Sumber foto: pinterest.com
Waktu SMA, pernah ditanya sama guru agama tentang tujuan manusia hidup di dunia, apa tujuan Allah menciptakan manusia. Jawaban kami, aku dan teman-teman, beragam. Ada yang menjawab sebagai khalifah atau pemimpin di bumi, sampai ada yang jawab untuk makan dan berkembang biak alias menikah lalu memiliki keturunan. Setelah mendengar jawaban berdasarkan pendapat kami masing-masing, Pak Guru kami itu segera menjelaskan. Kalau disuruh report apa aja yang disampain sama Pak Guru, sih, udah pasti lupa, yaa orang hampir enam tahun yang lalu :p. Tapi intinya yang bisa aku tangkap begini: manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya dan juga mencari ridho dari-Nya. Dan sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi dirinya sendiri juga orang lain.
Beribadah, mencari ridho-Nya, dan bermanfaat untuk orang lain. Ketiga katakunci (aku menyebutnya begitu) itu kembali muncul dalam kepala ketika beberapa waktu lalu dalam perjalanan dari rumah ke stasiun, aku ketemu sama bapak-bapak pengamen di angkot. Bapak itu membawa rebana berukuran sedang, memakai kaos dan celana bahan yang udah kelihatan lusuh, peci di kepalanya, dan sendal jepit yang mulai tipis. Perawakannya gempal dengan perut gendut dan pipi tembam. Yang menarik perhatian aku ketika itu adalah rebana yang menjadi alat buat mengamennya, juga si Bapak yang terlihat senyum ke setiap orang yang berpapasan dengannya. Aku bisa tau soal gerak-gerik si Bapak pas angkot masih ngetem di terminal dan si Bapak ada di sekitar angkot yang aku tumpangi, lagi ngobrol sama beberapa calo yang mungkin udah saling mengenal.
Saat angkot mulai penuh penumpang dan siap gas dari terminal, si Bapak siap-siap nangkring di pintu angkot. Tabuhan rebananya mulai kedengaran, lalu dari mulut si Bapak keluar solawat Nabi. Iya, doi ngamennya bukan nyanyiin Selimut Tetangga atau Goyang Dumang, tapi solawat. Memang, sih, suaranya nggak bagus-bagus banget (karena kalau suaranya bagus, si Bapak udah ikut Idol atau KDI :p) tapi dari suaranya itu, aku bisa nebak kalau si Bapak menghayati sekaligus meresapi solawatan yang dia lantunin sendiri. Aku juga jadi ikutan solawatan dalam hati, soalnya udah familiar karena sering dengar dari langgar samping rumah menjelang magrib yang suka 'dinyanyiin' anak-anak yang lagi ngaji. Tiba-tiba suasana pagiku yang biasanya grasak-grusuk ngeburu waktu takut telat, berubah jadi syahdu dan jadi keinget masa dosa-dosa wkwkwkwk :D
Sambil si Bapak menamatkan solawatnya, aku merogoh-rogoh tas ngambil uang ribuan. Aku kasih agak lebihan (maaf, nggak ada tujuan buat pameran sama sekali soal ini) soalnya si Bapak udah ngingetin aku betapa jarangnya aku solawatan. Boro-boro sampe solawatan, niatnya aja jarang nongol huhuhu ;(. Si Bapak ngasih kata-kata penutup di akhir show-nya dan mulai mengangsongkan rebananya yang udah dibalikkan sebagai tempat nyimpen uang yang dikasih para penumpang. Sampe giliran aku yang duduk di pojok, aku dan si Bapak saling lirik, lalu si Bapak ngasih aku senyum lebar. Senyum yang nggak dibuat-buat biar kelihatan baik atau ramah. Senyumnya bener-bener kelihatan tulus. Sampai si Bapak turun, aku masih terus merhatiin si Bapak dari kaca belakang angkot. Tanpa sadar si Bapak merhatiin aku balik dan kembali tersenyum ke arahku sambil menganggukkan kepalanya. Aku jadi kikuk karena ketawan basah merhatiin diem-diem. Tapi sekaligus senang, karena walau nggak seberapa mungkin uang yang aku kasih bisa membantu si Bapak, yang membuat si Bapak kelihatan senang.
Sepanjang sisa perjalanan ke stasiun sampai bahkan udah di dalam kereta, aku masih kebayang-bayang sama si Bapak. Betapa senangnya si Bapak ketika ada penumpang, bilang aja, mengapresiasi usahanya dengan memberinya sedikit kelebihan 'uang receh' yang ada di tas atau saku. Betapa senangnya si Bapak ketika ada orang yang masih membantunya dengan uang yang nilainya nggak seberapa buat dia bawa pulang buat anak istrinya di rumah. Nggak cuma mikirin si Bapak, tapi mikir ke diri sendiri betapa seringnya aku, atau mungkin kalian juga, menganggap remeh dan nggak berharga uang recehan atau ribuan padahal di luar sana banyak orang yang menganggap nilai uang segitu adalah besar, berharga, bernilai buat menyambung hidup sehari-hari. Betapa seringnya kita lebih memfokuskan pada nikmat orang lain yang diberikan Allah kepadanya dibanding nikmat yang telah kita terima dari-Nya. Si Bapak, secara nggak langsung, ngajarin aku lagi buat selalu ingat untuk bersyukur atas apa pun yang telah ditetapkan oleh Allah. Bukannya matematikany Allah berbeda dengan matematikanya kita?
Bukan itu aja, si Bapak juga ngajarin aku buat menjadi sebaik-baiknya orang yang bisa bermanfaat buat orang lain. Satu kecil tindakan kita, belum tentu kecil bagi orang lain, apalagi buat orang-orang seperti si Bapak. Selagi ada, cukup, bahkan berlebih nggak ada salahnya (bahkan diwajibkan, ya?) untuk saling berbagi. Kan, janji Allah adalah siapa yang memberi, sooner or later dia akan menerima atau mendapat gantinya, bahkan yang lebih banyak. Juga, siapa yang mempermudah urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusannya. Semoga ribuan yang nggak seberapa itu bisa bermanfaat si Bapak dan keluarganya dan mempermudah urusannya (mungkin buat beli beras atau ongkos anaknya sekolah, who knows?).
Nah, sekarang timbul pertanyaan, apa buat menjadi orang yang bermanfaat harus dengan uang? Buat aku, absolutely not. As I said before, dengan tindakan kecil yang diniatkan untuk kebaikan bisa dibilang bermanfaat juga, kan? Misal, saat di jalan kamu ketemu seseorang yang ikatan tali sepatunya lepas tapi dia nggak sadar soal itu. Karena kamu berpikir itu akan jadi hal yang berbahaya buat dia, kamu menghampirinya lalu ngasih tau kalau tali sepatunya lepas. See? As simple as that. Terlepas bagaimana responsnya, yang terpenting kita udah mencoba berbuat baik :)
Balik lagi ke si Bapak, karena melihat si Bapak yang sumringah, jadi kayak ada setrum yang nyengat ke hati yang ikut nimbulin rasa senang juga. Soal ini pernah baca di salah satu buku berjudul The Happiness Project (Rubin, Gretchen: 2011), katanya saat melihat orang lain senang atau bahagia, kita juga bisa jadi ikutan bahagia. Mengutip salah satu ocehan Gretchen soal happiness, ada dua point penting di dalamnya, yaitu "If you want to be happy, make other people happy. If you want to make people happy, make yourself happy." Beuh, dalam banget, kan, kata-katanya! Setelah ketemu si Bapak dan melihat reaksinya yang senang, jadi ikutan senang juga, deh. Berarti bisa dibilang teorinya Gretchen dalam bukunya terbukti benar, dong ya! Terus pernah juga dengar di acara Hitam Putih, ada bintang tamu yang bilang, "Kadang saat kita berbagi dan membantu orang lain, bukan untuk melihatnya atau membuatnya bahagia, tapi justru membahagiakan diri kita sendiri."
Mungkin benar adanya kalau saat kita menolong orang lain, ada kebahagian yang kita dapatkan. Kok bisa? Mungkin kebahagiaan yang kita dapatkan itu timbul sebagai akibat dari perasaan lega dan bebas karena udah menolong atau berbuat baik kepada orang lain yang kadang jadi beban pikiran, antara mau nolong atau nggak. Karena menurutku, pikiran yang bercabang saat dihadapkan dengan dua pilihan itu bikin nggak enak. Nggak enak karena kebayang terus gimana kalau misalnya nggak kita tolong? Gimana kalau misalnya setelah kita berlalu, ternyata masih nggak ada yang nolong juga? Dan gimana-gimana yang lainnya. Nah, karena pikiran-pikiran seperti itu kerasa mengganjal jadinya terlahir ke dalam sebuah tindakan. Tindakan itu yang kemudian meloloskan kita, mungkin, dari rasa bersalah kalau membiarkannya atau yang lainnya.
So, yuk jadi sebaik-baiknya orang yang bisa bermanfaat buat orang lain. Sekaligus menularkan kebaikan kepada sesama. Kayak iklan apa, tuh? Hehehe :p

Iya, kadang kita selalu ngeliat ke atas jadi kurang bersyukur.
BalasHapusKalau di lampu merah sering liat anak kecil jualan tisu, jualan kerupuk, ngamen juga. Padahal waktu aku umur segitu, aku lagi seneng2nya belajar di SD sambil jajan sama temen2, :(
Makin punya rasa ingin berbagi setelah baca tulisan ini. Makasih ya..
Karena seringnya liat ke atas jadi suka ngerasa selalu nggak puas mungkin, ya? Rasa nggak puasnya sama hal-hal yang negatif, kalau terus-terusan dibiarin bisa nimbulin iri dong, ya?
HapusSama...aku suka kasian sekaligus miris liatnya. Mau main atau sekolah aja kudu berjuang sebegitunya, kita dulu nggak perlu mikirin apa-apa, semuanya udah tersedia.
Makasih juga udah mampir dan baca tulisanku :)