Langsung ke konten utama

Memang, Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya


Sumber foto: pixabay.com


Dari kecil aku udah terbiasa liat Mama mengurus rumah, bahkan kadang sampai turun tangan juga ngurus pekerjaan Papa dan sekolahku. Walau cuma jadi ibu rumah tangga total yang lebih sering diam di rumah, kerjaan dan kegiatannya menyamai yang kerja kantoran. Bangun sebelum suami dan anaknya bangun, dan nggak akan tidur sebelum suami dan anaknya pulang. Dengan kesehariannya yang seperti itu, Mama terbiasa melakukan segala sesuatunya 'selangkah, dua langkah lebih depan' dibandingkan kami, aku dan Papa. Dengan prinsipnya itu, Mama selalu siap dalam segala keadaan. Menyiapkan segala kebutuhan kami bahkan sebelum kami kepikiran dan membutuhkannya. Karenanya, di rumah kami selalu punya 'suku cadang' kalau sewaktu-waktu, dalam keadaan mendadak, kami udah siap. Mulai dari urusan makanan, keuangan, sampai hal kecil kayak benang jahit, tusuk gigi, dan paku payung. Jadi, kalau Mama beli apa-apa nggak pernah sedikit atau cuma satu, paling sedikit dua. Tapi jangan salah duga dengan mengartikannya sebagai boros ya, Guys. Mamaku tetap menyiapkan dan mendahulukan yang prioritas, kok, dan tentu aja udah disesuaikan dengan budget yang ada.

Tapi menurutku, rata-rata ibu rumah tangga melakukan hal yang sama demi terpenuhinya kebutuhan keluarganya, ya. Mereka, para ibu-ibu termasuk mamaku, melakukannya biar merasa tenang kalau-kalau di rumah ada apa-apa atau anggota keluarganya memerlukan sesuatu. Bayangin kalau di rumah nggak ada cadangan apa-apa, sedangkan ada orang rumah yang lagi butuh banget, misalnya aja kayak obat sakit perut untuk diare. Kalau nggak ada persiapan sebelumnya, bakal makan waktu yang lama buat beli obatnya dulu. Kalau pas sampai di satu warung/apotek langsung ada, gimana kalau stoknya lagi kosong? Orang yang sakit perut di rumah udah keburu lemes karena bolak-balik ke toilet hehehe :p. Nah, inilah salah satu cara yang diterapkan Mama demi melihat suami dan anaknya selalu tercukupi kebutuhannya. Memang kelihatannya jadi kayak ngeribetin diri sendiri, tapi setiap ditanya Mama akan jawab, "Biar Mama tenang. Mending repot sekarang daripada nanti pas dibutuhin banget."

Nggak cuma urusan rumah, kalau mau berpergian kemana-mana pun Mama pasti udah menyiapkan apa aja yang perlu dibawa, apa aja yang sekiranya dibutuhin selama di jalan, apa aja yang sekiranya bakal terjadi di jalan. Jadi aja bawaan kami nggak pernah sedikit. Dan seiring berjalannya waktu, kebiasaan Mama itu turun ke aku. Jadi ngerasa kalau ini bukan cuma sebatas kebiasaan yang dibentuk oleh kebutuhan, tapi udah kayak semacam sifat yang melekat sama diri sendiri. Buat melakukan suatu kegiatan, berpergian ke suatu tempat, menyiapkan sebuah acara, udah bisa dipastikan aku bakal rempong. Kalau teman yang lain cuma menyiapkan a-b-c, aku bakal menyiapkan a-b-c-d-e-f. Kalau teman yang lain cukup bawa satu tas gendong, aku bakal bawa satu tas gendong dan satu koper. Kalau teman yang lain baru akan sampai di tempat acara 15 menit sebelum mulai, aku setengah jam lebih dulu.

Ribet, kan, dengernya? Aku sendiri juga suka mikir malah jadi ribet sendiri. Tapi memang, buah jatuh nggak akan jauh dari pohonnya. Aku sependapat dengan Mama, lebih baik mengantisipasi dibandingkan mengobati. Dan selama ini, prinsip Mama yang sekarang nurun ke aku cukup efektif diterapkan dalam sehari-hari. Kita nggak pernah tau di depan sana kita akan menghadapi apa. Kalaupun nggak terpakai, mungkin ada orang lain, teman misalnya, yang taunya membutuhkannya. Itung-itung berbuat kebaikan dengan sesama, toh? Hihihi :D. Bukan itu aja, sih, alasannya. Baik Mama maupun aku kadang sungkan kalau harus merepotkan orang lain. Jadi, sebelum kejadian apa-apa, kita udah ada solusinya. Sebelum dibutuhkan, aku udah siap duluan. Dan ini cukup membuat merasa diri tenang dan nyaman kalau ada apa-apa atau lagi kemana-mana.

Bertepatan dengan persiapan mau jadi anak kostan beberapa hari lagi, kerempongan menyiapkan printilan buat di kostan nanti dimulai. Di sudut kamar udah numpuk barang yang mau dibawa. Kata seorang teman yang nanya udah sejauh mana persiapannya, dan setelah dikasih tau, lagi-lagi buat orang bilang, "Lo yakin mau bawa itu semua? Yang bener-bener lo perluin ajalah, jangan ngeribetin diri sendiri." Yaa...gimana, yaa. Aku berusaha mencukupi kebutuhan diri sendiri selagi hidup berjauhan sama keluarga. Jadi, benar-benar dipikirkan, biar ngerasa tenang saat nggak ada orangtua yang biasanya siap sedia udah menyiapkan duluan sebelum diri sendiri membutuhkan. Setiap liat ke tumpukan barang dan koper di kamar, jadi inget sama hari-hari liburan ke rumah nenek waktu kecil. Perginya hari Sabtu, tapi dari hari Kamisnya Mama udah beres-beres baju dan yang lainnya di koper. Keliatan, kan, 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'? :p

Kalau pendapatmu gimana? Mengalami hal yang serupa juga? Sharing, yuk, sama aku :)  


Komentar

  1. Aku sama Mama saling berbagi hobi suka membaca aja..
    kalau keraphiann mamaku apih banget aku ngaak rapi banget hahahha..
    Nice share Titi
    selamat ngekos yahh :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Abang Sebelah Rumah

Untuk Abang sebelah rumah, surat ini kutulis dengan ketidaktahuan maksudku menulis surat ini. Aku hanya ingin. Entah, mungkin sebenarnya perlu. Aku pun tak tahu bagaimana menulis prolog yang baik dalam surat ini. Ada berjuta kata yang berjejal dalam kepalaku saat ini yang ingin kutulis. Namun, jari-jari ini kewalahan untuk merunut satu per satu kata dan memilah kata mana yang harus ditulis terlebih dahulu. Untuk Abang sebelah rumah, Ini memang surat cinta untukmu. Ya, aku yang mencintaimu. Sejak setahun yang lalu, Bang. Rasa itu muncul tanpa ketukan di pintu, tanpa pula ada salam. Dia tiba-tiba sudah berada di dalam ruang yang bernama hati. Hatiku, Bang. Menyusuri setiap sudut di dalamnya, menyebarkan suka cita dan perasaan yang indah di setiap jejak langkah yang ia tinggalkan di sana. Di hatiku, Bang. Satu-satunya alasan mengapa aku jatuh cinta padamu adalah, aku jatuh cinta karena terbiasa. Sepertinya. Terbiasa dengan kehadiranmu setiap hari. Terbiasa mendengar suarumu setia...

Dance With My Father Again

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again ***             It was my seventeenth birthday, on November 4 2010, three years ago. I woke up at 5.00 a.m sharp. There was no something special happened, just as usual. Even I hoped there is something happened to me. But, unfortunately, I just dreamt. So, I kept doing all my activities as I’ve done every day. Then, I got up from my bed and started to face my day. Smiled and kept cheerful, I wished the day will be my day, best day ever after.             My mom just smiled when she saw me. She tried to joke with me. Her expression made me laughing, because it was really funny to see her. I moved closer to her in the kitchen. She’d been cooking for our breakfast that time. She opened ...

Teruntuk Gigiku Tersayang

Masihkah kau marah padaku? Sampai kapan kau akan begini? Tak tahu kah kau ulahmu itu membuatku kesakitan? Sudah lima hari ini kau sungguh tak bersahabat denganku. Pagi, siang dan malam kerjamu hanya merajuk. Membuatku meringis kesakitan, sampai tak bisa makan seharian. Pipiku jadi bengkak bagai menguyah bakpao bulat-bulat jika kau tahu. Kuelus-elus kau agar membaik, tapi tak kunjung juga kau mereda.  Apa salahku, gigi? Tiga kali sehari kubersihkan dirimu, dengan pasta gigi dan obat kumur yang terbaik. Makan pun aku jaga. Coklat, es krim, gulali, kue, dan biskuit jarang kutoleh. Tetapi kenapa kau tiba-tiba marah padaku begini? Jadinya aku tak bisa melakukan apa-apa, kerjanya hanya tidur sambil terus mengelus-elus pipi yang semakin besar karena bengkak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan, padahal si perut meronta-ronta minta diisi, tetapi kau tetap merajuk tak lekas membaik. Kasihlah sedikit pada temanmu si perut itu, pikirkan nasibnya jika aku tak makan. Bo...