Langsung ke konten utama

Selamat Pagi, Bogor!




Beberapa hari lalu aku sempet misuh-misuh nggak jelas karena pikiran mumet. Mulai dari revisian Bab 1 dan draft teori buat skripsi yang nggak ada ending-nya, tiba-tiba kangen almarhum Papa dan Mama (yang berhasil bikin nggak enak ngapa-ngapain berhari-hari), sampe kepikiran gebetan yang nggak kunjung peka. Bener-bener butuh yang namanya refreshing barang sehari doang, deh! Penginnya pergi ke suatu tempat yang sejuk, adem, hijau sejauh mata memandang, nggak jauh-jauh banget dari rumah, dan yang terpenting nggak perlu ngeluarin duit terlalu banyak. 

Yang kepikiran saat itu cuma satu tempat, Kebun Raya Bogor. Tapi...yakali, ah, gue jalan-jalan sendiri di tempat yang seluas itu. Nggak masalah, sih, sebenarnya, tapi yaa nggak seru aja gitu jalan-jalan muterin Kebun Raya tapi sendirian doang, nggak ada temen ngobrol. Yang ada nanti aku nawarin jasa jadi tour guide lagi (otak duitnya keluar). Hahaha :D

Yaa, seenggaknya gitu ada, kek, seorang temen mah yang bisa diculik dulu seharian buat nemenin temennya yang baik hati ini nyari udara segar dan me-refresh otaknya yang lagi mumet binti suntuk. Setelah tanya sana-sini, ngajak bari jeung maksa, hasilnya....nihil. Nggak ada satu pun yang bersedia aku ajak senang-senang. (diajak senang-senang malah nggak mau, hih -__-")

Jujur aja, sebagai warga Bogor aseli, aku mengamati kalau Bogor, tuh, kurang banget taman yang asyik dan nyaman untuk didatangi seorang diri, kalau kepepet butuh tempat yang segar tapi nggak mau keluar duit banyak. Aku cuma tahu Taman Kecana di Jalan Salak dan Taman Koleksi yang ada di sekitaran Pasca Sarjana IPB di Jalan Pajajaran. Sisanya...entah ada di mana lagi. Mungkin di beberapa wilayah lain ada juga taman yang enak dan bikin betah buat dikunjungi, tapi maksud aku di sini adalah taman yang sekiranya dapat aku jangkau dengan mudah dan sesuai dengan rute jalan dan akses kendaraan umum yang sehari-hari aku lewatin aja. *colek Pak Bima Arya, ah!*

Taman Kencan, sih, dulu jaman-jamannya SMP-SMA masih enak didatangi. Tapi entah kenapa terakhir datang ke sana yang ditemui (maaf) ABG-ABG alay yang lagi mesum, pan iyuwh barbie liatinnya (u_u)". Yang tadi niatnya mau nyegerin mata, eh, pas sampe sana malah merusak mata yang ada. Jadi kapok pergi ke sana lagi. 

Taman Koleksi jadi satu-satunya pilihan tempat buat dikunjungi kalau lagi pengin sendirian sambil ngopi dan baca novel atau ngerjain tugas. Selain karena lokasinya ada di tengah kota, pas banget depan Tugu Kujang dan sebelahan sama Botani Square dan Damri, tempatnya juga enak. Pohonnya rindang, fasilitas bangkunya yaa lumayan, deh, ya, daripada lu-manyun (plesetan lawas, euy!). Merasa agak safety juga, soalnya ada di lingkungan kampus Pasca Sarjana IPB yang satpamnya kadang mondar-mandir. Tapi pengelolaannya masih belum optimal, karena kebersihannya kurang. Sampah numpuk di bawah salah satu pohon dan berceceran di jalan setapak yang melintas taman.

Jadi, setelah maksa-maksa temen minta ditemenin ke Kebun Raya tapi nggak ada yang mau (bahkan si Arbin dan Wulan pun ogah aku ajak, padahal, kan, mereka doang yang suka pasrah aku tarik kemana-mana, hiks, barbie cedih ;(), dan kalaupun nekat jalan sendiri ke Kebun Raya, tapi mikir lagi kayaknya nggak, deh ya jalan olangan. Dibatalkanlah niat nyari udara segar itu. 

Dan pada akhirnyaaa... kesampaian juga nyegerin mata dan otak pagi ini. Tanpa direncakan dan diniatkan dulu sebelumnya, pagi ini sekitar jam 09.46 tadi udah nangkring di salah satu bangku Taman Koleksi. Ini memang nggak sengaja, karena bangun kesiangan dan nggak keburu masuk kelas Speaking pagi ini (maafkan aku, ya, Mr. Erol. Akunya bolos dulu sehari ini :p), dan janjian sama dosen pembimbing jam sepuluh tapi pas di jalan tadi di-SMS minta diundur jadi jam sebelas, dan malas juga nunggu di kampus, jadi melipir dulu, deh, ke Taman Koleksi yang pas banget sama pemberhentian angkot yang aku tumpangi sebelum nyambung angkot buat sampe kampus. Sambil sarapan, baca-baca lagi materi bimbingan hari ini, nyempetin buat curhat di blog, dan juga baca kumcer terbarunya Bernard Batubara yang belum sempet dibaca-baca dari minggu kemarin, hutang sama otak dan mataku yang pengin lihat yang hijau-hijau dan seger-seger terbayar lunas!

Untung pas sampai sini masih sepi (yak, orang lu datang pagi banget, Ti -_-"), jadi pas banget buat menghabiskan 'me time' sambil sarapan dan memuaskan mata lihat pohon dan tanah lapang berumput yang nyegerin. Ditambah sama aroma rumput dan daun basah habis hujan semalam yang nambah bikin seger. Alhasil pikiran mumet, mata yang capek lihat monitor laptop seharian kemarin dan juga kurang tidur, jadi terang dan melek lagi. Aaahh enak bangetlah ini suasananya. Jadi mager buat ke kampus, kan, jadinya (kalau boleh dosen pembimbingnya aja yang datang ke sini, hahaha *ditabok sama Bu Kiki*).

Tapi yaa itu aja kurangnya, belum terawat secara optimal. Kalau pengelolaannya baik, mulai dari fasilitas sampai urusan kebersihannya bagus, kayaknya bakal ramai dikunjungi. Kan, kurang nyaman aja ya gitu, yang tadinya mau nyegerin mata, eh malah keganggu sama pemandangan kotor karena sampah di mana-mana dan tanaman liar yang mulai tumbuh di mana-mana dan semakin meninggi. 

Coba aja gitu, ya, Bogor punya banyak taman kayak di Bandung, banyak macamnya, tempatnya terawat, kan tambah asyik, tuh. Kalau pengin jalan-jalan menghabiskan waktu sendirian seru-seru aja sambil bawa bekal, kopi, baca buku atau mengerjakan tugas. Berharap banget dalam waktu beberapa tahun ke depan, Bogor udah punya banyak taman kota, jangan melulu gedung, ruko, mall, atau apartemen yang dibangun terus. Jadi merasa miris gini, ya? Huhuhu (n,n)"

Tapi lumayan, sih, segini juga. Seenggaknya masih ada kawasan hijau yang sejuk di tengah kota seperti ini. Lumayan bisa buat me-refresh otak penat dan mengembalikan energi yang sempat terkuras. Apalagi masih pagi kayak sekarang, udaranya masih sejuk dan sinar matahari lagi anget-angetnya.
Nggak kerasa, kan, udah hampir setengah sebelas aja. Udah, ah, Titi pamit undur diri dulu. Kalau ada di antara temen-temen yang lagi suntuk juga, langsung, deh, cari tempat atau taman yang asyik dan nyaman buat dikunjungi biar suntuknya pergi dan energi kembali lagi. 

Well, selamat pagi dari Bogor. Selamat Hari Ibu, anyway :)

*peluk cium buat Mama di surga*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...