagia dan damai dalam hidup? Itu tandanya kalian udah berada dan bersama di antara orang-orang atau pasangan yang kalian bahagiakan dan membahagiakan kalian, kan?
Seperti kataku dalam jawabanku kemarin, happily ever after nggak melulu kita harus sempurna. Bisa jadi kebahagiaan hidup itu kita dapatkan dari kekurangan yang ada dalam diri kita. Ketika kita tau bahwa ada kekurangan dalam diri kita, biarkan orang lain yang melengkapinya. Orang lain itu siapa? Bisa pasangan, keluarga, atau sahabat. Karena orang-orang seperti mereka yang akan benar-benar tau tentang diri kita. Dan hanya pasangan, keluarga, dan sahabat baiklah yang mampu membuat kita mencapai happily ever after dalam hidup kita dan mau dengan kerelaannya melengkapi apa yang kurang pada diri kita.
Sekarang kita tinggal berusaha untuk terus mencapai happily ever after kita masing-masing. Melalui setiap proses yang ada, yang nggak jarang menyakitkan. Kita hanya cukup menerima setiap proses yang ada lalu jalani dengan keyakinan bahwa kita pantas bahagia dengan jalan dan pilihan kita masing-masing, nggak peduli seberapa banyak cemoohan orang-orang tentang diri kita, nggak peduli seberapa banyak kegagalan kita temui. Terima lalu jalani. Masih ingat kata-kata Ko Alex dalam salah satu tulisan di blog-nya, you deserve to be happy.
Nah, itu tadi versi happily ever after-nya aku. Kalau kalian gimana? Share, dong, happily ever after kalian di sini. Ditunggu, ya :)
Selamat menemukan happily ever after untuk kalian :)

Nb: lagi nunggu pengumuman pemenang Virtual Book Tour di blog-nya Falen, nih, buat dapetin satu eksemplar novel Walking After You-nya Kak Windry Ramadhina :) Oh iya, buat teman-teman yang mau ikutan event ini, bisa langsung meluncur ke akun Twitter-nya Gagas, masih ada kesempatan buat ikutan sampai besok :)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...